Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini
KAPAN REMBANG BEBAS BUTA AKSARA?

PKBM Dinilai Miliki Peran Besar untuk Ikut Berantas Buta Aksara



Reporter:    /  @ 14:00:19  /  17 November 2016

    Print       Email
 Anggota FPKBM saat dilantik oleh Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto pada bulan Agustus 2016 lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Anggota FPKBM saat dilantik oleh Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto pada bulan Agustus 2016 lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Angka buta aksara di Kabupaten Rembang terhitung masih tinggi. Hingga  menjelang akhir 2016 ini, tercatat angka buta aksara mencapai 14.789 orang.

Terkait masih tingginya angka buta aksara tersebut, pusat kegiatan belajar masyarakat (FPKBM) dinilai memiliki peran penting untuk ikut mengurangi angka buta aksara, termasuk di Kabupaten Rembang.

Ketua Forum Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FPKBM) Rembang Sri Patnaningsih mengatakan, sebagai salah satu lembaga pendidikan nonformal yang konsen terhadap pemenuhan pemerataan pendidikan, khususnya di wilayah pedalaman, PKBM saat ini terus melakukan fungsinya untuk memberikan pendidikan, bagi mereka yang putus sekolah atau memang tidak mengenyam pendidikan formal sama sekali.

“Pembelajaran itu sangat penting sepanjang hayat. Sebab dengan belajar warga akan bisa lebih tahu dan bisa meningkatkan taraf hidupnya. Dengan masih tingginya jumlah warga yang masih buta aksara, kini pihak FPKBM Rembang terus berupaya bisa memberikan pendidikan yang maksimal bagi warga,” ujarnya.

Namun demikian, untuk proses pembelajaran yang dilaksanakan PKBM, menurutnya juga mengacu aturan dari pemerintah. Yakni, hanya dibatasi 200 jam per tahunnya. Untuk waktu setiap pertemuannya, katanya, menyesuaikan.

Lebih lanjut dirinya menyampaikan, dalam proses kegiatan yang dilaksanakan PKBM,, katanya, juga ada beberapa kendala yang dihadapi, di antaranya adalah waktu kegiatan belajar mengajar. Sebab, terkadang, warga yang ingin ikut dalam kegiatan tersebut terbentur dengan waktu kerja.

“Sebagian warga, terkadang ada yang memang lebih mementingkan kerja. Sebab, bagi mereka kerja lebih penting daripada hanya sekadar ikut belajar untuk bisa membaca dan menulis. Apalagi, bagi mereka yang usianya sudah di atas 30 hingga 40 tahun lebih,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →