Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini

Begini Cara Pembudidaya Ikan Asal Tayu Pati Lakukan Tumpang Sari Ikan Nila dan Udang Windu



Reporter:    /  @ 19:00:19  /  28 November 2016

    Print       Email
Pembudidaya ikan nila asal Sambiroto, Tayu, Mamik (kanan) menunjukkan udang windu yang dipanen dari tumpang sari dengan ikan nila, Senin (28/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Pembudidaya ikan nila asal Sambiroto, Tayu, Mamik (kanan) menunjukkan udang windu yang dipanen dari tumpang sari dengan ikan nila, Senin (28/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Budidaya ikan nila salin atau air payau ternyata banyak keuntungannya. Selain bisa memanen hanya dalam waktu tiga bulan, pembudidaya bisa melakukan teknik tumpang sari dengan budidaya udang windu.

Mamik Kundori, pembudidaya ikan nila salin asal Desa Sambiroto, Kecamatan Tayu, Pati bisa memanen ikan nila 1,3 ton dan 125 kilogram udang windu dalam tambak seluas kurang lebih setengah hektare. Alhasil, dia bisa memanen ikan nila dan udang windu dalam satu tambak.

“Dengan teknik tumpang sari, kami bisa memanen 1,3 ton ikan nila salin senilai sekitar Rp 27,3 juta dan 125 kg udang windu senilai 14,3 juta, dengan harga Rp 115 ribu per kilogram. Ini yang menurut kami tidak hanya efektif waktu, tetapi juga efektif dari segi pendapatan,” kata Mamik saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Senin (28/11/2016).

Dia menambahkan, ikan nila dan udang windu memiliki hubungan simbiosis mutualisme ketika dipadukan dalam budidaya tumpang sari. Lendir ikan nila bisa menjadi vaksin bagi udang. Selain itu, keberadaan keduanya dalam satu tambak bisa menghindari adanya kanibalisme.

Keduanya saling memakan bila salah satu mati. Selama masih hidup, keduanya tidak akan saling makan. Dengan begitu, tidak ada yang sia-sia dari budidaya teknik tumpang sari. “Kalau ada nila mati, udang windu akan memakannya. Sebaliknya, kalau udang windu mati, nila akan memakannya. Jadi, tidak ada yang terbuang,” tutur Mamik.

Di Desa Sambiroto, teknik budidaya ikan nila salin secara tumpang sari dengan udang windu diakui baru pertama kali dilakukan. Pasalnya, selama ini pembudidaya masih menggunakan air tawar untuk mengembangkan ikan nila. Teknik tersebut diakui jauh lebih menguntungkan, ketimbang budidaya ikan bandeng. Saat ini, budidaya ikan nila salin disebut-sebut menjadi primadona bagi para pembudidaya ikan.

Baca juga : Warga Sambiroto Pati Sukses Kembangkan Budidaya Ikan Nila Air Payau

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →