Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini

Mbah Diono, Pejuang Pertempuran di Semarang yang Kini jadi Pawang Hujan



Reporter:    /  @ 14:05:02  /  10 November 2016

    Print       Email
 Diono Sutrisno, pejuang pertempuran di Semarang yang kini menjadi pawang hujan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

R.Diono Sutrisno, pejuang pertempuran di Semarang yang kini menjadi pawang hujan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang –  Di usianya yang menginjak 85 tahun, Mbah R. Diono Sutrisno masih terlihat sehat. Dengan nada penuh semangat ia menceritakan bagaimana perjuangannya untuk mempertahankan Kota Semarang dari serangan NICA.

Mbah Diono merupakan pejuang pertempuran 5 hari di Semarang yang masih hidup. Meski di usianya yang sudah uzur, Mbah Diono tidak pikun dan masih biasa beraktivitas memenuhi kebutuhan keluarganya.

Mbah Diono yang tinggal di Panjunan, Kelurahan Kutoharjo, Kecamatan Rembang ini, kini menyisakan sisa hidupnya dengan berakitivitas di rumah dan sesekali masih menerima jasa sebagai pawang hujan yang memang sudah ditekuninya sejak lama.

Dirinya juga menceritakan, bagaimana perjuangannya melawan tentara Jepang bersama temannya ketika itu. Waktu itu, katanya usianya masih belasan tujuh belas tahun.

“Dulu, usai sekolah dari sekolah rakyat (SR), ketika usia sekitar 17 tahun tepatnya di tahun 1945, saya kemudian melanjutkan sekolah lagi di Semarang yakni di Sekolah Pemuda. Ketika itu pergolakan untuk melawan NICA memang lagi ganas-ganasnya,” ujarnya.

Sebagai pemuda yang memiliki rasa nasionalisme tinggi terhadap Bangsa Indonesia, dirinya bersama teman-temanya ketika itu juga bergabung untuk melawan tentara Jepang. “Kala itu, pada 13 Oktober 1945 suasana seluruh Semarang menjadi mencekam. Saat kita akan melakukan pelucutan senjata, tentara Jepang yang masih dipimpin oleh Mayor Kido menolak keras dengan tindakan pemuda Semaramg. Dan akhirnya pada 16 hingga 20 Oktober terjadilah pertempura 5 hari di Semarang,” bebernya.

Waktu terus berjalan, saat Indonesia bebas dari penjajah, pada tahun 1964 ia menekuni profesi sebagai pawang hujan. “Pada tahun 1964 saya kemudian menikah dengan Hartatik orang Demak. Berhubung lama tak mempunyai keturunan, maka saya putuskan untuk berpisah,”ucapnya.

Setelah itu, pada tahun 1967 ia kemudian menikah lagi dengan Sulastri, warga Rembang dan kini dikarunia 3 orang anak.”Saat itu pula saya mengikuti Kursus Pendidikan Guru (KPG), dan akhirnya bisa diterima sebagai guru SD di Rembang hingga tahun 1999,” tuturnya.

Setelah pensiun dari guru SD, ia juga masih menekuni profesinya sebagai pawang hujan hingga kini. Katanya, sudah banyak masyarakat yang meminta tolong atau menggunakan jasanya sebagai pawang hujan.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →