Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Menengok Sentra Pande Besi di Putatsari Grobogan, Kerajinan Turun Temurun yang Sudah Ada Ratusan Tahun Lalu



Reporter:    /  @ 14:00:33  /  9 April 2017

    Print       Email

Wargono, salah seorang pande besi kawakan di Dusun Tahunan, Desa Putatsari, sedang menyelesaikan pembuatan sabit pesanan pelanggan (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Di Grobogan ternyata terdapat sentra pande besi. Tempatnya di Dusun Tahunan, Desa Putatsari, Kecamatan Grobogan.

Di dusun ini, sedikitnya ada 150 pande besi dengan pekerja yang terlibat lebih dari 500 orang. Saking banyaknya pelaku usaha, nama Dusun Tahunan lebih dikenal dengan sebutan Kampung Pande Besi.

Usaha pande besi ini dilakukan jadi satu dengan rumah. Biasanya, lokasi usaha ditempatkan di teras rumah atau membikin gubukan di pekarangan. Saat melintasi jalan kampung terdengar suara bising dari besi yang ditempa atau diasah menggunakan mesin gerinda.

Menurut Wargono (66), usaha pande besi sudah digeluti secara turun temurun. Diperkirakan, usaha pande besi sudah ada di Dusun Tahunan, sejak 200 tahun lalu.

“Saya ini termasuk generasi ketujuh dari leluhur yang jadi pande besi disini. Saya sudah sejak anak-anak sudah membantu orang tua yang juga jadi pande besi. Keahlian pande besi ini didapat secara turun temurun,” terangnya saat ditemui di tempat usahanya.

Diceritakan, pada awalnya, barang yang dibuat leluhur pande besi di Dusun Tahunan berwujud pusaka. Seperti keris dan tombak.

Dulunya, leluhur pande besi merupakan orang kepercayaan untuk membuatkan pusaka Kadipaten Grobogan. Tepatnya, ketika Kadipaten Grobogan masih berpusat di Kecamatan Grobogan dan belum pindah ke Purwodadi.

Seiring perjalanan waktu, sudah tidak ada lagi orang yang bikin pusaka. Sekarang produk yang dibuat berupa peralatan dapur dan alat pertanian. Yakni, pacul dan sabit. “Oleh bapak, saya dilarang bikin keris. Makanya, saya tidak berani melanggar pesan ini,” katanya.

Masrukin, pengusaha pande besi lainnya menyatakan, leluhurnya dulu menurut cerita masih merupakan keturunan Empu Supo. Yakni, seorang ahli pembuat keris pusaka pada era Mataram kuno dan juga murid dari Sunan Kalijaga.“Cerita silsilahnya masih ada. Kalau tidak salah, kakak saya masih menyimpannya,” jelasnya.

Meski banyak yang buka usaha, namun tidak ada kendala dalam masalah pemasaran. Sebab, produk yang dihasilkan sudah ada penampungnya. Penampung itulah yang nantinya memasarkan barang ke berbagai kota.”Harga jualnya bervariasi, tegantung bahan dan kualitas. Barang yang jadi sudah ada yang nampung,” katanya.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Bupati Grobogan Minta Dukungan Pusat dan Pemprov untuk Tuntaskan Perbaikan Gedung SD Rusak

Selengkapnya →