Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

Perhatian, Ini Anaknya Siapa Coba?



Reporter:    /  @ 10:00:23  /  14 Oktober 2016

    Print       Email
Siti Merie merqi194@yahoo.com

Siti Merie [email protected]

SATU malam, di sebuah warung bakso. Tiga manusia masuk ke dalam warung dan mengambil tempat duduk di pinggir pintu. Seorang laki-laki tinggi tegap, seorang perempuan, dan seorang bocah perempuan yang dengan sigap duduk sendiri di bangku yang dipilihnya. Mereka sepertinya adalah pasangan keluarga muda.

Usai memesan bakso yang diinginkan, sang laki-laki dan perempuan itu lantas beralih ke kesibukan lain. Yakni pegang telepon seluler (ponsel) masing-masing. Entah apa yang diceknya, kesibukan baru itu seolah meminggirkan sang anak perempuan tadi, yang mulai bertanya macam-macam.

Berulangkali anak tersebut bertanya, tapi jawaban laki-laki dan perempuan itu hanya sekadarnya. Malah cenderung mengingatkan sang anak untuk diam saja sambil menunggu baksonya datang. Sampai akhirnya, anaknya memainkan sendok dan garpu yang ada di meja dengan keras-keras, namun justru yang didapatkan malah teguran keras dari sang ibu. Menyuruhnya untuk diam saja, dengan matanya tidak beralih dari layar ponsel.

Saya lantas kepo dan melirik sebenarnya apa yang sedang terjadi di bangku sebelah saya itu. Karena bangkunya cukup mepet, saya bisa tahu jika yang sedang dicek pasangan suami istri itu adalah akun sosial bernama Facebook. Jempol keduanya tidak berhenti scrooll ke atas bawah di layar ponsel, sambil sesekali mengetik komentar di sebuah status. Hingga akhirnya bakso pesanan datang, keduanya juga masih asyik seperti itu. Sebuah pemandangan yang sepertinya memang sudah cukup biasa kita lihat akhir-akhir ini.

Beberapa waktu lalu, sebuah berita mengejutkan juga datang. Seorang balita yang usianya baru tiga tahun, perempuan juga, jatuh dari lantai dua sebuah mal di Kabupaten Kudus. Saat itu, balita tersebut lepas dari pengawasan orang tua yang sedang memilih tas di salah satu gerai di sana. Bukan hendak mengabaikan sang anak, tapi gerak lincah bocah yang sedang tumbuh berkembang itu, memang susah diprediksi. Apalagi, dia tidak bisa membedakan mana yang bahaya mana yang tidak. Namun ajaibnya, balita ini bisa sembuh sekarang. Dengan doa dan usaha serta penanganan awal yang baik dan perawatan maksimal, hidup sang balita masih bisa berlanjut.

Satu lagi cerita soal anak-anak datang dari ruang ICU Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Loekmono Hadi Kudus. Seorang anak berusia 8 tahun asal Kecamatan Nalumsari, Jepara, tertembak senapan angin. Saat kejadian, si anak sedang ikut saudaranya yang hendak menembak burung dan mencari ikan dengan cara menyetrum. Di tengah-tengah perjalanan, senapan yang akan digunakan menembak, dikokang dan tiba-tiba saja sudah meledak dan mengenai sang anak. Beruntung anak tersebut langsung mendapat perawatan intensif di rumah sakit.

Saat kejadian, sang ibu sedang bekerja sebagai buruh rokok memang tidak ada di rumah. Sebagai salah satu tulang punggung keluarga, tentu saja dia harus meninggalkan anaknya di rumah sementara dia bekerja. Sebuah tipikal khas keluarga Indonesia saat ini. Kedua orang tua sama-sama bekerja, karena tuntutan kehidupan yang memang sudah sangat luar biasa sekarang. Anak-anak ditinggal di rumah adalah sebuah pemandangan yang biasa terlihat. Atau dititipkan kepada keluarganya yang lain, meski tidak menjamin perasaan tenang orang tua saat meninggalkan mereka. Namun apalah daya.

Berbahaya atau tidak sesuatu, memang perlu diajarkan kepada anak sejak dini. Masing-masing orang tua memang memiliki cara tersendiri untuk mendidik anak-anak mereka. Apapun caranya, tujuannya pasti untuk kebaikan sang anak, menurut versi orang tua masing-masing.

Anak-anak sekarang memang berbeda dengan anak-anak beberapa periode yang lalu. Atau berbeda saat lingkungan masih bisa dihitung dengan jari jumlah orangnya, sementara lahan bermain masihlah luas sekali. Sehingga saat anak-anak dulu bermain gobak sodor, mereka tidak akan kehilangan luasan areal yang harus dijaga supaya musuh tidak bisa memasukinya. Atau saat bermain layangan di lapangan, benda itu akan bisa naik dengan mudah, karena anak-anak jaman dulu bisa berlari ke sana kemari untuk menaikkannya hingga melayang sampai langit di atas.

Mengejar layangan jatuh, barangkali tidak akan bisa ditemui lagi di negeri ini. Siapa juga yang mau, saat menaikkan layang-layang, eh malah diadu gelasan dengan temannya sampai akhirnya salah satunya putus. Kemudian beramai-ramai anak-anak yang lain akan mengejar layangan yang putus itu hingga mereka mendapatkannya kembali. Coba bayangkan saja permainan layangan itu. Sudah susah-susah menaikkannya, yang ada malah diputuskan begitu saja. Capek, brooo.

Barangkali main layangan memang derajatnya berbeda saat main Pokemon. Anak sekarang akan mengatakan lebih asyik mencari-cari telur dan menetaskannya lewat ponsel, daripada panas-panasan di tengah lapangan menaikkan kertas dibingkai bambu. Yang penting, lebih gaul main Pokemon daripada main layangan. Padahal, melihat telur ayam menetas langsung di kandangnya, barangkali lebih mengasyikkan, lho. Daripada sekadar melihatnya di ponsel. Itu kalau anak jaman dulu lho, ya.

Bahkan, saking hilangnya permainan tradisional sekarang ini, banyak pihak di beberapa daerah, yang coba menghidupkannya kembali. Bisa ditemui di sekitaran Magelang, Jawa Tengah, hingga Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada beberapa kampung yang sengaja disulap menjadi kampung yang isinya memang khusus memperkenalkan dan mengajak anak-anak bermain-main dengan aneka permainan tradisional. Sesuatu yang sudah sangat langka sekarang ini.

Saking luar biasanya anak-anak sekarang, kita bahkan masih terkaget-kaget ketika disuguhkan bagaimana perilaku mereka saat sekarang ini. Yang terbaru adalah ketika seorang anak dengan mengangkat kaki dan merokok, duduk di samping gurunya. Foto ini lantas menjadi viral di media sosial. Atau anak-anak yang kemudian mem-bully teman-temannya sendiri, hingga berakibat cukup fatal hingga fatal. Semua menjadi sesuatu yang menghiasi hari-hari kita sekarang.

Atau katakanlah di Kabupaten Jepara, di mana banyak juga anak-anak yang tiba-tiba saja mengajukan dispensasi agar bisa menikah, di usia mereka yang masih 14 tahun. Tentu saja alasannya bukan karena memang mereka ingin menikah di usia itu, namun karena terpaksa harus menikah lantara kebanyakan sudah hamil duluan. Bayangkan, anak-anak yang masih belum dewasa itu, ternyata sudah bisa ”membuat” anak mereka sendiri. Entah darimana mereka belajar mengenai hal itu.

Tapi, anak-anak tadi adalah kita. Wajah kita yang tertempel pada mereka. Bagaimana kita sebagai orang tua mendidiknya, yang akan keluar adalah yang seperti terlihat sekarang ini. Meski kita memang tidak perlu terlalu memikirkan perkataan orang, namun orang akan terus saja mengaitkan setiap tindakan anak-anak kita dengan diri kita. Mau tidak mau, sebagai orang tua akan terus terbawa dengan tindakan yang dilakukan anak-anak kita. Sekalipun mereka sudah besar nanti.

Sebagaimana kampung-kampung yang mencoba menghidupkan kembali budaya permainan tradisional anak-anak, tidak ada salahnya orang tua meretas kembali pola pendidikan tradisional yang mereka terima saat kecil dulu. Nilai-nilai seperti gotong royong, sopan santun, rendah hati, dan saling tolong menolong itu, sangat bisa untuk diterapkan kepada sang anak di jaman sekarang. Jangan pernah malu dibilang jadul atau jaman dulu. Atau jangan pernah malu dibilang munafik atau naif, saat mengajarkan anak-anak Anda bagaimana nikmatnya bisa bermain lumpur di sawah, sambil mengajarkan kepada mereka darimana nasi yang mereka makan setiap harinya itu berasal.

Namun, semuanya akan kembali kepada keluarga masing-masing. Karena bagaimanapun, keluarga adalah yang utama, untuk bisa membentuk generasi terbaik di negeri ini nantinya. Mungkin kita perlu meniru apa yang dilakukan Walikota Bandung Ridwan Kamil, yang memulai ritual sehari-harinya di keluarga, dengan memeluk seluruh anggota keluarganya selama 20 detik. Begini katanya soal pelukan itu.

”Saya terbiasa berpelukan dua puluh detik setiap hari. Pagi-pagi biasanya saya sama istri, sama anak berpelukan, dua puluh detik aja. Pada detik kesepuluh itu ada transfer chemistry dari mereka, ada hormon yang bisa membuat kita rileks. Biasanya, pada detik 15 sampai 20, hati mulai tenang”. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →