Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Virus Komputer Wannacry Belum Serang Jawa Tengah. Ini Penjelasannya



Reporter:    /  @ 21:14:45  /  17 Mei 2017

    Print       Email

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Grobogan  – Heboh serangan virus komputer Ransomware Wannacry diyakini belum sampai wilayah Jawa Tengah. Hal itu disampaikan Direktur Indonesia eFraud Watch (IEW) Solichul Huda lewat siaran pers yang dikirimkan lewat email, Rabu (17/5/2017).

“Sempat muncul kejadian di Bulog Batang. Tetapi virus itu bukan Wannacry. Ciri utama virus tersebut tidak menghapus atau menghilangkan tetapi hanya mengunci (enkripsi) pada bagian tertentu atau seluruhnya,” jelasnya.

Dari hasil analisis kerusakan sistem informasi, virus tersebut dimungkinkan berkerja dengan dua cara. Pertama, virus tersebut mengubah kode file. Setiap file memiliki kode yang unik, jika kode file tersebut diubah maka file tersebut tidak dapat dibuka oleh aplikasi. Dalam beberapa kasus seperti di rumah sakit RS Kanker Dharmais Jakarta, jika kode file pasien diubah, maka aplikasi rumah sakit secara otomatis tidak dapat membuka file.

Cara kedua, virus tersebut bekerja dengan mengubah bentuk data ke dalam bentuk lain. Dalam teori keamanan sistem komputer dikenal dengan istilah enkripsi. Seandainya cara ini pakai oleh virus wannacry, bisa dipastikan virus tersebut memiliki kapasitas yang besar dan butuh memori yang cukup besar. Selain itu, otomatis virus tersebut butuh waktu yang cukup lama untuk mengenkripsi data pasien yang dijangkitinya.

“Melihat fakta yang ada, kemungkinan virus Ransomware menggunakan cara yang pertama,” katanya.

Lebih lanjut, doktor keamanan komputer lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini mengungkapkan, penebar virus sulit dijerat pidana. Bahkan tergolong mustahil untuk hukum di Indonesia. Dalam Undang-undang 11/2008 yang diperbaiki dengan UU nomor 19 tahun 2016 tentang  ITE, belum ada pasal yang menjerat penebar virus.

Menyikapi kejadian ini, semestinya pemerintah bersama DPR dan Polri sesegera mungkin memperbaiki UU ITE tersebut. Jika dipandang mendesak, Presiden perlu mengeluarkan peraturan yang mengatur akses data atau dokumen digital yang dapat menjerat pembuatan virus Ransomware atau sejenisnya.

Perbuatan kejahatan siber ini sudah lama muncul dan meresahkan masyarakat. Lembaga-lembaga siber yang telah ada di berbagai lembaga seperti Polri dan Kementrian Pertahanan agar bekerja sama dengan Kementrian Komunikasi dan Informasi untuk melawan serangan virus ini.

“Saran saya jangan sampai membayar kalau terdeteksi file terinveksi virus. Entah itu Wannacry atau lainnya. Membayar itu, tidak lantas file bisa dibuka, tetapi malah melemahkan daya tawar,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Begini Latar Belakang Kades Penawangan Pemasang Ratusan Lampu Sebagai Pengusir Hama

Selengkapnya →