Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini

Mengenal Pasar Gerit, Pasar Keramat di Kabupaten Pati



Reporter:    /  @ 10:30:03  /  29 November 2016

    Print       Email
Suasana Pasar Senin Pahing di Desa Gerit, Kecamatan Cluwak, Pati yang ramai dibanjiri pengunjung setiap 36 hari sekali. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suasana Pasar Senin Pahing di Desa Gerit, Kecamatan Cluwak, Pati yang ramai dibanjiri pengunjung setiap 36 hari sekali. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada aktivitas yang tidak biasa di sebuah pasar di Desa Gerit, Kecamatan Cluwak, Pati. Tak seperti pasar pada umumnya, pasar tradisional ini hanya buka pada Minggu Legi, pada siang hingga malam dan Senin Pahing. Yang paling ramai biasanya pada Minggu sore. Pasar ini juga sering disebut sebagai Pasar Senin Pahing.

Uniknya, pasar yang buka setiap 36 hari sekali ini hanya menyediakan jajanan tradisional, seperti dawet, kucur, pisang rebus, kedelai, kacang tanah, talas, dan beragam jajanan pasar tradisional lainnya. Yang lebih mengejutkan, pengunjung Pasar Gerit datang dari berbagai daerah di luar Pati, seperti Jakarta, Sumatera, Kalimantan, Jawa Timur, dan sebagian besar Jawa Tengah.

Mereka datang untuk berdoa di petilasan Mbah Duni, seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai wali Jawa. Petilasan Mbah Duni berada di dalam kawasan pasar, tertutup dalam rumah kecil sederhana yang terbuat dari bambu.

Pengunjung yang datang, cukup membeli bunga seharga Rp 10 ribu, masuk ke petilasan Makam Mbah Duni untuk menabur bunga. Ditemani juru kunci, mereka berdoa untuk kesembuhan, ketentraman keluarga atau permintaan lainnya. Pengunjung akan datang lagi ke Pasar Gerit, ketika doa yang dipanjatkan dikabulkan.

Sofwan, juru kunci petilasan Mbah Duni menuturkan, tradisi itu sudah berlangsung lama, sejak 1965. “Mbah Duni dikabarkan sebagai seorang pengelana. Suatu ketika, berhenti di daerah ini untuk makan jajanan. Itu sebabnya, penjual di pasar ini hanya berjualan jajanan tradisional. Dulu, beliau juga bilang kalau ada anak cucu kesusahan, sakit, minta kesembuhan, bisa datang ke tempat ini,” kata Sofwan.

Duriyat (55), warga Kelet, Keling, Jepara mengaku sudah sering datang ke Pasar Gerit sejak kecil. Dia biasa membawa anaknya yang sakit untuk didoakan di sana agar diberi kesembuhan. Kali ini, Duriyat mengalami sakit demam yang tak kunjung sembuh selama seminggu.

“Saya nazar, kalau sembuh datang ke sini. Nah, ini sudah sembuh makanya datang ke sini, meski datangnya agak telat, karena sembuhnya sudah lama. Saya tahu Pasar Gerit sudah lama, sejak kecil. Saya anggap tempat ini keramat, sehingga mustajab untuk berdoa kepada Allah,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →