Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini
JEJAK ANGLING DARMA DI PATI

Di Masjid Kedungwinong Pati, Diduga Ada Petilasan Batik Madrim



Reporter:    /  @ 09:03:06  /  7 Januari 2017

    Print       Email
Punden yang diyakini sebagai petilasan Batik Madrim di sebuah ruang Masjid Desa Kedungwinong, Sukolilo, terlihat sepi dan jarang dikunjungi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Punden yang diyakini sebagai petilasan Batik Madrim di sebuah ruang Masjid Desa Kedungwinong, Sukolilo, terlihat sepi dan jarang dikunjungi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Suasana di Desa Mlawat, Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo saat itu tengah mendung, disertai gerimis hujan. Kami bersama Arum, mahasiswi program Pascasarjana Unnes yang merupakan warga Desa Sukolilo memutuskan untuk kembali dari Makam Angling Darma.

Di tengah jalan Desa Kedungwinong, kami singgah di sebuah masjid karena hujan sangat deras. Bertepatan pukul 15.00 WIB, penduduk setempat menunaikan ibadah salat Ashar. Begitu juga kami.

Kami masih penasaran, di mana letak petilasan Batik Madrim, Patih Angling Darma. Sesaat ketika melintas di pinggiran masjid, Arum mencium bau kemenyan dan dupa yang begitu menyengat. “Bau kemenyan menyengat. Jangan-jangan di sini makamnya,” ucap Arum.

Namun, kami masih tidak percaya, karena bau itu berasal dari dalam masjid. Sembari menunggu hujan, sejumlah penduduk sempat kami tanya lokasi yang ditengarai sebagai makam Batik Madrim. Ternyata benar apa yang dirasakan Arum. Lokasinya tepat di mana Arum mencium bau kemenyan.

Kami lantas meminta izin kepada salah seorang yang berada di masjid untuk masuk ke ruang yang diyakini masyarakat sebagai petilasan Batik Madrim. Ruangannya cukup kecil, ada semacam punden dengan banyak kemenyan di atasnya.

Dilihat dari pintu masuk, punden hanya ditutup dengan tirai. Tidak ada tulisan sama sekali yang menyebutkan bahwa tempat itu petilasan Batik Madrim. Itu yang sempat membuat kami kebingungan mencari tempat petilasan Batik Madrim.

“Itu bukan makam, hanya petilasan. Memang tidak dikasih papan petunjuk. Ya, kalau ada pengunjung yang datang sehabis dari petilasan Angling Darma, dia tanya sendiri kalau ingin ke petilasan Batik Madrim. Biasanya ditunjukkan ada di masjid Kedungwinong,” ujar Kardi, penduduk setempat.

Dia menuturkan, ada semacam punden dengan pepohonan besar yang rimbun, sebelum dibangun masjid. Penduduk setempat ada yang meyakini itu makam Batik Madrim, ada pula yang meyakini sebatas petilasan. Saat dibangun menjadi masjid, keberadaan punden tidak dihilangkan.

Saat ini, warga memanfaatkan punden itu sebagai tempat untuk mengaji. Beberapa warga, terkadang menggelar hajatan di tempat itu bila hajatnya terkabul. Namun, tempat ini diakui lebih sepi ketimbang petilasan Angling Darma di Dukuh Mlawat, Desa Baleadi.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Perbaikan Jalan Ratusan Meter di Purwosari Rampung 

Selengkapnya →