Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini

”Bayi” Kartini Akhirnya Diserahkan Kembali ke Pemkab Jepara



Reporter:    /  @ 20:30:09  /  30 Oktober 2016

    Print       Email
kirab-kartini-3-e

Kirab kebudayaan dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang di dalamnya membawa benda-benda saat RA Kartini dilahirkan dahulu. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Penemuan benda-benda yang terkait dengan kelahiran bayi Raden Ajeng Kartini memang terbilang mengejutkan. Pasalnya, benda-benda itu memang selama ini lolos dari pengamatan sejarah yang ada.

Beruntung, ada orang-orang dan seniman serta budayawan di Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, yang masih peduli terhadap keberlangsungan benda-benda bersejarah itu. Mereka menggagas kegiatan yang diberi nama ”Negeri yang Terlahir Kembali”, yang dilaksanakan berbarengan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2016 kemarin.

Selain acara pentas seni yang dilaksanakan di pendapa kecamatan, juga dilaksanakan kirab yang salah satunya membawa benda-benda sejarah, saat RA Kartini dilahirkan dahulu. Kirab diawali dari Balai Desa Pelemkerep, hingga ke kantor kecamatan.

Kang Munif, koordinator kegiatan, mengatakan bahwa bersama-bersama dengan seniman lainnya yang ada di Kecamatan Mayong, pihaknya ingin peringatan Hari Sumpah Pemuda ini, dijadikan momentum kesadaran bertanah air satu, berkebangsaan yang satu, dan Bahasa Indonesia merupakan alat untuk mendukung persatuan tersebut.

”Kesadaran ini adalah sebuah kelahiran pemikiran akan kebangsaan dan nasionalisme. Pemikiran ini menjadi obor penerang dari kegelapan nasib kelam sebuah bangsa yang ratusan tahun terjajah. Ibu pertiwi yang terkungkung dalam kegelapan adat deskriminasi penjajahan kolonialisme,” tuturnya.

Namun, yang menarik memang adalah benda-benda yang dikirab dalam kegiatan tersebut. Karena selama ini, banyak orang yang tidak mengetahui bagaimana sebenarnya kondisi saat Kartini dilahirkan dahulu.

Menurut salah seorang panitia, Kasturi, benda-benda itu antara lain ranjang tempat Kartini dilahirkan, pilisan atau landasan untuk membuat bedak untuk perempuan yang habis melahirkan, bedak herbal untuk pereda nyeri, kotak popok, lumpang, kastok cermin, kastok tanpa cermin, kap lampu kamar, dan piring kuno. Semuanya berhubungan dengan kelahiran Kartini.

”Ada barang-barang lain seperti biji-bijian, dedaunan, dan rempah-rempah untuk jamu. Serta ada juga benda-benda lainnya. Semuanya berhubungan dengan kelahiran RA Kartini,” katanya.

Barang-barang tersebut, menurut Kasturi, sangat berharga serta bernilai sejarah tinggi. Pasalnya, umurnya sudah ratusan tahun. Ditambah lagi, informasi keberadaan barang-barang ini memang tidak banyak diketahui orang. ”Serta penemunya masih dirahasiakan. Hal ini dimaksud untuk menjaga keamanan barang-barang tersebut,” tegasnya.

Kegiatan ini sendiri, diikuti oleh mereka para seniman dan masyarakat yang peduli dengan sejarah, yang tergabung dalam komunitas ”Njagong Kabudayan”. Banyak sanggar yang ikut serta di dalamnya. Selain Sanggar BTS, ada juga Sanggar Kidung Suwung, Komunitas Punden, Grup Musik Akustik Santri Jalanan, Kelompok Seni TeRaSS omah, dan Masyarakat Seni Mayong.

Usai dikirab, benda-benda itu lantas diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar). Selanjutnya benda-benda itu disimpan di Museum Pesanggrahan Kartini.

Yang menyerahkan adalah KRT Siwoyo Hendro Pramono kepada kepala Disbudpar Jepara. KRT Siwoyo sendiri adalah cucu abdi dalem Kawedanan Mayong saat ayah Kartini menjabat wedana di wilayah itu.

Editor: Merie

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →