Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Desain Pusat Kuliner Purwodadi Sudah Disepakati, Ini Penampakannya



Reporter:    /  @ 17:04:37  /  18 April 2017

    Print       Email

Begini penampakan DED pusat kuliner yang akan dibangun di bekas lahan Pasar Pagi Purwodadi. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Grobogan – Proyek pembangunan pusat kuliner di bekas lahan Pasar Pagi Purwodadi, Grobogan, dalam waktu dekat akan segera dilelangkan. Hal ini menyusul sudah disepakatinya detail engineering design (DED). Kesepakatan mengenai DED berlangsung dalam rapat koordinasi yang dipimpin Sekda Grobogan Moh Sumarsono, Selasa (18/4/2017).

Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Grobogan Sudarso menuturkan, pusat kuliner akan dibangun di lahan bekas Stasiun Kereta Api Purwodadi seluas 6.041 meter persegi. Sebelumnya, lahan tersebut dipakai jualan pedagang pasar pagi sebelum direlokasi di tempat baru di jalan Gajah Mada. “Tadi, ada rakor yang melibatkan berbagai instansi terkait. Dalam rakor tadi sudah disepakati mengenai DED pusat kuliner,” jelas Sudarso, usai rakor.

Setelah DED disetujui, selanjutnya akan dilakukan persiapan lelang. Pembuatan pusat kuliner nanti dialokasikan dana sekitar Rp 4 miliar. Sesuai DED, dalam pusat kuliner nanti akan dibangun 10 blok tempat jualan. Masing-masing blok ada 10 kios dengan ukuran 3 x 5 meter. Sehingga total kios ada 70 unit.

Dalam pusat kuliner nanti juga disediakan tempat parkir yang luas. Yakni, mampu menampung 200 motor dan 29 mobil dan kapasitas pengunjung hingga 900 orang. “Dalam pusat kuliner juga dilengkapi taman kecil untuk bersantai. Selain itu, fasilitas umum seperti toilet juga sudah disiapkan,” jelasnya.

Dijelaskan, setelah pembangunan berikut fasilitasnya selesai, pusat kuliner nanti akan disewakan kepada pedagang yang menginginkan. Termasuk, para PKL juga dibolehkan untuk menyewa tempat di pusat kuliner nanti.

“Kalau ada PKL di jalan R Soeprapto yang mau sewa, diperbolehkan. Kami tidak ada rencana untuk merelokasi mereka. Konsep pusat kuliner nanti diperuntuhkan buat pedagang yang mau sewa saja. Jadi, isu pusat kuliner untuk relokasi PKL itu tidak benar,” jelasnya.

Menurut Sudarso, sistem sewa diterapkan karena dinas dituntut menyumbang pemasukan ke daerah setelah menyewa lahan dari PT KAI. Keharusan adanya pemasukan itu berdasarkan saran dari Badan Pemeriksa Keuangan.

Sudarso menambahkan, lahan yang digunakan untuk pusat kuliner disewa dari PT KAI dengan biaya sekitar Rp 246 juta per tahun. Biaya tersebut nanti akan dibebankan pada pedagang yang menyewa kios.

“Dari perhitungan sementara, biaya sewa kios ketemunya sekitar Rp 3,5 juta per tahun. Besarnya biaya ini dihitung dari biaya sewa lahan senilai Rp 246 dibagi 70 kios yang tersedia. Untuk angka pastinya nanti ada pemberitahuan resmi,” jelasnya.

 

Editor : Akrom Hazami

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Begini Penjelasan KH Anwar Zahid Terkait Pentingnya Bersyukur saat Bangun Tidur

Selengkapnya →