Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

Mbah Kasrin dan Doraemon



   /  @ 10:00:23  /  11 Oktober 2016

    Print       Email
Kholistiono cak.kholis@yahoo.co.id

Kholistiono
[email protected]

SOSOK Mbah Kasrin, seorang tukang becak asal Dukuh Gembul, Desa Sumberrejo, Kecamatan Pamotan, Rembang, dalam satu bulan terakhir ini cukup menyita perhatian publik. Masyarakat heboh dengan kisah Mbah Kasrin yang dikabarkan menunaikan ibadah haji secara gaib.

Kehebohan ini bermula ketika pada 23 Agustus 2016 lalu, Mbah Kasrin mengaku akan berhaji. Kepergiannya juga diantar sejumlah keluarga dengan menggunakan beberapa armada bermotor ke tempat berkumpulnya jemaah calon haji asal Rembang kloter 38, yakni di Masjid Jami’ Lasem.

Yang membuat tanda tanya, baik dari pihak keluarga sendiri ataupun masyarakat setempat, Mbah Kasrin selama ini tidak pernah mendaftarkan diri secara resmi di instansi terkait untuk menunaikan ibadah haji. Dari pemerintahan desa setempat, dirinya juga disebut-sebut tidak pernah mengurus administrasi untuk keperluan haji. Pun demikian, di Kementerian Agama Rembang, yang namanya juga tidak pernah ada.

Tak berhenti di situ, dalam perjalanannya, kemudian muncul cerita-cerita aneh yang cukup sulit jika dinalar secara logika. Seperti halnya, ketika Mbah Kasrin yang katanya tiba-tiba sudah tidak ada di Masjid Jami’ Lasem bersama calhaj lain dari kloter 38, dan menurut pengakuan salah satu keluarga Mbah Kasrin sudah berada di Gedung Haji Rembang. Sekejap kemudian sudah berada di Asrama Haji Donohudan, dan kemudian sudah naik pesawat menuju Makkah.

Meski salah satu keluarganya tersebut mengaku terheran-heran dengan hal itu semua, dan seolah tak percaya, namun, dirinya tidak  berani mengatakan apakah itu nyata atau tidak. Bahkan, ketika sudah di Makkah, Mbah Kasrin disebut-sebut sempat pulang sebentar menjenguk keluarganya, yang kemudian juga menghilang lagi dalam sekejap.

Cerita haji gaib Mbah Kasrin ini, juga tak lepas dari sosok Indi, yang hingga kini masih misterius.Tidak diketahui siapa dia sebenarnya.Hanya, dari pengakuan Mbah Kasrin, Indi adalah penumpang langganannya, yang selama belasan tahun sudah diantar jemput pulang dan pergi sekolah, sejak Indi masih duduk di bangku TK. Indi, disebut kini sudah tamat SMA dan tinggalnya di sekitar MTs Lasem. Namun, dirinya menegaskan, jika Indi adalah sosok gaib atau jin. Dia pulalah, yang merupakan sosok yang menaikkan Kasrin berhaji.

Sosok Mbah Kasrin semakin fenonemal, ketika dirinya pulang ke rumah, setelah 44 hari “menghilang”. Kepulangan Mbah Kasrin juga bersamaan dengan jemaah haji kloter 38. Pun demikian, jam atau tempat, juga sama dengan kloter 38. Namun, bagi Kemenag, bisa dipastikan , lagi-lagi tidak ada nama Kasrin di kloter 38.

Sejak kepulangannya, tamupun banyak berdatangan ke rumah Mbah Kasrin. Tak hanya dari Rembang, dari Pati, Kudus, Blora dan bahkan Semarang juga jauh-jauh sengaja untuk bertamu. Tak hanya penasaran dengan kisah-kisah misterius Mbah Kasrin, tak sedikit pula mereka meminta air untuk didoakan.

Hal ini kemudian disikapi oleh Kemenag dan juga MUI setempat. Tak tanggung-tanggung, MUI membentuk tim investigasi untuk menelusuri terkait kisah Mbah Kasrin. Tim dari MUI pun menyamar, sebagaima tamu lainnya yang bertamu ke kediaman Mbah Kasrin. Beragam pertanyaan seputar haji, baik itu mulai rukun dan syarat haji diajukan kepada Mbah Kasrin, untuk memastikan apakah itu benar-benar dijalankan Mbah Kasrin atau tidak. Bahkan, tim MUI seolah ingin tahu segalanya, juga menanyakan apakah Mbah Kasrin melihat kakbah atau tidak ketika di Makkah.

Dari entah berapa jumlah pertanyaan yang diajukan tim MUI kepada Mbah Kasrin tersebut, diambil kesimpulan jika Mbah Kasrin belum berhaji. Tolok ukur yang digunakan adalah, dari cerita Mbah Kasrin kepada tim, yang di antaranya Mbah Kasrin tidak mengenakan ihram ketika di berhaji, tidak melihat kakbah di Makkah, termasuk lafadz-lafadz yang diucapkan ketika berhaji, yang sama sekali Mbah Kasrin disebut tidak hafal.

Lalu, apa hubungannya Mbah Kasrin dengan Doraemon? Ditinjau dari sudut pandang agama, jelas tidak ketemu. Lalu, dari sudut penerawangan Mbah Mijan, paranormal yang katanya sudah melakukan komunikasi dengan sosok Indi, tentulah pula tak ada kaitannya. Saya haqul yakin, tak ada jin yang menjelma Doraemon untuk “memaksakan” dirinya untuk bilang, dialah yang berada di belakang layar dari hebohnya fenomena haji gaib yang dilakukan Mbah Kasrin.

Namun, izinkan saya “secara paksa” untuk mengaitkan sosok Mbah Kasrin dengan Doraemon ini dari sudut pandang  “Sembarangisme”.

Sebagian dari Anda, saya yakin tahu dengan Doraemon, baik anak-anak, yang muda ataupun yang sudah tua. Kecuali Mbah Kasrin. Saya berkeyakinan, jika Mbah Kasrin tak pernah menyia-nyiakan waktunya hanya untuk sengaja menyaksikan kisah Doraemon di televisi, yang ceritanya kini semakin tak menarik. Itu menurut saya lho ya.

Bagi yang belum tahu, Doraemon merupakan judul sebuah manga populer yang dikarang Fujiko F. Fujio sejak tahun 1969 dan berkisah tentang kehidupan seorang anak pemalas kelas 5 SD yang bernama Nobi Nobita yang didatangi oleh sebuah robot kucing bernama Doraemon yang datang dari abad ke 22.

Doraemon dikirim untuk menolong Nobita agar keturunan Nobita dapat menikmati kesuksesannya daripada harus menderita dari utang finansial yang akan terjadi pada masa depan , karena disebabkan kebodohan Nobita.

Dalam ceritanya, Nobita, yang seringkali mengalami  kegagalan dalam ulangan sekolahnya atau setelah diganggu oleh Giant dan Suneo, akan selalu mendatangi Doraemon untuk meminta bantuannya. Doraemon kemudian biasanya akan membantu Nobita dengan menggunakan peralatan-peralatan canggih dari kantong ajaibnya. Peralatan yang sering digunakan misalnya,baling-baling bambu dan “Pintu ke Mana Saja”

Dari sedikit uraian di atas itu, saya coba, sekali lagi “memaksakan” mengaitkan fenomena haji gaib dengan Doraemon ini. Saya bukan mencoba menyamakan sosok Mbah Kasrin dengan Doraemon, pun demikian Mbah Kasrin dengan Nobita. Tetapi, saya melihat sebuah kemiripan cerita Mbah Kasrin dengan cerita Doraemon, dari dimensi waktu yang berbeda.

Saya membayangkan, dari cerita Mbah Kasrin yang katanya bisa dalam sekejap berada di suatu tempat, seperti sosok Nobita yang dibantu Doraemon dengan mengunakan alat ajaibnya “Pintu ke Mana Saja” yang secara sekejap, Nobita sudah berada di tempat yang diinginkan dan dalam dimensi waktu yang menyesuaikan keinginan.

Pun demikian, Mbah Kasrin yang dibantu sosok misterius Indi, yang juga secara sekejap bisa berada di suatu tempat, setelah diizinkan Indi. Seperti halnya, Mbah Kasrin yang ketika sudah berada di Makkah, sempat pulang sebentar dalam waktu yang begitu sekejap. Secara nalar, hal ini tentu saja tidak ketemu. Namun, namanya juga misteri, tentunya hal seperti ini misterius apakah nyata atau tidak, dan biarkan hal itu tetap menjadi rahasia Tuhan.

Namun begitu, jika melihat ceritanya, Mbah Kasrin bukanlah seperti sosok Nobita yang terkadang melampaui batas untuk menggunakan alat ajaib milik Doraemon untuk keinginannya sendiri, yang terkadang justru merugikan orang lain atau terkadang memanfaatkan kemampuan ajaib tersebut untuk pamer.

Hemat saya, sejauh ini Mbah Kasrin tak berniat untuk pamer mengenai keajaiban-keajaiban yang dialaminya. Namun, karena cerita-cerita tersebut terlanjur berkembang di masyarakat, sehingga dirinya harus meladeni pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat.

Selanjutnya, yang tak kalah penting dari fenomena haji gaib adalah, bagaimana seharusnya masyarakat bisa mengambil hikmah dan pelajaran.

Pertama, terlepas dari cerita Mbah Kasrin itu benar atau tidak, harus diakui bahwa masyarakat kita masih kental dengan fenomena mistis atau perklenikan. Kemunculan sosok Mbah Kasrin, yang dianggap sebagian orang memiliki kelebihan, membuat masyarakat berbondong-bondong untuk mendatanginya, yang terkadang tujuannya melenceng dari syariat agama, atau mengarah kepada kemusyrikan. Meminta hajatnya dikabulkan, meminta berkah atau lain-lain yang praktiknya justru seperti perdukunan. Padahal, Mbah Kasrin sendiri, belum tentu menghendaki dirinya seperti itu.

Kemudian, dengan fenomena haji gaib ini, seolah masyarakat secara gampang memberikan justifikasi terhadap Mbah Kasrin itu benar atau salah. Dari sudut pandang yang sempit, terkadang kita terlalu berani untuk menegaskan jika itu salah dan melanggar syariat.

Tak mau kalah, MUI baru-baru ini juga sudah mengeluarkan fatwa bahwa Mbah Kasrin bukan dari. Fatwa tersebut keluar setelah adanya perbincangan antara tim MUI dengan Mbah Kasrin, sehingga diambillah kesimpulan demikian. Namun, apakah seperti itu seharusnya MUI dengan begitu mudah mengeluarkan fatwa yang seolah sebagai hakim terhadap urusan ibadah seseorang? Bukankan urusan haji merupakan urusan pribadi umat dengan Tuhan, seperti halnya salat dan juga puasa. Artinya, yang berhak menyimpulkan orang itu puasa atau tidak adalah Tuhan, diterima atau tidak itu hakimnya adalah Tuhan.

Pun demikian dengan Mbah Kasrin, yang menganggap dirinya sudah berhaji, yang sebaiknya hal itu tetap menjadi ranah dia dengan Tuhan. Manusia tidak berhak manusia untuk menjustifikasi apakah dia sudah berhaji atau belum. Terlepas, proses haji yang dilakukan Mbah Kasrin itu masih misteri dan secara logika memang seharusnya bukan demikian cara berhaji. Biarlah dia berjalan dengan keyakinannya. Tugas penting MUI adalah, bagaimana mencegah adanya fenomena ini menjadi sesuatu yang mengarah kepada kemusryikan. Tentunya, tugas ini sebenarnya bukan ketika ada fenomena seperti ini baru bergerak, namun, jauh sebelum itu pendidikan agama selayaknya secara kontinyu diberikan kepada masyarakat. Sehingga, dalam berkehidupan, masyarakat memiliki pendidikan agama yang kokoh, dan tak terpengaruh dengan hal-hal yang dinilai di luar syariat.

Selanjutnya, fenomena ini seharusnya menjadikan masyarakat untuk berpikir dan bertindak secara cerdas. Apalagi, semakin ke sini, masyarakat sudah dihadapkan informasi dan teknologi yang canggih, sehingga dituntut untuk berpikir rasional.

Terakhir, hemat saya, biarlah hal seperti ini sebagai sebuah fenomena. Tugas kita adalah, tetap berpikir rasional, berpikir cerdas, dan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang salah. Tugas kita bukan menjadi seseorang yang mudah menghujat, bukan seseorang yang mudah menghakimi salah atau benar terhadap sesuatu hal, tapi tugas kita adalah memberikan wawasan mana yang seharusnya dilakukan atau tidak sesuai tatanan yang berlaku. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →