Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

Pak Haryanto, Mari Belajar soal Kotak Kosong dari Pak Haris



Reporter:    /  @ 09:14:27  /  11 November 2016

    Print       Email
Siti Merie merqi194@yahoo.com

Siti Merie
[email protected]

PAMAN Gober dalam cerita Donald Bebek, yang majalahnya masih saya beli sampai sekarang ini, suka sekali dengan sesuatu yang berbau emas. Apalagi kalau peninggalan masa lalu. Dia akan rela terbang jauh sekali dari gudang uang di Kota Bebek tempatnya tinggal, saat menemukan sebuah peta harta karun. Dan memburunya sampai dapat, meski kadang-kadang harus membuat Donald Bebek dan para keponakannya, Kwak, Kwik, dan Kwek, kelabakan mengikutinya.

Sayangnya, seringkali Paman Gober gagal mendapatkan apa yang dia mau. Pasalnya, ketika lokasi di peta sudah didapatkan, kemudian digali, dan muncul sebuah kotak (khas cerita bajak laut yang menaruh hartanya dalam kotak), saat dibuka, isi kotak tersebut kosong. Hartanya tidak ada, entah di mana. Paman Gober yang sudah terlalu bernafsu itu, hanya bisa marah-marah karena gagal mendapatkan keinginannya.

Lain ceritanya dengan yang seorang pria asal Kabupaten Pati bernama Achmad Haris Dahlan. Orang ini berkebalikan dengan Paman Gober. Pak Haris ternyata lebih senang untuk mencari kotak kosong. Dia dengan bangga mengatakan bahwa pilihan akan kotak kosong itu adalah sebuah pilihan demokrasi yang dilindungi konstitusi. Itu sebabnya, meski sudah tahu kotaknya kosong, namun Pak Haris tetap saja ”cinta” dan memilihnya. Padahal, kotak kosong itu tidak menjanjikan apa-apa, namun tidak meruntuhkan hati Haris untuk berpindah ke yang lain.

Entah apa yang ada dalam pikiran Pak Haris. Meski di sebelahnya ada kotak ”harta karun” yang menyediakan segalanya, dia bergeming. Tetap memilih kotak kosong. Padahal, kotak harta karun itu juga sudah siap dengan segala apa yang diinginkan Pak Haris. Menyediakan apa yang dikarepke sama Pak Haris. Namun tetap saja dirinya, saat ini, kekeuh memilih kotak kosong. Pak Haris ini mungkin tidak terlalu suka dengan kotak harta karun, sehingga menetapkan hati untuk memilih kotak kosong.

Apa yang dilakukan Pak Haris ini terkait dengan pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Pati yang akan berlangsung pada 15 Februari 2017 mendatang. Karena hanya ada satu calon bupati dan wakil bupati, yakni pasangan Haryanto-Saiful Arifin, maka Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Pati akan ”mengadu” pasangan tersebut dengan kotak kosong. Jadi, masyarakat boleh memilih, apakah akan mencoblos Haryanto-Saiful Arifin, ataukah mencoblos kotak kosong. Nah, yang akan dilakukan Pak Haris adalah dirinya bakal mencoblos kotak kosong saat pemilu nanti. Sepanjang tidak ada sesuatu yang akan membatalkan niatnya tersebut.

Apa yang disampaikan Pak Haris ini, lantas dikomentari calon bupati satu-satunya, Pak Haryanto. Beliau bilang, kalau Kabupaten Pati sudah memperoleh banyak prestasi, sudah maju, pembangunan juga sudah di berbagai bidang, kenapa harus memilih kotak kosong. Pak Haryanto, bupati (nonaktif) itu menyebutkan, dirinya sudah bekerja keras selama lima tahun menjabat di Bumi Mina Tani, dengan segudang prestasi. Lantas, kenapa masih ada yang harus memilih kotak kosong. Dengan kata lain, Pak Haryanto ingin bilang ”saya kurangny apa, kenapa tidak pilih saya saja, to”.

Memilih, adalah sebuah hal yang terkadang sangat sulit dilakukan. Apalagi kalau sudah memakai perasaan. Contohnya saja saat memutuskan untuk menikah, seseorang akan begitu sulit menentukan perasaannya untuk memilih yang mana. Jangankan soal siapa calonnya, soal kapan menikah, kenapa menikah, dan lain-lain, juga sama ribetnya. Karena semua akan menjadi baper alias bawa perasaan. Wong mau milih pacar saja susahnya tidak karuan, oks.

Barangkali Pak Haryanto juga pernah merasakan saat hendak memilih pasangannya yang bernama Saiful Arifin itu, pasti juga susah sekali. Harus banyak pertimbangan yang dibuat, sebelum akhirnya memilih. Harus memilih banyak kandidat, sebelum menjatuhkan pilihan kepada Pak Saiful Arifin. Pakai baper juga tidak, pak? Mungkin saja begitu.

Karenanya, saat Pak Haris memilih untuk memilih kotak kosong, pastinya dia juga sudah banyak pertimbangan. Bahkan, kalaupun Pak Haris mengajak orang lain untuk ikut memilih kotak kosong, itu juga tidak menjadi masalah. Sepanjang dilakukan dengan cara damai, aman, dan sentosa, serta tidak menjelek-jelekkan pihak lain. Pak Haris mungkin merasa bahwa sosok tunggal yang bakal jadi pemimpinnya, belum sesuai dengan harapan dan perasaannya. Mungkin sebelumnya beliau menginginkan ada banyak sosok lainnya yang akan maju di pilkada. Sehingga pilihan yang ada, menjadi semakin berwarna. Satu calon dengan calon lainnya akan saling beradu program guna membuat Pati lebih sejahtera.

Fenomena Pak Haris ini, bagi calon, jangan lantas diremehkan. Selain karena tidak banyak orang yang mampu untuk terang-terangan mengakui kalau dirinya berbeda pilihan dengan yang lain, barangkali memang banyak orang yang sebenarnya memiliki pemikiran yang sama dengan Pak Haris ini. Hanya saja, karena mereka malu, maka cenderung diam saja. Fenomena ini juga tidak bisa diacuhkan begitu saja. Karena yang ketahuan hanya satu orang, lantas membiarkannya begitu saja. Sampai akhirnya tiba-tiba saja muncul Pak Haris dan Pak Haris lainnya, yang tidak segan-segan lagi untuk mendeklarasikan dirinya memilih kotak kosong. Kalau ini terjadi, bukankah itu akan membuat kelabakan.

Jika selama ini belum ada yang mengkampanyekan kotak kosong, inilah kesempatan yang bagus bagi tim sukses Pak Haryanto untuk melakukan kampanye memilih calonnya. Yaitu dengan mempromosikan segala bentuk prestasi dari Pak Haryanto kepada Pak Haris, supaya Pak Haris kemudian bisa berubah pikiran, dan tidak lagi memilih kotak kosong. Kalau sampai sukses memikat Pak Haris, barulah tim sukses ini bisa disebut sukses. Toh, sebagaimana kata Pak Haryanto, prestasi yang sudah diukirnya selama memimpin Pati, sudah banyak sekali. Jadi, rasanya jalannya sudah sedikit terbuka untuk meyakinkan seorang Pak Haris guna memilih calon tunggal yang ada.

Namun, Pak Haris adalah contoh demokrasi. Bagaimana demokrasi merupakan pilihan pribadi. Saling mengeluarkan pendapatnya, menghargai pendapat orang lain, adalah sebuah demokrasi yang harus ditanamkan sejak dini. Rakyat harus disadarkan bahwa mereka memiliki hak demokrasi yang menuntut mereka untuk memilih sesuai dengan hati nurani. Bukan karena yang lain. Sehingga kalau kemudian sampai pada waktunya pencoblosan nanti Pak Haris tetap pada pilihannya untuk memilih kotak kosong, berarti ya, tidak masalah kan, Pak Har?.

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →