Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Dinas Pertanian TPH Grobogan Berhasil Kembangkan Budidaya Pisang Melalui Metode Jaringan Kultur



Reporter:    /  @ 17:26:03  /  18 November 2016

    Print       Email
Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto menunjukkan tanaman pisang yang dikembangkan lewat jaringan kultur.(MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto menunjukkan tanaman pisang yang dikembangkan lewat jaringan kultur.(MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan-Proses budidaya tanaman pisang sekarang bisa dilakukan lebih cepat. Di mana, tidak perlu menunggu budidaya melalui anakan pisang yang dikeluarkan pohon induknya. Tetapi, bisa lewat anakan pisang yang dikembangkan dengan metode jaringan kultur.

“Beberapa bulan lalu, kita mulai mencoba budaya bibit pisang lewat jaringan kultur. Sekarang ini sudah berhasil meski jumlahnya terbatas dan akan terus kita perbanyak lagi,” kata Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto.

Menurut Edhie, proses pembuatan bibit pisang lewat jaringan kultur itu cukup rumit dan butuh kesabaran. Dijelaskan, tahap awal pembuatannya adalah mencari titik tumbuh pada batang pisang yang sudah dewasa.

Titik tumbuh hanya butuh sedikit saja, seukuran jari tangan. Kemudian, titik tumbuh ini dicacah agak lembut dan direndam dalam larutan agar (gel) khusus dan disterilkan.

Setelah dibiarkan 1-2 minggu akan mulai terlihat pertumbuhan dengan munculnya kecambah. Selanjutnya, kecambah yang tumbuh dipisahkan satu persatu dalam botol plastik yang masih diberi larutan agar berisi kombinasi bahan kimia.

Pada tahap ini, tiap botol sudah berisi satu kecambah dan dibiarkan tumbuh sampai usia 3 bulan, sampai terlihat sudah muncul batang dan daun. Setelah itu, baru dipindahkan ke polibag dengan media tanam selama 6 bulan.

“Selain rumit, prosesnya juga cukup panjang. Untuk bisa ditanam pada lahan, setidaknya butuh waktu 9 bulan,” jelas Edhie didampingi Kabid Hortikultura Imam Sudigdo.

Meski rumit, namun pembuatan bibit pisang dengan kultur jaringan dinilai punya beberapa keuntungan. Antara lain, bisa menyediakan bibit dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan.

Dengan kondisi ini, nantinya tanaman di lahan akan punya umur yang seragam dan memudahkan penanganan. Sebab, selain umur, kualitas bibitnya hampir sama.

Hal ini berbeda jika bibit pisang diambilkan dari anakan pisang yang tumbuh alami. Sebab, untuk mendapatkan anakan pisang harus menunggu cukup lama dan jumlahnya juga tidak banyak. Sehingga jika ingin melakukan tanam serempak pada satu lahan yang luas agak kesulitan.

“Lewat jaringan kultur ini, kualitas bibit pisang bisa diminimalkan dari penyakit turunannya. Sebab, indukan pisang yang akan dipakai untuk pembuatan jaringan kultur itu sudah kita seleksi dulu. Pengembangan jaringan kultur pisang ini kita lakukan bekerja sama dengan Balai Benih Hortikultura Magelang,” sambung Edhie.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →