Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini
KEISTIMEWAAN GARAM ASAL DESA JONO (4)

Sentra Garam di Desa Jono Grobogan Layak Dikembangkan Jadi Objek Wisata Unggulan



Reporter:    /  @ 20:30:26  /  24 November 2016

    Print       Email
Proses pembuatan garam di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan. Desa Jono, juga disebut layak untuk dijadikan sebagai objek wisata. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Proses pembuatan garam di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan. Desa Jono, juga disebut layak untuk dijadikan sebagai objek wisata. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

 MuriaNewsCom,Grobogan – Adanya sentra garam di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, membuat banyak pihak meminta agar Pemkab Grobogan menjadikan fenomena langka itu sebagai salah satu objek wisata andalan. Sebab, pembuatan garam di kawasan yang jauh dari laut barangkali hanya ada di Desa Jono saja. Tidak hanya dalam level Indonesia tetapi bisa di tingkat dunia.

“Pembuatan garam di Desa Jono ini memang merupakan salah satu keajaiban dunia yang dimiliki Kabupaten Grobogan. Selain di sini, ada juga tempat pembuatan garam lainnya, yakni di kawasan Bledug Kuwu dan Desa Crewek, Kecamatan Kradenan. Namun, pembuatan garam di sana tidak sebanyak di disini,” kata Kades Jono Eka Winarno.

Menurutnya, pada akhir Oktober lalu, Desa Jono sudah ditetapkan sebagai Desa Wisata. Namun, peresmiannya tidak dilakukan secara meriah seperti penetapan Desa Wisata Tarub maupun Banjarejo.

“Surat Keputusan (SK) penetapan Desa Jono sebagai Desa Wisata sudah kita terima. Selain Jono, ada beberapa desa lainnya yang juga dapat SK sebagai Desa Wisata,” jelasnya.

Dengan adanya SK tersebut, memang menjadi pendorong untuk mengembangkan potensi sentra garam sebagai salah satu destinasi wisata. Hanya saja, hal itu tidak bisa dilakukan sendirian oleh pihak desa. Tetapi, butuh dukungan dari berbagai pihak.

Selama ini, upaya untuk menata sentra garam sebagai sebuah lokasi yang menarik wisatawan memang belum banyak dilakukan. Salah satu kendalanya, butuh payung hukum yang kuat untuk menyediakan sarana dan sarana pendukung di situ.

“Untuk masalah ini, saya memang perlu hati-hati. Jangan sampai nanti tersandung masalah hukum dalam mengembangkan sentra garam sebagai objek wisata,” imbuhnya.

Menurut Eka, upaya tidak langsung untuk menata sentra garam saat ini sudah dilakukan. Yakni, menormalisasi dan memperlebar saluran air di depan sentra garam tersebut.

Jika nantinya memungkinkan di atas saluran sepanjang lahan pembuatan garam bisa dibuat trotoar atau lahan parkir. Dengan demikian, kendaraan pengunjung bisa dapat tempat yang aman dan tidak mengganggu pengguna jalan lainnya. Sebab, selama ini, kendaraan pengunjung yang ingin melihat lokasi pembuatan garam diparkir di pinggiran jalan.

Selain pembuatan garam, di sekitar kawasan itu tenyata juga bisa dibuat objek wisata tambahan. Yakni, pemandian air panas.Hal ini dimungkinkan lantaran sumber utama yang dipakai membuat garam tersebut, airnya ternyata sangat panas. Suhunya diperkirakan mencapai 70 derajat Celsius.

“Airnya panas sekali, kalau kena bagian tubuh bisa melepuh. Pernah saya eksperimen mencelupkan telur ayam yang ditaruh timba ke dalam sumber air selama beberapa menit. Setelah diangkat ternyata sudah matang telurnya,” cetus Eka.

Dimungkinkannya pengembangan objek wisata pemandian air panas di sekitar sentra garam itu dibenarkan oleh Dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang (Unnes) Bambang Sugeng. Menurutnya, sumber air yang bersuhu tinggi tersebut juga kaya mineral.

“Dari penelitian yang pernah dilakukan, garam produksi Desa Jono terdapat sejumlah mineral bermanfaat bagi tubuh. Seperti, kandungan zinc (mineral untuk ketahanan tubuh), mangan (antivirus) dan zat yang dapat menjadi vitamin bagi ibu hamil,” katanya.

Bambang menyatakan, siap mendukung pembuatan garam di Desa Jono menjadi salah satu destinasi wisata. Termasuk pula, dia juga bakal membuat pemandian air panas di situ. Untuk mendukung langkah tersebut, Bambang bahkan sudah membeli sebidang tanah yang letaknya tidak jauh dari sumber mata air.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →