Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Takut Dibentak Anak Cucu, Nenek Renta Warga Jepara Ini Pilih Hidup Sebatangkara di Gubuk Reot



Reporter:    /  @ 10:39:01  /  9 April 2017

    Print       Email

Mbah Pondeng saat berada di gubuk reot berukuran 4×3 meter. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara –  Nama Mbah Pondeng belakangan sering disebut oleh netizen. Lantaran, nenek renta itu dikabarkan hidup seorang diri dalam gubuk reot. Sedangkan anak cucunya dikabarkan tak pernah kembali. 

Berbekal cerita tersebut MuriaNewsCom pun menyambangi nenek yang tinggal di Dukuh Duren, Desa Tubanan, Kecamatan Kembang. Kala pewarta menyambanginya, sosok renta tersebut tengah tiduran di ranjang bambunya. 

Ia menempati sebuah gubuk kecil berukuran lebih kurang 4×3 meter. Bangunan beratap asbes, berdinding anyaman bambu (gedhek) itu ia tinggali sendiri. Disekitarnya adalah kebun ketela dan kandang sapi. Adapula pohon sawo yang tumbuh didepan gubuk itu. Sementara di kanan kiri, terdapat tumpukan ranting dan beberapa karung plastik. 

Menilik kedalam gubuk, ada sebuah ranjang bambu. Disamping kanan terdapat tungku. Sedangkan pakaiannya, ia biarkan terserak di atas ranjangnya. 

Cukup sulit melakukan obrolan dengan Mbah Pondeng. Selain cadel, terkadang arah pembicaraanya juga tidak fokus, mengingat faktor usia. Namun sesekali gelak tawa masih ia suguhkan kepada lawan bicara. 

Aku duwe anak putu, aku ya mbiyen duwe bojo, Jengene Paini. Tapi wis pejah (saya punya anak dan cucu, saya dulu juga punya suami namanya Paini. Tapi sudah meninggal),” ujarnya.

Ia kemudian bertutur bagaimana dirinya bisa tinggal di gubuk tersebut. Dikisahkannya, sewaktu muda dirinya bertransmigrasi dengan suaminya ke Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Untuk bekal ke tujuan transmigrasi, ia mengaku telah menjual rumah dan tanahnya di kampungnya. 

Setelah menjajal peruntungan di rantau, ia dan suaminya memilih kembali desanya. “Sakwise aku ya mondhok-mondhok karo bojo (Setelah bertransmigrasi saya hidup dengan menumpang dengan suami saya),” kenangnya.

Setelah suaminya meninggal, dirinya mengaku tetap hidup menumpang di tanah milik orang lain. Hal itu ia lakukan karena takut merepotkan anak-anaknya.

” Aku eco manggon dewekan kok , aku nek manggon karo anak lan putu ndak wedi disentak-sentak, sakit lo mas (Saya suka sendiri karena nanti takut menjadi beban. Saya kalau serumah dengan anak dan cucu juga takut dibentak-bentak, sakit lo mas),” ungkapnya.  

Saat ditanya tentang keberadaan anak dan cucunya, dirinya tidak memberikan jawaban dengan jelas.  

Editor: Supriyadi

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Begini Penjelasan KH Anwar Zahid Terkait Pentingnya Bersyukur saat Bangun Tidur

Selengkapnya →