Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Pernah Lihat Penjual Cilok Keliling yang Keren Seperti Ini? Ini Cuma Ada di Grobogan



Reporter:    /  @ 18:46:52  /  27 Oktober 2016

    Print       Email
Masdi, penjual cilok keliling yang kenakan pakaian parlente. Selalu gunakan jas, lengkap dengan dasi, peci hitam dan sepatu pantofel. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Masdi, penjual cilok keliling yang kenakan pakaian parlente. Selalu gunakan jas, lengkap dengan dasi, peci hitam dan sepatu pantofel. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Ada sisi lain yang menarik di balik acara Grand Launching Desa Wisata Banjarejo, Kamis (27/10/2016). Hal ini terjadi ketika ada seorang pria berpakain jas dan berdasi serta mengenakan kopiah hitam yang berdiri di belakang tamu undangan.

Melihat ada orang berpenampilan seperti pejabat, beberapa tamu dari dinas dan instansi ada yang menawarkan tempat duduknya. Namun, pria yang juga mengenakan kacamata dan sepatu kulit itu menolak dengan halus.

“Saya cuma mau lihat keramaian sebentar saja. Soalnya, saya lihat ke sini sambil jualan di depan balai desa. Saya permisi dulu karena ada pembeli yang nunggu,” katanya sambil beranjak meninggalkan lokasi kagiatan.

Dari halaman Balai Desa Banjarejo terlihat pria tersebut memang seorang pedagang. Barang yang dijual ditempatkan dalam kotak aluminium dan ditaruh bagian di belakang jok sepeda motornya.

“Saya ini seorang penjual sate pentol kelilingan. Nama saya Masdi dan saya asli orang Banjarejo, tinggalnya di Dusun Kedungjati,” katanya sembari melayani pembeli.

Masdi bercerita, sejak awal jualan sate pentol atau cilok, dia sudah berpenampilan necis seperti itu. Selama ini, memang banyak yang mengira kalau dia adalah pegawai atau pengusaha lantaran penampilan perlentenya itu.

Soal penampilannya yang tidak lazim buat penjual sate pentol, Masdi mengatakan, jika sengaja ingin tampil beda. Tujuannya supaya mudah dikenal dan menarik pembeli. “Semua pembeli pasti senang dengan penjual yang berpakaian rapi, menarik, dan ramah. Selain itu, saya sengaja berpakaian rapi dan bersih seperti ini karena merupakan salah satu bagian dari keimanan,” ujar pria 48 tahun.

Untuk ‘seragam’ harian berjualan keliling, Masdi mengaku punya stok dasi sebanyak 12 biji. Kemudian, ada 4 stel jas dan dua pasang sepatu kulit. Masdi sudah berjualan sate pentol sejak tahun 1993. Selain di desanya, Masdi juga berjualan keliling hingga wilayah Blora bagian barat. Biasanya, dia berjualan di tempat keramaian dan acara hajatan.“Alhamdulillah selama ini dagangan saya laris. Tiap hari saya bisa habiskan dagangan 30-40 kilo,” katanya.

Dari hasil jerih payahnya, Masdi bisa menyekolahkan ketiga anaknya. Anak pertama sudah tamat SMA dan baru saja menikah. Sedangkan anak keduanya masih sekolah SMA di Blora dan anak bungsu masih berguru di salah satu pondok pesantren di Demak.

“Hasil jualan memang saya utamakan untuk menyekolahkan anak. Minimal, anak saya harus bisa tamat SMA. Syukur-syukur nanti ada yang bisa sampai perguruan tinggi,” cetusnya sambil menawarkan dagangannya untuk dicicipi.

Masdi mengaku memilih jualan sate pentol karena hasilnya bisa didapat tiap hari dibandingkan dengan bertani. Saat bertani, hasilnya baru bisa dirasakan tiga atau empat bulan setelah tanam. Itupun jika tidak ada hama yang menyerang tanaman dan harga panennya tidak jatuh. “Meski jualan kecil-kecilan seperti ini hasilnya lumayan. Setiap bulan, bisa dapat penghasilan minimal Rp 1 juta,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →