Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Blora  >  Artikel ini

Angkernya Pos Perhutani di Kawasan Blora



   /  @ 19:16:05  /  1 Desember 2016

    Print       Email
Foto pos yang menjadi tempat berteduh ketika hujan turun di Blora. (www.akarasa.com)

Foto pos yang menjadi tempat berteduh ketika hujan turun di Blora. (www.akarasa.com)

MuriaNewsCom, Blora – Pengalaman misteri ini dikutip dari salah satu situs dengan alamat www.akarasa.com. Berikut cerita misteri tersebut.

Selamat malam, dalam tulisan saya kali ini saya akan berbagi kisah sejati yang saya alami seorang diri saat pulang dari Kecamatan Jiken, Blora, Jawa Tengah menuju ke kediaman saya di Tuban, Jawa Timur.

Kejadian ini berawal dari saya menghadiri hajatan seorang kenalan yang punya gawe mengkhitankan putra sulungnya. Jujur, kejadian ini memang karena kenekatan saya, untuk sekadar sobat ketahui jarak antara Jiken, Blora dan Tuban tak kurang dari 90 Km dan harus menembus hutan jati sepanjang 20 km.

Pada awalnya saya berjanji akan menginap di tempat hajatan tersebut, lagi pula malam sudah larut dan terlalu berisiko melakukan perjalan malam hari seorang diri. Di samping katannya ada banyak begal di kawasan hutan milik perhutani juga seringkali ada kejadian aneh karena gangguan makhluk halus.

Entah mengapa malam itu saya benar-benar ingin pulang padahal waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB malam, padahal saya sudah mencoba untuk rebahan di kursi undangan yang sengaja saya tata sedemian rupa hingga cukup untuk merebahkan diri.

Lagi pula malam itu tamu undangan sudah sepi. Saya mencoba menepis keinginan pulang dengan menelepon seorang teman untuk sekadar mengisi waktu. Hingga akhirnya pukul 00.00 WIB lewat.

Sekitar pukul 01.30 WIB saya putuskan untuk pulang dengan pertimbangan begal jam selarut itu pasti sudah tidak ada. Meski yang punya gawe mencoba menahan saya, karena masih terlalu malam dan dini hari tinggal sebentar lagi.  Di samping itu cuaca waktu itu mendung. Dia menawarkan ‘pendaratnya’ untuk mengantarkan saya hingga sampai Kecamatan Kenduruan, Tuban. Namun saya menolak dan meyakinkan pada dia bahwa tidak akan terjadi apa-apa.

Singkat cerita, sialnya dalam perjalanan yang belum sampai 15 menit hujan benar-benar turun. Deru hujan meraung-raung menghiasi malam yang dingin, di kawasan hutan lagi. Gemrisik air hujan yang menerpa dedaunan jati memenuhi hutan. Awan kelabu merayap perlahan menjadi naungan hutan jati  yang lembab. Saya hentikan motor dan mengambil mantel yang saya taruh tas punggungku.

Hujan yang membabi buta derasnya memaksa saya harus ekstra hati-hati mengendarai kuda jepang-ku. Beruntung suasana hujan hingga saya tidak memikirkan apa-apa kecuali konsentrasi dalam mengendara dan bertahan dari dinginnya hujan yang bercampur angin tersebut.

Kurang lebihnya 1 Km  dari tempat saya memakai jas hujan tersebut, di samping kanan jalan ada pos jaga perhutani yang kosong. Karena saking deresnya hujan terpaksa saya meminggirkan kendaraan dan berteduh di pos tersebut.

Dengan menggigil kedinginan saya nyalakan sebatang rokok untuk sekadar mengusir hawa dingin setelah sebelumnya bersusah payah meyalakan korek api yang memang basah. Belum habis sebatang rokok,  dari dalam kegelapan malam, samar-samar saya melihat sesosok tubuh berjalan pelan  menelusuri jalan, sementara tubuhnya yang jangkung tak kurang dari 2 meter  terguyur derasnya air hujan.

Deg! Secara logika dalam guyuran hujan dan di tegah hutan selarut ini tidak mungkin ada orang yang nekat seperti itu dan serasa tidak terpengaruh derasnya hujan.

Refleks bulu-bulu tubuh meremang, terutama di bagian tengkuk yang artinya itu adalah indikator bahwa ada makhluk halus di sekitar kita. Beruntung sosok jangkung yang samar-samar terlihat tersebut berjalan terus saja ke arah barat, meski sekian detik berhenti persis di dekat motor saya yang saya pinggirkan di bahu jalan.

Sejurus kemudian dia lenyap begitu saja. Belum lenyap jantung berdebar melihat penampakan tersebut, lagi-lagi saya dikejutkan oleh suara aneh di belakang pos perhutani tersebut. Saya bilang aneh, karena suara tersebut seperti orang suara kucing namun seperti orang sedang berbicara.

Berbekal dengan pemahaman sedikit tentang ilmu hikmah, di tengah suasana hujan yang sudah sedikit mereda itu saya mencoba untuk berkontemplasi. Secara perlahan tabir gaib terbuka, hingga saya bisa melihat gambaran sebuah hunian yang berada di arah belakang tempat pos pehutani tersebut.

Dan banyak sekali sosok-sosok aneh menatap saya dengan sorot mata nanar di sela-sela pepohonan yang berada di samping kanan maupun kiri pos itu.

Melihat gelagat yang kurang bersahabat, meski terbilang hujan yang masih lumayan deras, saya putuskan untuk meneruskan perjalan saja dari pada mengambil risiko. Belum sempat saya masukkan gigi perseleng motor, lagi-lagi saya dikejutkan oleh sosok putih berkelebat persis di depan motor yang sudah menyala. Kontan membuat saya kaget. “Astaghfirullohal adzim..!”

Setelah beberapa detik menenangkan diri dan berusaha menguasai keadaan saya pacu kuda besi saya secara perlahan sambil merapal beberapa amalan khusus untuk menghalau gangguan makhluk halus yang usil. Belum sampai 50an meter lagi-lagi terdengan suara “ KRAK…..! KRAAAAAAK…..” hingga beberapa kali yang masih terdengar meskipun hujan dan saya pakai helm.

Beruntung setelah itu tidak ada kejadian-kejadian janggal lainnya hingga sekitar pukul 03.30 WIB ketika saya nyampek Jatirogo Tuban. 

Setelah beberapa hari setelah kejadian tersebut saya baru tahu dari seorang kenalan dari Bangilan, Tuban yang sedang bertandang ke rumah kalau alas itu namanya alas tawunan yang terkenal angker. Bahkan dia juga punya cerita mencekam saat muda dulu masih menjadi ‘blandong’ dan mencuri kayu jati di kawasan hutan jati tersebut. Pernah dia bersama beberapa rekannya memotong jati yang benar-benar putus namun tidak mau roboh.

Silakan bagi yang punya cerita misteri, segera kirimkan di alamat email [email protected].

Editor : Akrom Hazami

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →