Loading...
You are here:  Home  >  Opini Warga  >  Artikel ini

Etika Politik Sunan Kudus dalam Kemajemukan Bangsa



   /  @ 15:55:13  /  9 Mei 2017

    Print       Email

Bin Subiyanto M. Pendamping  Transportasi Wisata dan UMKM  kawasan Menara Kudus

SEPULUH tahun  terakhir  jumlah rombongan peziarah ke makam Sunan Kudus di bilangan Kudus Kulon  meningkat sangat luar biasa. Angkanya sepuluh  kali lipat dari  tahun sebelumnya. Rata- rata setiap hari  7.954  peziarah. Data itu merupakan hasil penelitian penulis 100 hari  dalam tahun 2016, kecuali pada Ramadan.

 

Planologi Islam         

Setiap hari, ruas jalan di depan kompleks masjid Menara Kudus,  berjajar mobil parkir. Saking padatnya, kendaraan meluber ke jalan  di luar kawasan. Oleh karenanya,  pemkab  akan menata lokasi wisata religi tersebut agar bisa mewadahi membeludaknya peziarah.

Tercatat  terdapat 500 becak wisata  dan 800 ojek  yang bersiklus mengantar peziarah dari dan ke terminal induk wisata.

Setelah turun di kawasan Menara  semua rombongan ziarah yang berasal dari segala penjuru kota segera bersimpuh mendekat dan membaca doa,tahlil untuk Kanjeng Sunan Kudus. Selesai doa, peziarah beralih meninggalkan makam, berseloroh dahulu di serambi sebelah kanan dan kiri  Maqsjid Al Aqsa. Hampir sebagian besar berfoto selfie dengan latar Menara Kudus.

Sebelum pulang, peziarah biasanya menunaikan salat wajib dan sunnah lebih dulu. Kemudian rombongan berjalan  meninggalkan masjid, makam dan menara Kudus. Mereka lantas naik becak wisata dan ojek yang parkir di Taman Menara.

Bangunan Taman Menara  merupakan wajah baru  yang  semula  adalah peninggalan “Kota Awal”  di masa Wali Kanjeng Sunan Kudus. Ada pohon beringin yang sekarang masih  kokoh.  Yang  pada masa wali, pohon untuk mengikatkan tali sapi. Saat itu,  Sunan Kudus kerap memberi  penjelasan tentang sikap toleransi  sosial keagamaan. Termasuk kepada pemeluk agama hindu.

Konon, dari tahun ke tahun, pohon beringin membesar  dan bersamaan itu pula lokasi tersebut berkembang menjadi pusat kota awal Kota Kudus. Ada pasar, transportasi berupa dokar krangkeng, dokar putri, dan dokar  manten. Semuanya ditarik oleh satu kuda sejenis andong.

Di masa Awal Kota Kudus berdiri,  di sekitar beringin Menara  tidak pernah ada bencana, panas terik ataupun banjir. Kedamaian perdagangan  tercipta karena suasana santri yang mengutamakan bersih diri dan bersih hati, termasuk mereka kalangan pedagang.       

Setiap hari, pada masa Sunan Kudus atau Syekh Jakfar Sodiq ,pada  Abad XV, sesudah salat subuh, biasanya jemaah berjalan-jalan, semacam kegiatan ‘Car Free Day’. Di sana ada  keindahan suasana pagi saat para pedagang menggelar  berbagai dagangan.

Biasanya, pedagang menggelar dagangan dengan meja seadanya, tikar buatan sendiri, dan kursi dingklik duwur.

Dokar andong putri berlalu –lalang. Dari arah barat dan utara terkadang parkir di dekat Menara. Dari dokumen  jurnalis Belanda, menemukan  potret, ada dua andong dan sejumlah sais/kusir sedang bergaya di depan Menara.

Pasar Beringin Menara, peninggalan Sunan Kudus , dalam analisa Planologi  sesudah abad  XV,  diperkirakan merupakan bagian penting  embrio kota. Dengan Alun-alun di tengah, berupa lapangan, dan sebelah  barat  adalah masjid (Menara).

Sedangkan   sebelah utara rumah para pemuka ulama, wali, dan sunan. Dengan sebutan daerah  ndalem, lalu sekarang  dinamakan  Kelurahan Langgar Dalem. Penataan tersebut mengalami pergeseran selama  lebih dari 200 tahun.

Oleh sistem pemerintahan kolonial, semua tatanan  kota awal tersebut berubah dengan model  kadipaten.  Hanya Pasar Menara  yang masih dipertahankan oleh rakyat Kudus,  hingga lahirnya para  usaha jenang,  serta para pedagang kecil dan usaha lain yang terkait di akhir abad XIX – awal abad XX.

Di pasar inilah para pedagang kecil, dengan wadah tampah  berjualan  jadah pasar, jajanan  tradisional seperti  jenang lunak  atau bubur jenang, gethuk, cethot, orog-orog kelapa, pecel, klepon Jowo dan lain-lain. Ada juga alat rumah tangga, pisau, gunting, dan jarum benang.

Pada akhir abad XIX  seringkali  para kiai pun singgah  ke bakul-bakul  jajan di pasar.  Demikian dekat ulama dengan rakyatnya. Para kiai ingin mendengar suara hati  rakyat,  terlebih karena para beliau saat itu sedang merencanakan pembangunan  serambi besar bagian depan Masjid Menara yang sekarang melindungi  Lawang Kembar depan.

Dengan potret kehidupan pedagang, santri dan etika  yang berlaku di seputar  masjid Menara  maka tergambar  nuansa Kudus. Yakni Kudus dalam identitas bagus artinya santun, beradab,jujur,  dan rajin mengaji, serta pintar dagang  disingkat gusjigang.

 

Nasionalisme         

Dalam catatan sejarah terungkap bahwa  di lingkaran  beringin Menara, jauh sepeninggal Sunan Kudus ,tradisi wali itu  dilanjutkan oleh  para kiai, pengusaha muslim dan pemuda sekolahan Belanda,  serta  Jemaat Klentheng (Warga Cina )  yang letaknya di sebelah timur Menara.

Mereka  sering melakukan “Njagong” atau diskusi ringan  untuk menata kehidupan Kota Kudus sebelum menjadi bentuk kabupaten.

Sedemikian kebersamaan  etnis  serta  kerukunan antar dan  inter umat beragama  terjalin sejak dahulu. Masyarakat  Kudus berkarakter sosial kritis . Tidak mudah dipengaruhi, kokoh dalam prinsip, dan tidak bisa ditawar. Tidak heran jika  integritas  masyarakat Kudus tetap utuh  hingga kini.

Dalam perspektif  psikologi agama, pemeluk Islam di Kudus sangat  fanatik    terhadap akidah keimanan  serta prinsip syariahnya. Tetapi tidak ada sikap- membenci  agama lain. Pengamalan Islam diterjemahkan dalam sikap damai dalam sozial dan saling menjaga kenyamanan bermasyarakat. 

Namun bisa pula  bereaksi ekstrim  manakala  terganggu ibadahnya  dan dihina simbol  serta tokoh panutannya. Hal ini pernah  terjadi  saat konflik etnis pada 10 oktober 1918. Tetapi itu  dengan cepat  segera reda. Saat itu berkat  tokoh berpengaruh  yang  bisa melerai, yaitu  H Oemar Said Tjokroaminoto ( HOS Tjokroaminoto- Guru Keislamannya Bung Karno). 

Jadi  kesimpulannya   ada beberapa butir ajaran wali dalam sozial keIslaman. Bahwa selain ada toleransi   terhadap  umat beragama lain, juga rasa kebersamaan. Tidak mempersoalkan  perbedaan etnis dan  warga lain ketika  membangun kota atau Negara. Itulah dasar-dasar nasionalisme Sunan Kudus  yang hendak diturunkan  pada umat Islam.

Sehingga  bisa dikatakan  bahwa Sunan Kudus  memiliki konsep Etika Politik  membangun kota (Negara) dalam kemajemukan. Dan prinsip menjunjung  pluralitas atau kemajemukan itulah yang kemudian di abad XXI ini menjadi salah satu  unsur  cikal bakal  yang melahirkan  Islam Nusantara. 

Oleh karena itu sebagai pengikut Kanjeng Sunan Kudus  tidak elok lagi dalam kancah politik apa saja meluruhkan  kesadaran kemajemukan dalam Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

(Bin Subiyanto M, Direktur PADERI (Pusat Analisis Demokrasi keRakyatan Indonesia),   Pendamping  Transportasi Wisata dan UMKM  kawasan Menara Kudus. Artikel ini dimuat di MuriaNewsCom, Selasa 9 Mei 2017)

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Pemkab Kudus Anggap Kenaikan Harga Jelang Akhir Tahun Wajar

Selengkapnya →