Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

Tiba-tiba Saja Teman Saya Bilang Diamput…



Reporter:    /  @ 09:35:40  /  28 Oktober 2016

    Print       Email
Siti Merie merqi194@yahoo.com

Siti Merie
[email protected]

INI kisah teman saya yang tiba-tiba saja menuliskan di akun Facebook-nya, kata-kata atau dialek khas Jawa Timur sana. Diamput. Sebuah kata-kata yang dirasakan pas, untuk mengungkapkan rasa jengkel luar biasa, namun tidak bisa berbuat apa-apa terhadap sebuah kondisi atau keadaan. Kalau di Jawa Timur sana, itu adalah sebuah umpatan biasa. Tapi kalau di sini, orang lain akan bilang ”saru” atau tidak sopan.

Tapi tidak apa-apalah. Karena saya pikir, semua orang sekarang sudah menyadari bahwa lain lubuk lain belalang alias lain daerah lain kebiasaan. Namun, jangan lupa juga bahwa di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sehingga semua harus bisa menyesuaikan di manapun Anda berada.

Oh, ya. kita tidak sedang membicarakan soal dialek tertentu pada satu wilayah kok, ya. Kita sedang membicarakan teman saya yang memang dari daerah timuran sana, yang tiba-tiba saja mengeluarkan umpatan ”diamput” di akun fesbuknya. Pasalnya, dia kena tilang karena dinilai telah melanggar lampu merah saat berada di perempatan jalan, yang ndilalahnya bentuknya tidak tepat segi empat, melainkan perempatan yang serong.

Sudah dianggap melanggar lampu bangjo, begitu biasa disebut, masih ditambah lagi ”hukuman” karena dirinya tidak membawa STNK sepeda motornya. Lah, kok ndilalahnya, dia tidak bisa kongkalingkong dengan sang penilang, meski yang nilang kenal dirinya. Mungkin saat ini sedang hangat-hangatnya pemberantasan pungli, sehingga sang penilang takut kalau dia membiarkan teman saya itu lolos, maka bisa-bisa dia yang kena masalah. Siapa ada yang merekamnya dan meng-upload-nya di media sosial. Kan, bisa-bisa dirinya yang sooo-sial sekali. Namun jika ingin berbaik sangka, setidaknya sang penilang itu sudah jujur melaksanakan tugasnya. Menilang teman saya yang ”dianggap” melanggar lampu merah dan tidak membawa STNK.

Penilangan itu terjadi, karena teman saya terlambat mengencangkan gas motornya, saat lampu hijau sudah kriyip-kriyip hendak berubah menjadi merah. Apalagi, jalur yang dilalui adalah perempatan yang tidak lurus, namun serong. Sehingga kecepatan motor harusnya tetap kencang. Sayangnya, dia agak terlambat melakukannya, sehingga sudah terkena lampu merah. Dan arus lalu lintas dari depannya, ternyata sudah duluan ngegas, sehingga tempuklah di tengah-tengah. Apesnya, yang dianggap menerobos lampu lalu lintas adalah teman saya itu. Makanya, dia tetap saja ditilang. Ndilalah, STNK motornya tidak kebawa juga. Apes dua kali.

Ini terjadi di jalan yang sekarang ini mendadak sering dikeluhkan para pengguna kendaraan di Kudus. Yakni Jalan Jenderal Sudirman. Sejak diujicoba sebulan lalu menjadi dua arah, tiba-tiba saja banyak sekali keluhan yang muncul akibat kebijakan itu. Rata-rata keluhannya adalah makin semrawutnya jalur tersebut, akibat kebijakan dua arah. Apalagi pada jam-jam sibuk, yang semakin menambah urusan soal kesabaran. Jam sibuk dibagi menjadi tiga. Pertama di pagi hari saat anak-anak masuk sekolah dan orang tua berangkat bekerja, siang hari saat orang tua menjemput anak-anaknya yang pulang sekolah, dan ketiga adalah saat orang tua pulang kerja. Satu lagi jam sibuk kalau boleh ditambahkan, adalah saat-saat jam istirahat kantor. Ada empat kali jam sibuk di Kudus ini.

Jalan-jalan di Kudus memang sempit. Meski keuntungannya adalah, banyak sekali jalur-jalur kecilnya sehingga banyak jalur yang digunakan untuk arus ”buangan” kalau tiba-tiba saja, para pemangku kebijakan di Kudus ini menyelenggarakan suatu acara di Alun-alun Kudus, yang pastinya bermassa banyak. Otomatis, arus lalu lintas harus dibuang ke beberapa jalur kecil, yang memang sejauh ini dapat ditampung. Karena itulah, di Kudus banyak sekali jalur satu arah.

Rupa-rupanya, Pemkab Kudus berpikiran untuk menggandakan jalur yang ada. Dari satu jalur ke dua jalur. Sehingga kalau Anda yang datang dari arah Pasar Kliwon, tidak perlu lagi mutar arah untuk menuju ke alun-alun. Cukup lurus saja ke sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, sudah sampai ke alun-alun. Itu contoh jalur dua arah yang sekarang sepertinya akan diterapkan kepada jalur-jalur lain di Kudus ini.

Contoh saja di Jalan Ahmad Yani. Dengar-dengar juga, jalur itu akan dibuat dua arah. Apalagi, median jalan juga sudah disingkirkan, yang lantas menjelma menjadi jalur-jalur parkir, dengan mengesampingkan kenyamanan pengguna sepeda motor. Dan penataan dua jalur, juga sepertinya akan dilakukan di Jalan Sunan Kudus. Pohon-pohon juga sudah ditebangi, median jalan juga sudah disingkirkan. Sehingga terlihat jika jalan menjadi lebih lebar.

Sayangnya, yang terlihat ”menang” dari situasi itu adalah keberadaan parkir. Di Jalan Jenderal Sudirman yang sering menimbulkan keluhan akibat kemacetan yang makin parah, salah satu penyebabnya karena kendaraan yang parkir di kanan dan kiri jalan. Lebar jalan yang tidak seberapa itu, harus dibagi dua jalur, yang dipersempit lagi dengan keberadaan kendaraan-kendaraan yang parkir di pinggir kanan dan kiri jalan. Masih ditambah lagi rentetan pertokoan yang tidak memiliki lahan parkir untuk pelanggan mereka. Jadilah kemudian yang terlihat adalah macet sepanjang hari.

Pemandangan kemacetan itu makin parah, karena ternyata masih banyak truk-truk besar yang melewati jalur perkotaan. Sehingga jalan yang sudah sangat sempit itu, menjadi makin tidak bisa dibelah, akibat banyaknya kendaraan yang ada. Ditambah perilaku pengendara yang belum sepenuhnya sadar, bagaimana menempatkan diri mereka dengan sebaik-baiknya.

Saat ini, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Kudus, sedang menggodok yang namanya Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Lalu Lintas. Di mana salah satunya isinya nanti adalah pembahasan mengenai ketentuan lalu lintas yang ada di Kudus ini. Bagaimana arus lalu lintas diatur, areal parkir di jalan diberi ketentuan sendiri, dan lain sebagainya yang terkait lalu lintas. Sehingga diharapkan kondisi lalu lintas di Kudus ini akan tertata dengan baik.

Kita patut melihat bagaimana Dishubkominfo nanti menjabarkan arus lalu lintas di Kudus, menjadi sebuah arus yang nyaman bagi penghuninya, meski dengan kondisi jalan yang tidak kemana-mana lebarnya. Masih di situ-situ saja. Bagaimana kreativitas dinas, bisa memperkirakan bagaimana bentuk arus lalu lintas di Kudus untuk dua puluh tahun mendatang misalnya, di mana penduduk akan semakin banyak. Sehingga pengguna kendaraan juga akan semakin banyak.

Rasanya, memang masih banyak pekerjaan rumah bagi dinas tersebut, untuk menata kembali arus lalu lintas yang baik. Bagaimana memikirkan jalur Jenderal Sudirman itu, menjadi jalur yang nyaman meski dua arah. Termasuk pembenahan sarana dan prasarananya, sehingga tidak ada lagi umpatan sayang dari penggunanya. Meski di satu sisi ada juga yang bilang, kebijakan memang harus dipaksakan. Setelah itu akan menjadi biasa. Kan, ada pepatah bilang ala bisa karena biasa. Namun kalau ala-nya sudah ruwet sejak awal, maka yang terjadi kita akan ter-biasa untuk melawannya. Atau setidaknya, mengumpat ”diamput” seperti teman saya tadi. Pemkab Kudus juga harus rajin meminta masukan kepada masyarakat luas, akan baik tidaknya sebuah kebijakan. Pelibatan masyarakat adalah satu hal penting, supaya mereka benar-benar bisa ikut serta dalam pembangunan. Pemerintah tentu saja tidak mau dihujani kata ”diamput” yang dilontarkan bareng-bareng oleh ratusan ribu warga Kudus, kan. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →