Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Blora  >  Artikel ini

Warga Blora Ramaikan Haul Syekh Abdul Qohar



   /  @ 22:09:24  /  17 Oktober 2016

    Print       Email
Warga memadati lokasi haul Syekh Abdul Qodar di Desa Ngampelgading, Kecamatan Blora. (Polres Blora)

Warga memadati lokasi haul Syekh Abdul Qodar di Desa Ngampelgading, Kecamatan Blora. (Polres Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Warga Kabupaten Blora meramaikan haul Syekh Abdul Qohar di Desa Ngampelgading, Kecamatan/Kabupaten Blora, beberapa hari terakhir ini. Saking ramainya, Kepolisian Resor Blora menerjunkan puluhan personel.

Tujuannya untuk menjaga situasi kamtibmas dan kamseltibcar setempat, aman, lancar dan masyarakat merasa aman, nyaman, dan hikmat dalam mengikuti pengajian dan ziarah ke makam Syeh Abdul Qohar.

Dalam sejarah perkembangan agama Islam di Kabupaten Blora, Syekh Abdul Qohar adalah salah satu kiai atau ulama besar yang sangat berpengaruh dalam peradaban agama Islam di Kabupaten Blora ini. Syekh Abdul Qohar merupakan keturunan Kesultanan Demak dari garis Joko Tingkir. Syekh Abdul Qohar, pada masa mudanya memiliki kebiasaan mengembara. Seolah beliau tidak menghiraukan status kebangsawanan Demak yang melekat pada pribadi beliau.

Perjalanan mengikuti arus sungaipun juga dilakukan. Sampai suatu ketika, Syekh Abdul Qohar muda bertemu dengan salah satu ulama kharismatik dari Desa Tambak Selo, sebuah desa di perbatasan Blora – Rembang saat ini. Ulama Kharismatik ini  bernama Kiai Nur Faqih.

Kemudian Syekh Abdul Qohar menimba ilmu agama Islam dengan Kiai Nur Faqih dan menetap di Kabupaten Blora. Dia bertekat untuk mensyiarkan atau menyebarkan Agama Islam. Sampai akhirnya Syekh Abdul Qohar wafat, dan dimakamkan di Desa Ngampel, Kecamatan Blora.

Dalam sebuah dialog, kiai Nur Faqih menegur kebiasaan Syeh Abdul Qohar yang menyukai aktivitas mengembara. Menghormati teguran kiai Nur Faqih Tambak Selo, Syekh Abdul Qohar meminta saran tempat tinggal untuk menetap dan melakukan syiar agama Islam.

Kiai Nur Faqih memberikan sebuah takir ( nasi yang dibungkus daun pisang ) kepada Syekh Abdul Qohar. Kiai Nur Faqih berpesan agar takir tersebut dihanyutkan di sungai, Syekh Abdul Qohar harus menetap di tempat di mana takir tersebut  terhenti. Pada akhirnya takir tersebut terhenti di Desa Ngampelgading, Kecamatan Blora.

Di Ngampelgading, Syekh Abdul Qohar menetap ditemani salah seorang santrinya dari tanah sunda. Tidak lama berselang, Syekh Abdul Qohar menikahi putri Ki Ageng Selo yang bernama Siti Zulaikho dan memiliki dua putri. Putri pertama bernama  Siti Tarwiyah menikah dengan Raden Mas Iskandar, putra Tumenggung Kedu. Putri Kedua bernama Siti Arofah menikah dengan Tumenggung Mayor Tuyuhan Putra Pangeran Sambu dari Lasem, Kabupaten Rembang.

Untuk haul Syekh Abdul Qohar dilaksanakan dalam satu hari. Semenjak tahun 2002, haul dilaksanakan dalam empat hari dengan iringan banyak kegiatan keagamaan. Hal ini mengisyaratkan bahwa animo masyarakat dalam mengenang Syekh Abdul Qohar  sangatlah besar. Sebagai penyebar Islam di Blora, juga sebagai bangsawan pengembara.

Editor : Akrom Hazami

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →