Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

2 Balita Tewas Tersambar KA, Ibunya yang Siap jadi TKI Hanya Bisa Pasrah di Grobogan



Reporter:    /  @ 19:00:52  /  4 April 2017

    Print       Email

Polisi tampak berada di lokasi balita yang tersambar KA di Gubug Grobogan, Selasa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana haru terlihat saat pemakaman kedua korban tewas akibat tersambar kereta api di Kampung Gubug Timur, Desa Gubug, Kecamatan Gubug, Grobogan, Selasa (4/4/2017). Tepatnya, saat ibu korban Apitara Asriyana (4), dan Shaherra Seikha Asriyana (2) bernama Sri Maryani tiba di rumah duka.

Saat kejadian, ibu kedua balita tersebut tidak ada di rumah. Sejak sepekan terakhir, ibunya ada di tempat penampungan jasa TKI di Semarang.

“Ibu kedua korban tadi dijemput kakaknya. Begitu sampai rumah, ibunya langsung lemas karena tidak menyangka ada peristiwa menyedihkan ini. Ibu Sri, usianya sekitar 35 tahun,”kata Kepala Desa Gubug As’adul Munir.

Menurutnya, beberapa waktu sebelumnya, Sri yang punya niatan merantau jadi TKI memang sudah berada di penampungan. Namun, tiap akhir pekan selalu pulang menengok keluarganya.

Baru pada Minggu kemarin, ia dikabarkan tidak pulang. Sebab, harus menjalani masa karantina. Soalnya, dalam beberapa hari mendatang sudah akan terbang ke luar negeri.

“Ibu korban terakhir pulang tanggal 26 Maret lalu. Minggu kemarin tidak pulang karena sudah dikarantina. Biasanya, menjelang berangkat calon TKI menjalani masa karantina. Mengenai negara tujuan jadi TKI, saya kurang tahu. Warga sini biasanya jadi TKi ke Taiwan atau Malaysia,” jelasnya.

Seperti diberitakan, kedua balita perempuan yang tinggal di wilayah RT 05, RW 12 tersebut tewas akibat tersambar kereta barang sekitar pukul 08.00 WIB. Peristiwa kecelakaan maut terjadi sekitar 700 meter di sebelah timur Stasiun Gubug.

Sebelum kejadian, kakak beradik itu dikabarkan hendak menyusul bapaknya Daryanto (40), yang sedang berada di warung tetangganya. Warung tersebut berjarak sekitar 250 meter dari rumah korban dan dipisahkan tenggangan sawah. Kedua balita tersebut berjalan menyusuri bantaran pinggir rel untuk menyusul bapaknya. Bagi warga setempat, memang sudah biasa berjalan menyusuri pinggiran rel, termasuk anak-anak.

Saat separuh perjalanan menuju warung, dari arah barat (Semarang) sudah terlihat akan ada kereta yang melintas. Beberapa petani yang saat itu ada di sawah sempat mengingatkan kedua balita tersebut supaya menjauh karena ada kereta mau lewat.

Namun, peringatan itu kemungkinan tidak terdengar oleh kedua bocah tersebut. Hingga akhirnya, kedua bersaudara itu terserempet bodi rangkaian kereta barang sampai terpental di areal bebatuan di pinggir lintasan. Akibat terserempet bodi kereta, kedua korban mengalami luka parah dan meninggal dunia.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : NGERI, 2 Balita Tewas Tersambar Kereta Api di Gubug Grobogan

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Wabup Pati Sidak di Dinas Pertanian, Ini Temuannya

Selengkapnya →