Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Ayam Panggang Bledug Kuwu, Kuliner Grobogan yang Lezatnya Khas



Reporter:    /  @ 11:00:12  /  15 November 2016

    Print       Email
Ayam panggang pencok, kuliner khas Grobogan yang memiliki rasa khas. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ayam panggang pencok, kuliner khas Grobogan yang memiliki rasa khas. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Selama ini, mungkin hampir semua orang mengira bahwa Swikee merupakan satu-satunya makanan khas dari Grobogan. Padahal, masih ada lagi makanan khas lainnya yang tidak kalah nikmatnya dengan swikee. Yakni, ayam panggang Bledug.

Memang sampai saat ini tidak banyak yang tahu mengenai ayam panggang Bledug atau lebih dikenal dengan istilah ayam pencok. Apalagi sampai tahu bagaimana rasanya masakan khas ini. Sebab, keberadaan ataupun asal mula masakan khas ini hanya ada di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan yang berlokasi di sekitar objek wisata Bledug Kuwu. Dulunya, ayam panggang ini digunakan sebagai sesaji di Makam Mbah Iro Dukun, sesepuh warga Kuwu yang berlokasi di dalam kompleks objek wisata itu.

Di Desa Kuwu ini, ada beberapa warung makan yang menyediakan menu ayam panggang Bledug tersebut. Namun, pembuat makanan khas masyarakat setempat yang paling terkenal adalah Saminem.

Perempuan yang saat ini berumur 53 tahun ini adalah keturunan dari pencipta resep ayam panggang pencok tersebut. Sayangnya, tidak setiap saat kita bisa menikmati ayam panggang bikinan Saminen ini. Sebab, ia hanya membuat ayam panggang jika ada pesanan saja.

”Saya sengaja tidak mau buka warung makan ayam pencok ini karena repot ngurusnya dan lagi pula saya takut kalau tidak laku. Sampai saat ini saya hanya bikin ayam panggang kalau ada orang pesan saja. Kalau mau, bisa ke warung makan Jago Muda di dekat perempatan Kuwu selalu ada tiap hari,” ujar ibu empat orang anak yang sudah mahir membuat ayam panggang sejak usia belasan tahun itu.

Menurut Saminem, sebenarnya ayam panggang bikinannya tidak jauh berbeda dengan ayam panggang yang biasa dijual di rumah-rumah makan lainnya. Hanya saja, mungkin proses pembuatannya yang sedikit berbeda.

Untuk memasak satu ekor ayam diperlukan waktu sekitar 2,5 jam. Sebab, untuk memanggang ayam di atas bara api itu tidak boleh menggunakan bantuan kipas. Oleh sebab itu butuh waktu lama untuk mematangkan satu ekor ayam.

Saminem menunjukkan ayam panggang pencok masakannya. Kuliner ini terdapat di kawasan wisata Bledug Kuwu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Saminem menunjukkan ayam panggang pencok masakannya. Kuliner ini terdapat di kawasan wisata Bledug Kuwu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

”Saya tidak tahu pasti kenapa tidak diperbolehkan mengipasi bara api saat memanggang ayam ini. Yang jelas, kalau tidak pakai kipas rasa daging ayamnya jauh lebih enak kalau sudah matang,” katanya.

Setelah matang, ayam panggang itu sebenarnya sudah bisa disantap begitu saja. Karena sebelumnya ayam tersebut memang sudah dibumbui. Namun, jika ingin lebih nikmat, ayam panggang itu dicampur dengan urap kelapa (pencok) terlebih dahulu sebelum disantap.

”Yang disebut ayam pencok ini adalah ayam panggang yang dicampur dengan urap kelapa ini. Memang kalau digado atau dimakan begitu saja rasanya sudah enak tetapi kesannya kurang lengkap,” ujar Saminem.

Meski tidak buka warung makan, namun hampir setiap hari Saminen selalu menerima pesanan dari warga sekitar. Pesanan paling banyak diterima biasanya saat datang Hari Raya Idul Fitri. Di mana, saat itu dia bisa menerima pesanan sampai 50 ekor per hari. Adapun harga ayam panggang bikinannya berkisar Rp 85 ribu per ekor lengkap dengan urap kelapanya.

”Harga ayam panggang ini bergantung dengan harga ayam dipasaran. Perlu diketahui, ayam panggang ini berasal dari ayam kampung jadi harganya memang lebih mahal,” katanya.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →