Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Miris, Kesenian Tadisional Kentrung di Grobogan Ternyata Sudah di Ambang Kepunahan



Reporter:    /  @ 10:00:19  /  24 November 2016

    Print       Email
Mbah Sapuan memainkan pertunjukkan seni Kentrung dalam proses perekaman di Gedung Wisuda Budaya, Kamis (24/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Mbah Sapuan memainkan pertunjukkan seni Kentrung dalam proses perekaman di Gedung Wisuda Budaya, Kamis (24/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Pelaku kesenian tradisional Kentrung di Grobogan saat ini ternyata tinggal segelintir saja. Kondisi ini berbeda sekali dengan beberapa tahun lalu. Di mana, pelaku kesenian Kentrung ini tersebar di berbagai wilayah kecamatan.

Terkait kondisi itulah, Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Grobogan membikin kegiatan khusus. Yakni, melakukan perekaman kesenian tradisional Kentrung tersebut.

Kasi Kerjasama Promosi Seni Budaya Disporabudpar Grobogan Warsito menyatakan, ada beberapa tujuan dilakukannya perekaman seni Kentrung tersebut. Antara lain, sebagai data dan dokumentasi tentang seni Kentrung. Perekaman ini perlu dilakukan karena saat ini sudah jarang sekali ada pentas Kentrung di Grobogan.

“Kondisi kesenian tradisional Kentrung ini memang sungguh memprihatinkan. Pelaku kesenian ini tinggal beberapa orang saja,” jelasnya, Kamis (24/11/2016).

Melalui perekaman seni Kentrung tersebut, di sisi lain bisa dijadikan sarana pembelajaran bagi banyak pihak. Terutama, bagi generasi muda yang kemungkinan besar sudah tidak mengenal salah satu kesenian yang sempat populer beberapa waktu lalu.

Warsito menyatakan, dalam perekaman seni Kentrung di Gedung Wisuda Budaya ini pihaknya melibatkan salah satu pelaku yang masih eksis. Yakni, Mbah Sapuan, warga Desa Bringin, Kecamatan Godong.

Meski usianya sudah berkepala tujuh, namun sosok seniman ini masih bisa eksis memainkan pertunjukkan Kentrung. Selama hampir dua jam, Mbah Sapuan terlihat semangat menabuh alat musik terbang dalam proses perekaman.

Lantaran sudah jarang pentas, Mbah Sapuan ini sehari-hari juga menekuni profesi lain untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Seperti jadi penari jagoan saat acara perkawinan dan mencari ikan di sungai.

“Saya sangat mengapresiasi dedikasi dan kepedulian Mbah Sapuan yang masih mau melestarikan seni Ketrung ini. Kita harapkan, dari perekaman ini nanti masih ada lagi orang yang peduli dengan seni Kentrung,” katanya.

Dalam perekaman tersebut, ada beberapa pihak yang diundang. Antara lain, guru seni budaya SMP, SMA dan SMK se-Kabupaten Grobogan dan komunitas wisata. Selain itu, hadir Ketua Dewan Kesenian Grobogan Supomo dan ada pula beberapa warga yang juga ikut melihat proses perekaman.

Menurut Warsito, banyak faktor yang menjadikan seni Kentrung itu berada dalam ambang kepunahan. Antara lain, perkembangan zaman yang diiringi banyak jenis kesenian.

Di samping itu, faktor lainnya adalah banyak yang menganggap pertunjukkan seni Kentrung itu terasa membosankan dan tidak ada inovasi baru. Hal ini menjadikan seni Kentrung mulai jarang ditampilkan maupun ditanggap orang.

“Faktor yang mempengaruhi memang cukup beragam. Hal ini harus jadi kewajiban kita bersama untuk ikut menjaga, mengembangkan dan melestarikan seni budaya,” imbuhnya.

Sementara itu, beberapa orang yang sempat menyaksikan acara perekaman seni Kentrung itu menyatakan, salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk melestarikan adalah menampilkan seni Kentrung pada acara-acara yang diselenggarakan Pemkab Grobogan. Dalam setahun, minimal tiga sampai lima kali seni Kentrung itu diperlihatkan pada berbagai khalayak.

“Salah satu solusi, pelaku seni Kentrung yang masih ada ini harus diberi porsi pentas. Dari sini nantinya bisa muncul ketertarikan dan kepedulian banyak pihak. Terus terang, saya juga baru tahu seni Kentrung setelah nonton perekaman di sini,” kata Setyo Wicaksono, salah seorang penonton acara perekaman seni Kentrung itu.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →