Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini
KEISTIMEWAAN GARAM ASAL DESA JONO (2)

Kisah Ular Naga Joko Linglung, di Balik Cerita Munculnya Sumber Garam di Desa Jono Grobogan



Reporter:    /  @ 10:45:30  /  22 November 2016

    Print       Email
Alat yang digunakan untuk proses pembuatan garam di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Alat yang digunakan untuk proses pembuatan garam di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Adanya sentra garam di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, memang sering jadi bahan pembicaraan banyak orang. Bahkan, banyak di antaranya sempat tidak percaya jika ada garam yang bisa dibuat bukan dari air laut.

“Setahu saya, garam itu ya dibuat dari air laut. Makanya, sampai ada pepatah yang berbunyi ‘Garam di laut, asam di gunung’. Dengan kenyataan yang ada di Desa Jono, pepatah itu tampaknya jadi kurang tepat,” kata Fahmi, warga Semarang yang sempat mengunjungi sentra garam tradisional tersebut.

Adanya sentra garam tersebut ternyata ada cerita yang berkembang di masyarakat. Yakni, terkait munculnya sumber air asin di Desa Jono yang bisa dimanfaatkan untuk membuat garam tersebut.

Dari cerita turun temurun, sumber garam di Desa Jono ada hubungannya dengan sosok ular naga yang bernama Joko Linglung. Binatang melata ini konon kabarnya merupakan anak dari tokoh legenda Aji Saka yang berwujud ular raksasa.

Oleh Aji Saka, ular ini diperintahkan untuk membunuh Prabu Dewata Cengkar yang berubah wujud jadi buaya putih dan bersembunyi di Laut Selatan. Jika perintah itu berhasil dilaksanakan, Aji Saka akan mengakui Joko Linglung sebagai putranya.

Singkat cerita, Joko Linglung akhirnya berhasil mengalahkan buaya putih jelmaan Dewata Cengkar melalui pertarungan seru di Laut Selatan. Setelah tugasnya selesai, Joko Linglung bermaksud menemui Aji Saka yang jadi penguasa Kerajaan Medang Kamulan.

Agar tidak menimbulkan ketakutan, dari Laut Selatan Joko Linglung melakukan perjalanan dengan menerobos bumi. Sepanjang perjalanan, beberapa kali Joko Linglung muncul ke permukaan tanah untuk menghirup udara dan sekaligus mencari tahu sudah sampai di mana perjalanannya.

Ada beberapa tempat yang jadi munculnya Joko Linglung dalam perjalanan menuju Medang Kamulan. Antara lain, di Desa Jono, Desa Crewek di Kecamatan Kradenan dan terakhir di Bledug Kuwu. Di kawasan Bledug inilah Joko Linglung akhirnya bertemu Aji Saka dan diakui sebagai anaknya.

Bekas tempat munculnya Joko Linglung ini kemudian menjadi sebuah sumur yang airnya asin. Disebut-sebut sumber air disumur itu merupakan rembesan dari air Laut Selatan. “Jadi, cerita yang saya dapat seperti ini. Makanya, air di sini rasanya asin dan akhirnya bisa dibuat jadi garam,” kata Mbah Sumitro (65), warga setempat.

Kepala Desa Jono Eka Winarna membenarkan jika cerita legenda Joko Linglung itu erat kaitannya dengan munculnya sumber garam di desanya. Menurut Eka, sumber garam yang ada di desanya itu jumlahnya hanya ada beberapa saja.

Sumber paling besar ada dua. Namanya, sumber Nganten dan Blarak yang berada di lokasi sentra garam saat ini. “Jadi tidak semua sumur bisa dipakai garam. Hanya ada lokasi tertentu saja sumber garamnya,” katanya.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →