Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

Saat Sailor Moon Melawan Dimas Kanjeng



Reporter:    /  @ 10:00:16  /  22 Oktober 2016

    Print       Email
Siti Merie merqi194@yahoo.com

Siti Merie
[email protected]

”DENGAN kekuatan bulan, aku akan menghukummu”

Pernah dengar kalimat itu, kan? Apalagi bagi generasi 90-an yang kalau setiap hari Minggu rajin duduk di depan televisi, dan menyaksikan sederetan kartun-kartun yang diputar. Pastinya sudah akrab banget dengan kalimat tersebut.

Itu adalah kalimat dari heroine atau superhero perempuan bernama Sailor Moon. Pahlawan berambut panjang yang dikuncir, dan memakai baju mini (maaf, red) berwarna-warni itu, siap mengacungkan tongkat rembulannya, untuk menghukum para penjahat yang sudah merusak ketentraman bumi. Atau ketentraman kelompok mereka tepatnya. Bagi yang belum paham siapa itu Sailor Moon dan kawan-kawannya, silakan buka saja di Youtube, ya. Atau tanya kepada bapak dan ibu Anda semua.

Sailor Moon punya kekuatan bulan untuk menghukum para penjahat. Dengan kekuatan bulan yang disalurkan melalui tongkat ajaibnya itu, maka dia dengan mudah mengalahkan lawan-lawannya. Kalau tongkat Sailor Moon sudah bekerja, berarti episode hari itu, selesai sudah. Sampai kemudian sang bulan datang lagi pada pekan berikutnya.

Jika Sailor Moon adalah kartun bikinan Jepang, di Indonesia juga ada cerita-cerita yang mirip dengan kisah Sailor Moon. Kisahnya bahkan lebih gegap gempita, dan terus menerus diulang-ulang pada setiap pemberitaan yang ada di media. Terutama media televisi. Setiap sisi dari kisah ini, bahkan sudah diungkap habis, namun seolah tidak ada habis-habisnya. Entah episodenya bisa mengalahkan episode Sailor Moon atau tidak.

Ini adalah sosok hero atau ”pahlawan” dari negeri yang bernama Probolinggo, Jawa Timur. Namanya Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Jika Sailor Moon memakai tongkat dan mengeluarkan sinar untuk melumpuhkan lawan-lawannya, Dimas Kanjeng ini punya jubah yang bisa mengeluarkan uang, dan sangat ”melumpuhkan” mata dan pikiran ribuan orang dari penjuru Indonesia. Miliaran uang bisa keluar dari jubah Dimas Kanjeng, dan disebar kemana-mana. Termasuk kepada mereka yang sudah menanamkan ”modal” miliaran rupiah dengan harapan bisa mendapatkan kembali puluhan miliar rupiah. Sebagaimana janji Dimas Kanjeng yang mengatakan bisa mengandakan uang.

Dan begitulah. Kisahnya seperti membuka kotak pandora. Begitu terbuka, maka semakin banyak kisah-kisah lainnya dari sosok Dimas Kanjeng ini yang mencengangkan. Bukan saja dari ratusan miliar uang masyarakat yang sudah disetorkan ke sana, tetapi juga sampai dengan kisah aset-aset kekayaannya yang kini juga tengah jadi ”rebutan”.

Entah apa yang kemudian membuat Dimas Kanjeng begitu dipercaya masyarakat atau yang biasa disebut ”santri”, guna dititipi miliaran uang. Termasuk tidak paham, bagaimana orang-orang yang sudah memiliki uang puluhan, ratusan juta, hingga miliaran itu, kemudian rela dengan senang hati menyerahkan uang tersebut kepada Dimas Kanjeng. Jika mereka butuh uang, harusnya uang-uang yang sudah ada itu, digunakan saja untuk keperluan mereka. Selesai sudah.

Belum selesai soal Dimas Kanjeng, tiba-tiba saja aparat Polda Jawa Tengah menangkap seorang warga Kabupaten Grobogan, yang diduga melakukan praktik-praktik selayaknya Dimas Kanjeng. Namanya Mbah Gondrong. Awalnya berpraktik mengobati atau soal kesehatan, namun berubah menjadi model-model penggandaan uang dan barang berharga. Kali ini, yang baru diketahui kerugian korbannya adalah Rp 30 miliar. Termasuk juga perhiasan-perhiasan emas, yang dikatakan akan bisa menjelma menjadi lebih banyak dari sebelumnya.

Tan Malaka, salah seorang revolusioner Indonesia, mengatakan dalam buku Madilog-nya bahwa bangsa Indonesia memandang bahwa apa yang terjadi di dunia ini, dipengaruhi kekuatan keramat di alam gaib. Apalagi ketika mereka memiliki sebuah persoalan atau permasalahan pribadi.

Cara pandang ini disebut Tan Malaka sebagai logika mistika. Dan logika ini disebut Tan Malaka sangat melumpuhkan. Pasalnya, ketimbang menangani sendiri permasalahan yang dihadapi, ternyata masyarakat Indonesia lebih memilih dan mengharapkan kekuatan-kekuatan gaib itu sendiri, untuk menyelesaikan masalah mereka. Karena itu, mereka masyarakat Indonesia mengadakan mantra, sesajen, dan doa-doa. Harapannya, ketika selesai melakukan ritual-ritual itu, maka persoalan itu akan selesai dengan sendirinya.

Namun, mereka-mereka (masyarakat Indonesia, red) yang datang ke Dimas Kanjeng dan Mbah Gondrong, adalah cerminan dari kita, sebagaimana yang dikatakan Tan Malaka. Saya yakin mereka juga sudah berusaha untuk menyelesaikan persoalannya dengan cara yang penuh dengan logika. Namun, mungkin sudah mentok, makanya larinya ke hal-hal gaib. Barangkali mantranya adalah ”dengan kekuatan gaib, datanglah dan selesailah semuanya”. Sehingga saat membuka mata keesokan harinya, mereka sudah tampil sebagai pribadi yang baru dan ”seolah-olah” masalah itu sudah lepas dari hidup mereka.

Kengototan beberapa orang yang masih bertahan di padepokan Dimas Kanjeng, bisa menjadi contoh akan hal itu. Meski Dimas Kanjeng sudah jelas-jelas ditahan pihak kepolisian karena diduga ikut terlibat kasus pembunuhan, belum lagi ditambah dugaan penipuan, namun mereka masih tetap saja bertahan di sana. Mengharapkan Dimas Kanjeng datang dan memenuhi janjinya untuk menggandakan uang yang sudah disetorkan sebelumnya. Jika ada alasan lain, mungkin mereka malu pulang jika belum bisa membawa uang-uang tersebut. Malu kepada keluarga yang sudah ditinggalkan begitu lama, demi janji menjadi lebih kaya dari sebelumnya. Sehingga bisa mengatasi semua masalah yang ada.

Apa yang terjadi pada bangsa ini, membuktikan bahwa kerja keras untuk menyejahterakan rakyat memang belum akan selesai. Bukan saja dalam skala nasional, namun dalam urusan kedaerahan. Pemerintah daerah memiliki pekerjaan rumah yang sangat banyak, untuk memastikan jika warga mereka tidak lagi mengandalkan kekuatan gaib untuk bisa memenuhi apa yang mereka inginkan. Tuntutan hidup, kalaulah boleh dibilang begitu, membuat warga terkadang melakukan apa saja, agar semua bisa tercukupi.

Jika bangsa ini masih terjebak kepada logika-logika mistis seperti ini, sulit sekali untuk bisa berkembang. Apalagi maju. Salah satu sektor yang harus diperbaiki adalah bidang pendidikan. Untuk para kepala daerah di eks Karesidenan Pati, dan di manapun, bangunlah sektor pendidikan Anda sebaik-baiknya. Anak-anak harus sekolah, setidaknya sampai pendidikan menengah, untuk bisa mejadi manusia yang cukup punya modal untuk bertahan hidup. Menjamin pendidikan mereka tercukupi juga sebenarnya mudah. Asal ada komitmen dari para pemangku kebijakannya. Kita tidak ingin sektor pendidikan selalu dikalahkan dengan keinginan memperbaiki infrastruktur yang terus menerus dilakukan setiap tahunnya. Seolah tanpa henti.

Masalah pendidikan masih dianggap enteng di negeri ini. Termasuk sarana dan prasarananya. Namun biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendidikan yang layak, terus saja dinaikkan. Apalagi muncul tren pendidikan bergengsi, yang hanya mampu menampung anak-anak dari kalangan mampu saja. Masyarakat di sebagian wilayah, menjadi sangat sulit untuk menjangkaunya. Akhirnya, banyak yang memilih berhenti begitu saja, karena sudah tidak kuat lagi membelanjakan uang yang pas-pasan itu. Banyak masyarakat yang memilih membelanjakannya untuk makan, dibanding untuk pendidikan mereka.

Sebagaimana nasehat baik, bahwa seseorang tidak akan berubah nasibnya, jika bukan dia sendiri yang mengubahnya. Jadi, jangan andalkan Dimas Kanjeng atau bahkan Sailor Moon untuk melakukannya. Kita sendiri yang harus melakukannya. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →