Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini

Tukang Laundry Diduga Disetrika, Tubuh Gosong-gosong Akibat Keseringan Duduk?



Reporter:    /  @ 07:20:18  /  10 Oktober 2016

    Print       Email
kudus-art-disetrika-4-e

Mufiatun dan Suparmi, dua orang yang bekerja di laundry milik Ags dan Ang. Kedua orang ini memiliki peran berbeda, di mana Mufiatun bekerja sebagai tukang setrika, sedangkan Suparmi, tukang cuci. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Selain luka yang terlihat kentara di bagian perutnya, kondisi tubuh Mufiatun, (25), warga Dukuh Nglembur, Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, tukang laundry yang diduga disetrika majikannya, juga terlihat gosong di mana-mana.

Yang paling terlihat adalah di bagain dengkul atau lutut yang bersangkutan. Kedua lututnya menghitam atau terlihat gosong. Demikian juga dengan beberapa bagian tubuh lain, terlihat hal serupa.

Badannya juga kurus, sehingga tulang-tulang baik di tangan maupun kaki, juga terlihat jelas. Kondisi rambutnya awut-awutan, dan wajah pucat terlihat jelas dari diri Mufiatun.

Namun, Mufiatun mengatakan jika warna kehitaman di lututnya itu, adalah karena setiap harinya dia harus menekuk lutut saat melakukan proses setrika terhadap baju-baju yang sudah di-laundry.

”Kalau pas setrika baju, saya kan, duduk. Kaki saya tekuk. Begitu terus, sampai dengkulnya hitam-hitam. Kadang-kadang juga terkena setrikaan. Makanya jadi begitu,” katanya.

Mufiatun memang sudah tiga tahun bekerja sebagai tukang setrika laundry di tempat majikannya yang berinisial Ags dan Agn tersebut. Selama itu pula, dia bekerja setiap harinya dengan posisi yang sama. Sampai akhirnya terjadilah peristiwa pada Juni 2016 lalu, di mana Mufiatun yang sudah kecapekan, mendadak mengantuk dan tertidur, sehingga meninggalkan pekerjaan yang membuat salah satu baju pelanggan terbakar. Di sanalah, Mufiatun mengaku, majikan laki-lakinya, Ags, menyetrika perutnya.

Bukan saja bekas luka yang terus menerus menimbulkan rasa perih yang didapatnya dari peristiwa itu. Mufiatun yang mengaku digaji Rp 1 juta setiap bulannya itu, juga harus kehilangan gajinya, usai peristiwa tersebut. Dia hanya sekali dibawa ke dokter, dan selanjutnya diobati dari obat yang dibelikan majikannya.

”Sejak kejadian itu, saya tidak mendapat gaji. Kata majikan saya, uangnya habis buat pengobatan luka di perut saya itu. Saya hanya bisa pasrah saja dengan kondisi ini,” terangnya.

Sedangkan rekan kerjanya bernama Suparmi, asal Semarang, mengaku sudah bekerja selama lima tahun dengan pasangan tersebut. Gajinya juga sama, yakni Rp 1 juta per bulan. ”Kalau saya kerjanya di tempat laundry-nya. Kurang lebih 10 menit kalau dari rumah (kontrakan, red),” katanya.

Menurut Suparmi, dia berangkat dari rumah pukul 06.00 WIB sampai tutup pukul 17.00 WIB. Di tempat itu, dia kebagian mencuci pakaian yang masuk. Setelah kering, baju-baju itu dibawanya ke rumah. ”Terus saya serahkan ke Mufiatun untuk disetrika. Meski serumah, namun saya jarang berkomunikasi dengannya. Kadang-kadang hari Minggu juga kerja, meski setengah hari,” katanya.

Editor: Merie

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →