Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

Wahai Ojekers Menara, Tolong Jangan Bakar Motor Anda



Reporter:    /  @ 10:00:05  /  28 November 2016

    Print       Email
merie_sket

Siti Merie [email protected]

ADA satu hal yang rupanya, tanpa saya sadari, seringkali membuat kebanyakan teman saya ”sengit” atau sebel pada saya. Dan itu juga membuat sengit kepada mereka. Karena bisa-bisanya mereka sengit kepada hak saya, dan memberikan saran yang terkadang bukan menjadi hak mereka.

Kesengitan teman-teman saya itu terletak pada kendaraan yang saya pakai sebagai operasional sehari-hari. Kendaraan Suzuki Shogun tua itu, yang rupanya membuat teman-teman saya sebel. Menurut mereka, apa yang membuat saya begitu mati-matian mempertahankan Shogun merah tersebut, sampai tidak mau menggantinya dengan motor yang lebih baru lagi variannya. Seringkali kalau sedang jalan bareng, pastinya saya yang selalu ketinggalan di belakang. Dan itu juga membuat teman-teman saya sebel, karena mereka terpaksa harus membuntuti dari belakang, yang artinya mereka tidak bisa ngebut agar cepat sampai tujuan.

Sudah banyak yang menyarankan supaya saya pindah motor yang cocok dengan perempuan. Yakni motor matic, yang memang muat beragam barang-barang bawaan kaum perempuan. Maklum, mereka juga paham kalau saya sudah bawa barang, biasanya isinya juga banyak. Sehingga Shogun merah saya itu banyak sekali cantelannya. Mungkin teman saya agak ribet dan sepet kalau harus melihat yang seperti itu. Makanya mereka seringkali menyarankan saya untuk ganti kendaraan. Bahkan ada yang bilang bahwa pengen sekali membakar motor saya, kemudian menggalang iuran bareng-bareng untuk membelikan saya motor baru. Mulia maksudnya, namun sadis caranya.

Tapi ya, itu tadi. Saya masih malas untuk ganti. Apalagi ganti motor. Bukan berarti si Shogun itu motor kesayangan, lho. Sama sekali bukan. Tapi karena saya sudah terlanjur nyaman dengan si merah itu. Dan lagi, saya juga tidak bisa naik motor matic. Kalau dianggap memalukan, ya tidak apa-apa. Nanti kalau kepepet, pasti juga bisa. Apalagi, saya juga sudah aprirori duluan, apakah kemudian saya bisa mendapatkan motor yang bisa membuat saya nyaman atau tidak. Membeli motor baru, belum menjadi skala prioritas saya, yang seringkali menjadi alasan ampuh untuk menjawab pertanyaan di atas.

Namun, saya agak kaget saat membaca berita di MuriaNewsCom, bahwa bakal ada tukang ojek wisata di kawasan Menara Kudus, yang akan membakar sepeda motornya. Ini tentu saja mengagetkan, karena alangkah merugikannya kalau sampai harus membakar motor. Apalagi kalau motornya masih berstatus kredit. Jika sampai itu terjadi, maka akan dobel-dobel kerugian yang ditanggung. Dan tentunya, kerugian ditanggung sendiri oleh sang pemilik motor.

Rencana nekat ojek Menara tersebut, berkaitan dengan upaya penertiban angkutan wisata yang selama ini melayani peziarah yang datang ke makam Sunan Kudus. Biasanya, peziarah dilayani dengan moda transportasi berbentuk ojek, becak, dokar, dan angkutan lainnya. Siang dan malam, bentuk-bentuk transportasi tersebutlah yang selama ini melayani peziarah. Bahkan untuk ojek, antara yang dari Terminal Wisata Bakalan Krapyak menuju kompleks makam Sunan Kudus, berbeda orangnya. Sehingga ada ratusan orang yang melayani ribuan peziarah yang datang setiap harinya.

Namun, Pemkab Kudus melalui Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo), melihat cara praktis untuk mengangkut para peziarah itu. Yakni dengan menyediakan angkutan umum yang lebih bagus dan simpel. Tidak usah banyak-banyak jenis angkutannya, namun angkutan yang lebih nyaman bagi peziarah. Yang satu jenis, kemudian bisa mengangkut semua orang, dalam waktu bersamaan. Sehingga, yang terlihat adalah sebuah keteraturan dan kenyamanan.

Untuk rencana itu, Pemkab Kudus sudah menyiapkan anggaran kurang lebih Rp 4 miliar. Dengan jenis kendaraan, bagaimana pengaturan pengendara atau sopirnya, dan lain sebagainya. Istilahnya bisa langsung tancap gas untuk angkutan umum yang baru tersebut. Pengaturan ini sama dengan yang diberlakukan pada beberapa lokasi wisata ziarah makam sunan yang ada di Indonesia. Di mana bus-bus besar layaknya TransJakarta yang akan melayani pengunjung. Membawa mereka dari lokasi wisata ziarah ke terminal. Sehingga sekali angkut, bisa menampung banyak orang.

Namun, rencana ini dinilai mendadak sekali oleh para pemilik angkutan yang selama ini melayani rute ziarah tersebut. Tukang ojek, tukang becak, tukang dokar, dan lainnya, menganggap bahwa pemkab tidak pernah membicarakan rencana itu dengan mereka. Istilahnya ujuk-ujuk mak bedunduk, ada rencana tersebut. Sehingga wajar kalau kemudian mereka kaget. Karena pertanyaan yang akan muncul adalah, kalau digusur, mereka harus kerja apa. Bagaimana mereka bisa menjalani kehidupan sehari-hari, kalau kemudian menjadi tukang ojek, tukang becak, dan lainnya untuk para peziarah, adalah pekerjaan mereka sehari-hari.

Dari rencana yang dibuat pemerintah itu, memang belum terlihat bagaimana solusi bagi tukang-tukang yang selama ini melayani para peziarah tersebut. Mau dikemanakan mereka. Mau dijadikan apa mereka, kalau kemudian jumlahnya ratusan orang. Belum ada sinyal ataupun pertanda baik dari pemerintah akan nasib mereka. Kalau pun ada yang akan dijadikan sopir angkutan umum yang baru, jumlahnya tidak akan mampu menampungnya. Karena yang diterima hanya puluhan, sedangkan kita berbicara akan nasib ratusan orang ini di kemudian hari.

Konflik antara pemkab dengan penghuni moda angkutan di kawasan Menara Kudus ini, tidak hanya sekali ini saja. Dulu saat Taman Menara akan dibangun menggantikan taman yang lama, para tukang-tukang angkutan itu bahkan sampai harus berdemo di Alun-alun Kudus dan ke kalangan legislatif. Mereka menolak pembangunan taman, karena akan menggusur tempat parkir mereka selama ini. Namun, aksi yang dilakukan itu, juga tidak berdampak. Pasalnya, taman tetap dibangun, dan akhirnya tempat parkir mereka menjadi di mana-mana. Termasuk di jalan raya yang membuat situasi dan kondisi arus lalu lintas menjadi macet. Namun, semua masih bisa diterima dengan baik oleh mereka.

Hanya saja, kali ini ancaman yang datang memang cukup serius. Karena jika kedatangan angkutan umum yang baru itu, jelas akan menggusur keberadaan mereka. Apalagi, harga yang ditawarkan juga sama dengan yang selama ini diterapkan para tukang-tukang angkutan itu. Kalau misalnya angkutan umum yang baru itu lebih nyaman, misalnya saja berpendingin ruangan, tentu saja peziarah akan memilih yang lebih nyaman. Atau kalau memang niatnya sudah ibadah, berjalan kaki dari kawasan Terminal Wisata Bakalan Krapyak ke kawasan Menara Kudus, juga akan dilakukan. Apalagi jarak yang ditempuh juga tidak begitu jauh. Kalau pun tidak digusur secara nyata, namun lambat laun keberadaan ojek, becak, dan dokar di kawasan Menara Kudus, juga akan tersingkir dengan sendirinya.

Para tukang-tukang angkutan itu sendiri memang sudah menyiapkan beberapa langkah, kalau kemudian rencana pemerintah tersebut jadi dilaksanakan. Salah satunya adalah melaksanakan aksi demo. Bahkan, ancamannya akan membakar motor segala. Dan tentu saja itu sudah tidak bagus. Karena masih banyak jalan yang bisa ditempuh untuk menolak rencana pemerintah itu.

Melalui paguyuban, mereka akan menyurati bupati Kudus selaku pemilik wilayah, untuk bisa mengkaji rencana tersebut. Tentu saja, ini adalah jalur birokrasi yang bisa ditempuh pertama kali. Mempertanyakan bagaimana bisa pemerintah memiliki gagasan sedemikian rupa, yang imbasnya adalah nasib ratusan orang yang menggantungkan hidup pada kawasan Menara Kudus. Jika memang tidak mempan, masih ada anggota DPRD Kudus yang merupakan wakil para ojekeres, becakers, dan dokarers ini, yang bisa dimintai tolong untuk mengkaji ulang rencana itu. Sehingga secara struktural semua jalur birokrasi sudah dipenuhi.

Dan anggota legislatif sebenarnya juga bisa sejak awal mempertanyakan rencana ini. Karena mereka yang membahas anggaran yang diajukan pemerintah. Bahkan menyetujuinya. Sehingga dari awal seharusnya sudah disiapkan solusi yang baik, dari semua unsur yang ada. Baik pemerintah maupun legislatif yang adalah bertindak sebagai wakil rakyat. Kalau kebijakan itu membuat rakyat sengsara, harusnya dipertimbangkan lagi sejak awal pembahasan.

Namun, kalau sampai akhirnya para tukang angkutan umum itu melakukan aksi demo, setidaknya jangan sampai merusak motor sebagaimana yang direncanakan. Eman-eman istilahnya. Kerugian yang ada sudah tampak nyata, namun yang didapat belum tentu yang diharapkan. Rasanya, demo adalah pilihan terakhir yang dilakukan, kalau semua jalan sudah mentok. Tapi kalau memang melalui jalan perundingan sudah menemukan solusinya, alangkah baiknya seperti itu. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →