Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

Medsos Bukan Wadah Pelampiasan Kebencian



Reporter:    /  @ 10:00:35  /  1 Desember 2016

    Print       Email
Ali Muntoha muntohafadhil@gmail.com

Ali Muntoha
[email protected]

“Kowe kerja jam pira sampai jam pira? Aja diforsir, ben ora gampang muring-muring. Kalau benci sama orang jangan keterlaluan, jika suka juga sama, yang sedang-sedang saja”

KALIMAT ini diucapkan KH Musthofa Bisri atau biasa dipanggil Gus Mus, kepada seorang pemuda bernama Pandu Wijaya. Pemuda ini yang memposting kalimat kasar yang menghina Gus Mus melalui akun twitter-nya. Pesan ini sungguh adem, karena Gus Mus menimpali kebencian yang diarahkan kepadanya dengan petuah.

Pandu beruntung karena yang ia sumpah-serapahi adalah Gus Mus, kiai NU yang sangat welas asih. Coba saja kalau yang kena hujatan dan makian seperti ini adalah tokoh kelompok “Islam Pentungan” pasti akan beda urusannya. Istilah kelompok “Islam Pentungan” ini sering digunakan oleh Prof. Sumanto Al Qurtubi, antropolog dari King Fahd University of Petroleum & Minerals Arab Saudi, dalam beberapa kali kuliah vitual di halaman Facebook-nya.

Istilah ini untuk menyebut kelompok-kelompok Islam “keras” di Indonesia yang punya temperamen sangat tinggi. Jika kasus Pandu ketemu dengan kelompok ini, mungkin urusannya akan lain, bukan maaf mungkin yang akan didapat, melainkan sesuatu yang mengerikan.

Beruntung Pandu melancarkan kekhilafannya itu kepada kiai NU, sehingga para pendekar pengawal kiai NU (Banser Ansor) itu pun tak langsung muring-muring (marah-marah), namun melakukan pendekatan secara persesuasif, dan mengajak pemuda ingusan itu untuk sowan dan meminta maaf secara langsung.

Dari kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi semua orang, bahwa media sosial bukanlah wadah untuk pelampiasan kebencian. Media sosial memang sangat efektif sebagai salah satu sarana komunikasi yang murah, instan dan cepat. Namun penggunaan media sosial yang tidak tepat justru akan membawa dampak yang tak setimpal.

Apalagi mengujar kebencian di media sosial bukanlah tanpa risiko. Selain mengundang sanksi sosial seperti yang terjadi pada Pandu, sanksi yang lebih tegas juga menunggu, yakni kurungan penjara. Memang dengan direvisinya Undang-undang tentang ITE, ancaman kurungan penjara diturunkan dari semula yang bisa 6-12 tahun, kini maksimal hanya empat tahun.

Namun tetap saja, cakupan undang-undang itu justru saat ini lebih luas. Tak hanya orang yang memproduksi atau membuat postingan tentang ujaran kebencian atau hasutan, ataupun pelecehan saja, pihak-pihak yang ikut menyebarkan postingan itu pun bisa dikenai jeratan hukuman yang sama.

Dengan revisi UU ITE itu, memang ada hal-hal yang meringankan, misalkan tersangka tidak boleh ditahan sebelum adanya putusan hukum yang tetap. Selain itu, setiap kasus pencemaran atau penghinaan yang termuat dalam UU ITE merupakan delik aduan, sehingga aparat hukum baru bisa memproses jika sudah ada pengaduan ke pihak kepolisian.

Dengan ketentuan baru ini nantinya, jika perangai netizen masih tak berubah maka laporan aduan akan membanjiri kantor polisi. Solusinya bijak dan dewasa dalam menggunakan media sosial adalah langkah yang paling tepat. Jangan mudah tergoda dan terpikat dengan sesuatu yang tidak jelas.

Kebiasaan membagikan berita-berita hoax (berita bohong) harus segera dihentikan. Kroscek dulu berbagai informasi yang didapatkan sebelum membagikannya ke media sosial. Karena jika kebiasaan asal share informasi tak jelas itu masih membandel di benak netizen, maka bukan tak mungkin ancaman hukuman penjara yang akan didapatkannya.

Terlebih berbagai informasi yang mengandung hujatan ataupun ujaran-ujaran kebencian. Media sosial bukanlah wadahnya untuk hal-hal seperti itu. Lebih baik gunakan media sosial untuk hal yang bermanfaat, berbagi ilmu dan memperat tali silaturahmi. Bukankah hal yang seperti ini justru lebih indah!. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →