Loading...
You are here:  Home  >  Opini Warga  >  Artikel ini

Menghayati Makna Isra Miraj  



   /  @ 17:47:56  /  24 April 2017

    Print       Email

M Agus Yusrun Nafi’, S. Ag, M. Si adalah Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Kankemenag Kabupaten Kudus

ISRA Miraj di kalangan santri dan pesantren merupakan hal yang wajar, dan bersifat rutin diadakan pada 27 Rajab. Yang di dalam kajian peringatan, biasanya dibahas  tentang bagaimana Nabi Muhammad SAW melaksanaan Isra dan Miraj untuk menghadap Allah SWT, disertai dengan pengalaman Rasulullah melakukan perjalanan tersebut. Hingga akhirnya mendapatkan amanat untuk diri dan umatnya berupa kewajiban pelaksanaan salat lima waktu tiap hari.

Namun di sisi lain, ternyata perjalanan Isra Miraj Rasulullah mempunyai makna yang luas. Di samping makna normatif yang terbiasa terbaca dan terdengar oleh masyarakat, yakni makna psikologis. Karena itu perlu diketahui supaya masyarakat sangat detail dan holistik dalam memahami makna perjalanan Isra Miraj Rasulullah.

Ini berarti Isra Miraj merupakan perjalanan psikologis yang perlu diketahui umat Islam sebagai bentuk pemahaman perjalanan. Supaya dapat dielaborasikan dengan makna yang lain dan mendapatkan pemahaman yang luas, dan bisa direalisasikan di kalangan masyarakat Islam Indonesia.

Menghayati Makna Isra Miraj

Salah satu problem pemahaman peringatan Isra Miraj yang kita hadapi selama ini adalah, bagaimana peringatan tersebut dilaksanakan dengan baik sehingga masyarakat yang mengikuti peringatan tersebut ada perubahan yang signifikan dan positif dalam kehidupan kesehariannya setelah mendengarkan pemaparan kajian.

Perjalanan Isra Miraj kalau dikaji mengandung beberapa dimensi penghayatan makna di dalamnya. Pertama, Tes Keimanan. Fenomena tes merupakan hal yang bersifat hukum alam (sunatullah). Misalkan orang yang akan masuk di perguruan tinggi seperti saat ini harus mengikuti tes seleksi masuk di perguruan tersebut. Hal tersebut terjadi pada keyakinan umat Islam dalam meyakini perjalan Isra Miraj. Di mana Nabi Muhammad setelah melakukan Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian melakukan Miraj ke langit ke tujuh dan sampai ke Sidratul Muntaha.

Peristiwa tersebut memberikan ujian keimanan atau tes dengan sesuatu yang bersifat gaib, sehingga akal hanya sarana untuk memahami sesuatu. Tidak sampai dengan mendewasakan akal. Dan yang paling tepat untuk memahaminya dengan pendekatan iman dan ciri orang bertaqwa adalah salah satunya iman kepada yang gaib.

Kedua, transportasi perjalanan. Ketika Rasulullah SAW sedang tidur di Kakbah kemudian didatangi dan dibangunkan oleh malaikat Jibril serta memberikan kendaraanya yang disebut buraq dan diillustrasikan dengan bentuk lebih besar daripada keledai tetapi lebih kecil dari bagal, dan kecepatannya seperti kecepatan perjalanan cahaya bahkan mungkin bisa lebih.

Secara psikologis, dapat diartikan kalau seseorang ingin melakukan sesuatu harus ada sarana yang akan yang dipergunakan untuk perjalanan tersebut. Salat merupakan sarana orang yang beriman dalam perjalanan menghadapi hidup ini dan senantiasa harus konsisten, jejek, istikamah mulai awal sampai akhir.

Ketiga, guide (penunjuk jalan). Dalam setiap hal dibutuhkan suatu petunjuk, misalnya ketika ingin berpergian membutuhkan sarana, peta, kompas untuk menunjukan ke mana arah kita pergi. Hal tersebut bisa dilihat dalam perjalanan Isra Miraj Rasulullah yang disediakan guide yang istimewa oleh Allah SWT berupa malaikat Jibril yang senantiasa mendampingi dan memberi instruksi dalam melaksanakan perjalanan tersebut menuju Sang Pencipta Alam.

Keempat, perlu bekal dan kesiapan. Di samping membutuhkan sarana dan petunjuk jalan, seseorang yang akan melakukan perjalanan memang harus siap atau dipersiapkan. Hal ini digambarkan dalam perjalanan Isra Miraj, sebelum berangkat, Nabi disiapkan dengan jalan dibedah oleh malaikat Jibril sebagai lambang insyiroh (lapang dada), kemudian dicuci dan dibersihkan hatinya dengan iman, islam dan ilmu serta hikmah sebagai bekal hidup dalam penghambaan ke Allah.

Kemudian disediakan dua minuman, yakni satu gelas berisi arak dan satu gelas berisi susu segar, kemudian Nabi memilih susu segar. Hal tersebut menggambarkan, Nabi memilih Islam sebagai agama fitrah, tauhid dan murni. Sedangkan minuman yang berisi arak dan tidak dipilih oleh Nabi merupakan permasalahan yang dijauhinya, bahkan sampai sekarang ini menjadi permasalahan yang sangat serius melanda semua negara termasuk Indonesia seperti penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya.

Kelima, berhenti pada tempat tertentu. Dalam setiap perjalanan tentunya kita akan melewati suatu daerah dan berhenti pada suatu daerah tertentu yang dikenal dengan istilah pos atau bila menggunakan kendaraan bermotor akan berhenti terminal. Demikian pula Nabi oleh malaikat Jibril diminta untuk berhenti pada tempat tertentu misalnya thoibah, madyan, thursinai, baitul lahin, baitul maqdis.

Di samping itu, Nabi menjumpai para nabi pada setiap langitnya dan juga mengimami para nabi dan rasul. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan umat manusia ini ada suatu kesinambungan antara satu dengan yang lain, dan memang diakui bahwa para nabi dan rasul membawa risalah yang sama, yaitu agama tauhid dan juga simbol globalisasi.

Keenam, wisata (religius). Saat ini diakui oleh para ahli psikologi bahwa wisata merupakan kebutuhan jiwa. Di samping itu rekreasi juga merupakan terapi kejiwaan, hal ini dialami oleh Nabi yang menurut kacamata manusia biasa mengalami kesedihan pada saat cobaan dari Allah datang bertubu-tubi. Cobaan dari para kaum kafir quraisy yang menyiksa bahkan membunuh umat Islam, ditinggal mati oleh dua orang yang terkasih yaitu Siti Khadijah dan Abu Thalib.

Sehingga pada saat tidur di kakbah, datanglah malaikat Jibril dengan membawa buraq untuk mengajak Nabi SAW berwisata religius, seolah-olah Allah akan menghibur sekaligus menunjukkan ayat-ayat kekuasaan Allah. Dan sekarang ini mulai dikembangkan dengan wisata religius di dunia pariwisata.

Ketujuh, oleh-oleh dari sebuah perjalanan. Sebagai manusia biasa, seseorang akan terikat oleh hukum alam, salah satunya adalah orang akan menanyakan buah tangan dari sebuah perjalanan aktivitas. Demikian juga Nabi Muhammad setelah melakukan Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian melakukan Miraj ke langit ketujuh dan sampai ke Sidratul Muntaha.

Peristiwa tersebut, menandai bahwa Rasulullah SAW telah mencapai derajat yang tidak dapat disanggupi oleh malaikat Jibril dan membuktikan bahwa manusia memang diciptakan pada posisi yang paling terhormat, paling baik dan paling mulia.

Dan hasil akhir perjalanan Isra Miraj adalah memperoleh perintah secara langsung dari Allah SWT yaitu perintah salat sebagai alat penghubung langsung antara bumi dan langit, dan merupakan kontak antara makhluk dengan khaliq.

Demikian gambaran perjalanan Isra Miraj yang mempunyai makna yang mendalam dan bisa direalisasikan oleh umat Islam Indonesia dalam menata diri sendiri, masyarakat dan bangsa Indonesia, semoga bermanfaat, amiin. (*)

(M Agus Yusrun Nafi’, S. Ag, M. Si juga Pengasuh Pondok Pesantren Putra Putri Sirajul Hanan Jekulo Kudus. Artikel ini dimuat MuriaNewsCom, Senin 24 April 2017).

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Asyiknya Nge-Jazz Sambil Berkubang Lumpur

Selengkapnya →