Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Teater Ruji Kudus Pentaskan Lakon Pasar Kobar



   /  @ 20:00:50  /  4 Mei 2017

    Print       Email

Salah satu adegan dalam pementasan Pasar Kobar yang dimainkan Teater Dewa Ruji di Auditorium UMK. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Teater Dewa Ruji Kudus sukses mementaskan lakon Pasar Kobar karya Eko Tunas, di Auditorium Universitas Muria Kudus, Rabu (03/5/2017).

Naskah menceritakan tentang sebuah pasar yang terbakar. Diketahui bahwa terbakarnya pasar tidak murni kecelakaan. Itu karena ada niatan mengejar target pembangunan dan relokasi sebagaimana kehendak penguasa.

Pedagang hanya mampu meratapi kondisi. Mereka hanya bisa melawan semampunya, meski akhirnya kalah juga. Mereka berpendapat, penggusuran dan pemindahan pasar bukanlah suatu jalan terbaik.

Naskah itu juga berkisah tentang perlawanan kaum urban yang menolak pembangunan dan penggusuran pasar. Salah satu tokohnya, Lek Paidi, sebagai sesepuh pasar dan simbol rakyat merasa pembangunan itu penuh dengan intrik dan kepentingan salah satu golongan. Ia kemudian mengutuk para pemangku kebijakan yang akhirnya memantik sumbu api.

Den Bagus adalah simbol kaum intelektual yang digilakan oleh penguasa. Ketakutannya terhadap segala kemungkinan risiko dan kepada penguasa membuat Den Bagus kemudian diperalat Demang (pengurus pasar atau penguasa). Pada akhirnya dialah yang kemudian membakar pasar itu sehingga para penghuninya terpaksa pindah.

Sutradara, Dono, mengungkapkan proses ini dilatar belakangi adanya kebutuhan dan keinginan untuk pentas sekaligus menyampaikan gagasan kepada publik. Keinginan kuat dari para anggota itu kemudian ditentukan dengan pilihan naskah yang relevan.

Naskah itu disadur untuk dipentaskan yang disesuaikan dengan realitas kehidupan pasar yang ada di Kudus dan sekitarnya. “Proses itu menghabiskan waktu selama enam bulan dan dipentaskan keliling ke Sudo di Kandang Mas, Jepara dan mungkin terakhir malam ini di sini (Auditorium UMK),” kata Dono.

Sementara itu, Asa Jatmiko, pakar seni teater di Kudus mengapresiasi pementasan ini. Menurutnya pilihan mengangkat kembali naskah ini sangatlah relevan. Di tengah maraknya pembangunan infrastruktur, utamanya pemindahan pasar, terkadang pemerintah memang tidak begitu jeli memerhatikan kaum urban.

“Para pegiat teater di Kudus supaya betul memerhatikan gagasan yang diusungnya kala pentas. Terkadang ini jarang diperhatikan oleh teaterawan. Masih banyak yang beranggapan bahwa pentas hanya sekadar pentas dan mendapat tepuk tangan penonton. Ttetapi juga harus ada nilai dan gagasan yang sampai kepada masyarakat,” ujar Asa.

Anggota Teater Dewa Ruji, M Ulul Azmi mengatakan, pemilihan naskah itu berangkat dari kegelisahan para anggota. Teater Dewa Ruji merupakan komunitas teater lokal Kudus yang digawangi oleh anak-anak muda dari lereng Pegunungan Muria yang selalu resah dengan keadaan. Sewajarnya kaum muda, pikiran mereka tak pernah berhenti mengkritisi kebijakan. Amat liar dan hampir tidak peduli batasan.

“Mereka selalu mengeksplorasi detil kehidupan dalam mematangkan keterampilan seni peran yang mereka tekuni. Banyaknya persoalan di negeri ini membuat Teater Dewa Ruji semakin produktif dan getol menampilkan gagasannya melalui seni teater,” kata Azmi.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Pelaku Korupsi Tidak Bisa Dipandang dari Latar Belakangnya, Begini Penjelasannya

Selengkapnya →