Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Petakan Risiko Bencana Daerah, Ini yang Dilakukan LPBI NU Kudus



   /  @ 13:00:18  /  18 April 2017

    Print       Email

Narasumber saat memaparkan keterangannya pada kegiatan Risiko Bencana Daerah, LPBI NU di Kudus, Jawa Tengah, 17 – 21  April 2017. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Nahdlatul Ulama (NU) melalui Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) didukung dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia menyelenggarakan pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana tahap kedua, di salah satu hotel di Kudus, 17-21 April 2017.

Pelatihan ini diikuti oleh 22 orang peserta yang merupakan perwakilan dari BPBD, OPD terkait, LPBI NU, pramuka, PMI, perguruan tinggi yang berasal dari Kabupaten Kudus dan Jepara.

Pelatihan ini merupakan rangkaian kegiatan dari Program Penguatan Kapasitas Pemerintah dan Masyarakat Lokal dalam Kesiapsiagaan Respons Bencana yang Cepat dan Efektif.

Setelah penyelenggaraan pelatihan tahap pertama  memperkenalkan dan mengaplikasikan aplikasi Java Open Street Map (JOSM) yang merupakan sumber terbuka (open sources) sebagai salah satu tools dalam penanggulangan bencana alam, pada tahap kedua yaitu terkait dengan Quantum Geography Information System (QGIS)  dan Ina SAFE.

Output dari pelatihan ini adalah tersusunnya peta risiko bencana atau peta ancaman, peta kerentanan, kapasitas dan juga tersusunya kajian risiko bencana di Kabupaten Barru dan Wajo Sulawesi Selatan.

Adi Widardo mewakili Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Tengah¸ mengingatkan akan pentingya kegiatan pada prabencana.

“Di antaranya  penyusunan  perencanaan dalam penanggulangan bencana dengan mengacu pada kajian risiko bencana. Saat ini masih banyak yang hanya konsen pada saat bencana, untuk itu BPBD Provinsi Jawa Tengah mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada LPBI NU yang telah menfasilitasi penyusunan kajian risiko di Kabupaten Kudus dan Jepara.

Pelatihan dibuka oleh KH Ulin Albab Arwani Rois Syuriah PCNU Kabupaten Kudus. Dalam sambutanya, Ulin menyampaikan  pentingnya pencegahan bencana, sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Alqur an sebagai pedoman agama islam.

“Pelatihan ini merupakan sebuah aksi nyata  dari LPBI NU yang memberikan manfaat kepada umat dan masyarakat utamanya dalam bidang penanggulangan bencana,” tambahnya.

Salah satu tujuan pelatihan ini adalah untuk menerapkan aplikasi JOSM dalam melakukan pengkajian risiko bencana di suatu daerah termasuk di dalamnya memetakan risiko bencana dan mengembangkan skenario dalam melakukan penanggulangan bencana dengan menggunakan perangkat lunak InaSAFE.

Hasil dari kajian risiko tersebut nantinya digunakan sebagai acuan dasar dalam menyusun perencanaan dalam kegiatan dan program penanggulangan bencana suatu daerah atau kawasan.  Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana ini dipandu oleh Humanitarian Open Street Map Team (HOT).

Ketua LPBI NU PBNU, M Ali Yusuf menyatakan untuk menyusun rencana dan aksi penanggulangan bencana yang sistematis, terarah dan terpadu, diperlukan dasar yang kuat untuk pemaduan dan penyelarasan arah penyelenggaraan penanggulangan bencana pada suatu daerah/kawasan.

“Di sinilah letak penting adanya kajian risiko bencana sebagai perangkat untuk menilai kemungkinan dan besaran dampak (korban dan kerugian) dari ancaman bencana yang ada,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Jepara Dapat Jatah Rehab RTLH Dari Pemprov Sebanyak 568 Unit

Selengkapnya →