Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Makam Sunan Pati di Desa Metaraman jadi Sorotan Sejarawan



Reporter:    /  @ 13:00:59  /  28 April 2017

    Print       Email

Makam Sunan Pati di Desa Metaraman, Margorejo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada makam keramat di Desa Metaraman, Kecamatan Margorejo, Pati yang saat ini menjadi sorotan sejumlah pegiat sejarah di Pati. Penduduk setempat mengenalnya Mbah Ali atau Sunan Pati.

Ada tiga makam yang berada di dalam kompleks bangunan bercat hijau dengan keramik hijau. Bagian bawah nisan makam dicat hitam, atasnya putih dengan dibungkus kain mori putih pada kedua penanda pusara.

Pegiat sejarah Pati, Sugiyono mengungkapkan, Sunan Pati bernama Ali Nurul Yaqin, putra Abdullah Nurul Yaqin dan cucu Mohammad Nurul Yaqin. Dalam literasi sejarah, Ali Nurul Yaqin dikenal sebagai Sunan Ngerang ketiga, yaitu cucu dari Sunan Ngerang pertama.

Sunan Ngerang ketiga itulah yang melahirkan Ki Ageng Penjawi, tokoh legendaris asal Kadipaten Pati. Dalam dunia sejarah versi Babad Tanah Jawi, Ki Ageng Penjawi dikenal sebagai pendekar “tiga serangkai” bersama Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Mertani.

“Setelah Ki Penjawi dewasa dan cukup umur, beliau diangkat menjadi penguasa Kadipaten Pati, sebuah tanah merdeka, berdiri sendiri setelah melepaskan diri dari Kerajaan Pajang pimpinan Joko Tingkir,” ungkap Sugiyono saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Jumat (28/4/2017).

Saat memimpin Pati, Ki Penjawi menempatkan ayahnya, Sunan Pati menjadi imam atau sering disebut panotogomo, yang berarti penata agama. Sementara Ki Penjawi, putranya sebagai panotogoro, penata negara.

“Konsep kenegaraan seperti ini sama yang diterapkan Kesultanan Demak, sejak Bupati Pati pertama bernama Kayu Bralit. Dalam sistem kesultanan, ada yang namanya panotogomo dan panotogoro. Ada semacam pimpinan yang khusus menata agama dan negara,” imbuhnya.

Ditanya soal parameter sejarah yang digunakan, Sugiyono mengaku mendapatkan dari sumber sejarah seperti Suluk Walisongo, catatan De Graaf, serta metahistoris. Menurutnya, metode metahistoris diakui sangat penting karena berfungsi sebagai penunjuk untuk menelusuri jejak sejarah.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

2 Perwira Polres Grobogan Berganti Wajah, Ini Sosoknya

Selengkapnya →