Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Kekuasaan Pati Disebut Membentang dari Kediri Hingga Salatiga pada Era Wasis Jayakusuma



Reporter:    /  @ 15:30:44  /  29 April 2017

    Print       Email

Suasana pusat pemerintahan Kabupaten Pati, Sabtu (29/4/2017). Pada era Wasis Jayakusuma, kekuasaan Pati disebut pernah membentang dari Kediri hingga Salatiga.(MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pegiat sejarah Pati mengungkapkan fakta mengejutkan tentang Pati. Salah satunya, wilayah Pati disebut pernah membentang dari Kediri hingga Salatiga.

Kondisi itu berlangsung sekitar abad ke-16, di mana kekuasaan ada pada tangan Raden Siddieq Nurul Yaqin atau dikenal dengan Wasis Jayakusuma, putra Ki Ageng Penjawi. Mbah Wasis, begitu pegiat sejarah Pati memanggilnya, disebut-sebut sebagai raja pertama dan terakhir kekuasaan Pati yang membentang dari Kediri sampai Salatiga.

Hal itu disebabkan adanya perang saudara dengan kerajaan baru, yaitu Mataram. Kerajaan Mataram dibangun Danang Sutawijaya yang tak lain kakak ipar Wasis atau menantu Ki Ageng Penjawi, karena dia menikah dengan Waskita Jawi.

Salah satu pegiat sejarah Pati, Sugiono mengatakan, Pati yang membentang dari Kediri sampai Salatiga itu bernama Bumicha Patyamcha. Wilayah yang membentang luas itu berakhir, setelah adanya perang saudara dengan Mataram yang berawal dari perebutan kekuasaan.

“Kemungkinan, Bumicha Patyamcha berasal dari bahasa Pali yang berarti Bumi Pati. Sumber perpecahan Pati karena perebutan wilayah Kediri dengan kerajaan saudaranya sendiri, Mataram,” ungkap Sugiono, Sabtu (29/4/2017).

Menurut sumber yang ia peroleh, kekalahan Pati bukan persoalan kekuatan, karena Pati waktu itu punya pasukan dan bala tentara yang kuat hingga menundukkan Madiun dan melepaskan diri dari kekuasaan Pajang pimpinan Joko Tingkir. “Kekalahan Pati karena lemahnya intelijen yang tidak bisa mendeteksi bahwa Mataram bersekutu dengan Portugis,” tutur Sugiono.

Dalam konteks ini, dia mendapatkan sumber literasi dari Babad Kabanaran yang didukung dengan metode metahistoris. Sejarah itu tidak terdapat dalam kisah babad atau cerita tutur, karena Pati dalam kekuasaan kolonialisme setelah itu. Akibatnya, fakta-fakta sejarah tentang Pati banyak dikaburkan, bahkan dikubur pihak kolonialisme.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Bupati Grobogan Minta Dukungan Pusat dan Pemprov untuk Tuntaskan Perbaikan Gedung SD Rusak

Selengkapnya →