Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini
Tradisi Dandangan (10)

Intip Ketan Khas Dandangan Kudus Bermunculan



Reporter:    /  @ 15:54:41  /  23 Mei 2017

    Print       Email

Pedagang makanan intip ketan di lokasi Dandangan Kabupaten Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah pedagang makanan khas Kudus, intip ketan, mulai bermunculan belakangan ini. Kuliner yang berbahan dasar ketan tersebut, kini banyak dijumpai di kawasan Dandangan tahun ini.

Berdasarkan pantauan, sepanjang lokasi Dandangan, lebih dari tiga titik terdapat pedagang intip ketan. Satu dari sekian pedagang intip ketan adalah Muh Jamal (54). Warga Desa Nganguk, Kecamatan Kota. Ditemui di lokasi dagangnya, Jamal mengatakan dirinya berdagang intip ketan belum lama.

“Sebenarnya tahun lalu sudah berjualan, namun hanya saat Dandangan saja, setelahnya itu tak berjalan lagi. Barulah saat beberapa waktu lalu ada Car Free Night Kudus, saya mulai menjajakan lagi intip ketan dan akhirnya saat Dandangan ini saya memutuskan berdagang intip ketan,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (23/5/2017).

Makanan intip ketan mudah ditemui saat Dandangan. Tidak sedikit dari warga yang menyebutnya sebagai makanan khas Dandangan. Dia yang berjualan dekat stan batik Jateng hanya berjualan saat ada kegiatan tertentu di Kudus. Sebab, dirinya harus bisa bagi waktu dengan aktivitasnya jadi buruh pabrik rokok.

“Sebentar lagi saya pensiun, rencananya akan berjualan intip ketan tiap pagi. Karena selain makanan khas Kudus, keberadaannya juga sudah sedikit. Jadi harus dilestarikan,” ujarnya.

Dia mengaku, mendapat resep dari orang tuanya yang sebelumnya juga berjualan intip ketan. Kini usaha tersebut dilanjutkan olehnya dan direncanakan akan diwariskan ke anaknya. Adapun bahan yang dibutuhkan untuk makanan intip ketan adalah ketan, santan, kelapa dan bumbu lainya. Untuk satu porsi, intip ketan dibanderol dengan harga Rp 2 ribu.

Dalam sehari, rata-rata dia menghabiskan satu hingga dua kilogram keta. Jumlah tersebut dihabiskan dalam waktu yang cukup singkat selama Dandangan. “Saya berdagang intip ketan mulai habis ashar sekitar jam 15.30 WIB. Kemudian dagangan saya tutup sekitar jam 22.00 WIB atau saat intip ketan habis terjual,” ujarnya.

Saat berjualan, dia dibantu oleh istrinya. Untuk satu kilogram ketan, biasanya akan jadi intip ketan sejumlah 55 porsi. Dia menyetok beberapa intip ketan yang sudah matang, sehingga pembeli tak perlu menunggu saat membelinya.

“Sebenarnya intip ketan paling enak saat hangat-hangat. Jadi rasanya lebih enak ketimbang sudah dingin. Sehingga saat kami menjajakan yang sudah matang jumlahnya juga tak banyak,” jelasnya.

Dia berharap makanan khas tersebut tak punah. Karena, menjadi salah satu bentuk kekayaan kuliner Kudus.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Pemerintah Desa Tlogitirto Grobogan Masukkan Program Droping Air Lewat APBDes

Selengkapnya →