Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini
SEJARAH KERAJAAN MEDANG KAMULAN DI GROBOGAN (9)

9 Gundukan Tanah di Areal Sawah Desa Banjarejo Masih jadi Misteri yang Belum Terpecahkan Sampai Sekarang



Reporter:    /  @ 10:00:07  /  27 Oktober 2016

    Print       Email
Salah satu gundukan tanah yang berada di areal sawah Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus yang kini masih jadi misteri (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah satu gundukan tanah yang berada di areal sawah Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus yang kini masih jadi misteri (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Selain benda-benda kuno yang sudah ditemukan, masih terdapat satu lagi misteri di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus yang belum berhasil dipecahkan hingga saat ini. Yakni, adanya 9 gundukan tanah di areal sawah yang berada di Dusun Nganggil dan Dusun Medang. Oleh warga setempat, gundukan tanah di tengah hamparan sawah itu disebut punthuk. Lokasi punthuk itu menyebar. Jarak paling jauh antar punthuk berkisar 1 km. Sedangkan jarak terdekat sekitar 200 meter. Tinggi punthuk berkisar 1 hingga 1,5 meter.

Luas tiap punthuk tersebut berbeda-beda. Ada yang seluas lapangan badminton. Ada juga yang luasnya seukuran lapangan voli dan tenis. Lokasi punthuk ini juga berdekatan dengan tempat ditemukannya pondasi kuno dari tatanan batu bata.

Dari cerita warga, punthuk itu sudah ada sejak lama. Hingga sekarang, warga tidak berani meratakan punthuk tersebut dan membiarkannya tetap dalam kondisi seperti itu. Warga meyakini, punthuk-punthuk itu dinilai punya nilai historis dengan sejarah Kerajaan Medang Kamulan yang mereka yakini pernah berdiri didesanya ribuan tahun lalu. Makanya, warga setempat tidak berani mengganggu keberadaan punthuk yang didalamnya disebut-sebut jadi tempat penyimpanan barang berharga pada masa lampau.

“Keberadaan punthuk-punthuk itu barangkali sudah ribuan tahun lamanya. Hingga saat ini, keberadaan punthuk itu masih dilestarikan karena dinilai jadi bagian sejarah yang ada di Desa Banjarejo sini,” kata Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Soal anggapan kalau punthuk itu menyimpan benda berharga, Taufik tidak berani memastikan. Namun, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, memang ada benda-benda kuno yang ditemukan di lokasi punthuk tersebut atau disekitarnya. Baik berupa perhiasan emas atau peralatan kuno dari batu.

Sementara itu, saat berkunjung ke Desa Banjarejo beberapa waktu lalu, tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta sempat melihat-lihat dan mengamati keberadaan salah satu punthuk yang ada di selatan pondasi kuno dari tatatan batu bata. Dalam skala arkeologi ruang, punthuk-punthuk ini menjadi bagian penting dan integral di dalam situs Medang. “Disekitar situ sempat ditemukan fragmen artefak yang cukup padat. Hal ini menjadi penting artinya untuk mengetahui “isi” dari masing-masing punthuk untuk mendapatkan data arkeologi di sana,” kata Sugeng Riyanto, ketua tim peneliti dari Balar Yogyakarta saat itu.

Dalam kunjungan pertamanya di Desa Banjarejo tahun 2014, sempat diambil beberapa sampel fragmen artefak. Yakni, dari fragmen keramik, tembikar, dan tulang. Berdasarkan analisis sementara atas fragmen keramik yang berasal dari Dinasti Sung, Ming, hingga Ching maka diperkirakan situs konologi di situs Medang berada antara abad ke-12 hingga abad ke-17 Masehi.

Baca juga : Keberadaan Museum di Desa Banjarejo Grobogan Diperlukan Menyusul Semakin Banyaknya Koleksi Benda Purbakala

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →