Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini

Kisah Polisi di Rembang yang 12 Tahun Tinggal di Kuburan



Reporter:    /  @ 19:46:57  /  13 Oktober 2016

    Print       Email
Aiptu Widodo Ramelan (kanan) saat berbincang dengan Kapolres Rembang AKBP Sugiarto (tengah) saat berkunjung ke rumahnya di kompleks pemakaman umum Krapyak di Desa Sidowayah, Rembang, Kamis (13/10/2016). (Dok.Humas Polres Rembang)

Aiptu Widodo Ramelan (kanan) saat berbincang dengan Kapolres Rembang AKBP Sugiarto (tengah) saat berkunjung ke rumahnya di kompleks pemakaman umum Krapyak di Desa Sidowayah, Rembang, Kamis (13/10/2016). (Dok.Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom, Rembang – Sudah 12 terakhir ini, Aiptu Widodo Ramelan (52) tinggal di kompleks Tempat Pemakaman Umum (TPU) Krapyak, Desa Sidowayah, Rembang. Pria yang menjabat sebagai Kasi Humas Polsek Lasem ini, setiap harinya banyak menghabiskan waktunya bersama keluarga di areal kuburan tersebut.

Aiptu Widodo, bercerita, dirinya memilih untuk menetap di kompleks pemakaman tersebut, sekitar tahun 2004 lalu. Dirinya memang sengaja untuk tinggal di kompleks pemakaman itu, yang nota bene merupakan tanah milik Negara, karena untuk kebaikan keluarga.

“Saya ini merupakan keluarga besar. Anak bapak dan ibu saya itu ada 10, dan saya adalah anak nomor 7. Kami pun terhitung berasal dari keluarga yang pas-pasan. Karena saudara saya banyak, ketika ada jatah warisan untuk kami, saya memilih jatah itu saya berikan kepada saudara yang lain, yang mungkin kehidupannya masih kurang beruntung ketimbang saya. Kemudian, saya pilih tinggal di kompleks pemakaman ini,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Kamis (13/10/2016).

Dirinya juga menceritakan bagaimana awalnya hingga bisa membuat rumah sederhana berukuran 9X6 meter itu. Awal-awal dulu, menurutnya, dirinya dibantu rekan-rekannya di kepolisian dan juga yang lain untuk bisa mendirikan rumah yang layak ditempati.

“Lahan yang saya tempati ini adalah milik Negara, dan dulunya merupakan lahan yang bekas ditanami bambu. Saya banyak dibantu teman-teman ketika mendirikan rumah ini, baik itu material atau yang lainnya. Saya sangat berterima kasih untuk kebaikan mereka semua,” imbuhnya.

Meski tinggal di kompleks pemakaman, dirinya bersama istrinya Yatni (49) dan empat anaknya, Aiptu Widodo mengaku sudah terbiasa. Padahal ketika membuka pintu rumah, dan hanya selangkah keluar sudah ada patok-patok kuburan.

Bahkan, karena tinggal di kompleks kuburan tersebut, Aiptu Widodo dijuluki dengan penjaga kuburan. “Nggak apa-apa, itu kan hanya julukan. Yang penting saya bisa hidup nyenyak, meski tidak tinggal di rumah yang bagus atau naik mobil mewah. Saya bersyukur dengan rezeki yang saya dapatkan, dan mudah-mudahan halal,” katanya.

Aiptu Widodo Ramelan sedang memberi makan ternaknya. Usai berdinas, biasanya dirinya mengurus ternak yang dipeliharanya di rumah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Aiptu Widodo Ramelan sedang memberi makan ternaknya. Usai berdinas, biasanya dirinya mengurus ternak yang dipeliharanya di rumah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Di rumah sederhana itu, Aiptu Widodo juga beternak ayam dan entok. Dengan cara seperti itu, dirinya berharap bisa menambah penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Selain itu, dengan beternak, menurutnya juga bisa mengusir jenuh ketika usai bertugas.

Dirinya juga menuturkan, dalam mendidik anak-anaknya agar mau belajar hidup sederhana dan tidak gengsi dengan kondisi seperti sekarang ini. Katanya, untuk anaknya yang pertama, yakni Shabara Novi Ramelan kini sudah bekerja sebagai security di Perusahaan Listrik Negara (PLN) Rembang.

“Dulu sempat mendaftar sebagai polisi, tapi tidak lolos. Kemudian untuk anak saya yang nomor dua, yaitu Al Prasetyo Ramelan, Alhamdulillah sudah bertugas sebagai anggota TNI. Sedangkan untuk yang nomor tiga, Ramadhan Bayu Aji Ramelan masih sekolah di SMP dan yang keempat yakni Romandhona Sukma Ramelan masih SD,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia katakan, dalam waktu yang mungkin tidak lama, dimungkinkan dirinya akan pindah dari kompleks pemakaman tersebut. Sebab, dirinya sudah mendaftarkan diri untuk bisa menghuni perumahan Bhayangkara Residence yang digagas oleh Kapolres Rembang.

“Sekarang kan sedang dibangun perumahan yang diperuntukkan anggota Polri yang berada di wilayah Kaliori. Jumlahnya sekitar 80 unit, dan Alhamdulillah, ketika saya ikut mendaftar, bisa lolos verifikasi dan bisa menempati rumah itu nanti. Meski harganya mencapai ratusan juta, namun ada kemudahan yang diberikan dengan cara mengangsur,” jelasnya.

Dirinya juga mengatakan, Kapolres Rembang AKBP Sugiarto, hari ini sempat berkunjung ke rumahnya yang berada di kompleks pemakaman Krapyak, untuk melihat langsung kondisi tempat tinggalnya. “Saya berterima kasih Pak Kapolres menyempatkan waktunya berkunjung ke rumah saya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →