Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Perajin Horok-horok yang Tetap Bertahan di Tengah Himpitan Zaman



Reporter:    /  @ 18:00:41  /  4 April 2017

    Print       Email

Horok-horok penganan khas asal Jepara, yang masih eksis di tengah menjamurnya kudapan modern. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Perajin penganan khas Jepara horok-horok, tetap setia berkarya di tengah himpitan berbagai kudapan modern. Seperti Musaroh (55), yang telah berkubang dalam bisnis itu selama 20 tahun. 
“Saya menjadi perajin horok-horok sejak anak saya masih kecil, dan ibu saya tak mampu lagi membuat serta berjualan penganan itu. Sekitar 20 tahun yang lalu,” ujarnya ditemui MuriaNewsCom di rumahnya Dukuh Tukwesi, Desa Bugel, Kecamatan Kedung, Selasa (4/4/2017). 

Ia mengungkapkan, keterampilannya diperoleh dari sang ibu. Setelah orang tuanya pensiun, dirinyalah yang mewarisi kemampuan dan usaha jual horok-horok. 

Saroh, begitu ia biasa dipanggil, lantas bercerita mengenai proses pembuatan horok-horok. Menurutnya, tahapan memasak penganan itu bisa memakan waktu berjam-jam. Hal ini mengingat, bahan baku pati aren perlu mendapatkan perlakuan khusus  sebelum siap dijual. 

“Perlakuan terhadap bahan dasar yakni pati aren harus sedemikian rupa. Sehingga menjaga kebersihan dan kualitas horok-horok. Masak pati arennya pun tidak cukup sekali, namun dua kali. Jika saya buatnya siang, ya menunggu sampai sore untuk bahan setengah jadi. Kemudian jika hendak dijual, maka bahan tadi ditanak untuk kedua kalinya. Biasanya jam tiga atau empat pagi baru mematangkan bahan tadi,” urainya. 

Selain itu, kebersihan saat pembuatan horok-horok sangatlah penting. Menurutnya, air yang digunakan untuk menanak tidak boleh kotor ataupun tercampur dengan bekas pengolahan ikan.  

Jika hal itu dilanggar, horok-horok akan membusuk. Di samping pantangan itu, kualitas pati juga menentukan hasil akhir.  “Kalau tidak bagus (kualitasnya)  sehari atau dua hari sudah basi. Namun kalau patinya bagus, bisa tahan sampai tiga hari,” lanjut Saroh. 

Untuk bahan baku, ia mengaku membeli dari pemasok yang ada di desanya. Namun demikian, pati aren tersebut didatangkan dari luar Bugel. 

Dari sisi harga, untuk satu kuintal pati aren mentah ditebus dengan biaya Rp 550 ribu. Sedangkan untuk bahan yang setengah jadi (telah digoreng) ia membelinya seharga Rp 6 ribu per kilogram. Dalam sehari, dirinya mampu membuat sekitar 10 sampai 20 kilogram horok-horok. 

Menurutnya, hal itu jauh berbeda ketimbang beberapa tahun lalu, di mana pembuat pati aren di kampungnya masih banyak. Kini perkembangan zaman menggilas para pembuat bahan baku horok-horok. 

“Dulu di sini banyak yang buat pati aren. Tapi sekarang sudah tak ada. Jika tidak bangkrut, ya para pembuatnya sudah tak ada tenaga karena tua,” bebernya. 

Kondisi itu mau tak mau memengaruhi harga pati aren yang kian membumbung. Dan jika sudah begitu, maka tak akan mau turun.  “Ya kalau bahan baku memang tak mungkin turun harganya, sekali naik ya naik lagi. Namun saya harap masih diberi kesehatan dan kesanggupan untuk berjualan horok-horok,” pungkas Saroh sambil berharap.

Editor : Kholistiono

 

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

KPU Grobogan Perpanjang Jadwal Pendaftaran PPK di 3 Kecamatan, Ini Alasannya

Selengkapnya →