Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini

Warga Slungkep Pati Bangun Jembatan Darurat yang Menghubungkan Sumbersari-Jimbaran



Reporter:    /  @ 10:45:54  /  6 Oktober 2016

    Print       Email
Warga Desa Slungkep, Kecamatan Kayen tengah membangun jembatan darurat dari bambu yang menghubungkan Sumbersari-Jimbaran. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Warga Desa Slungkep, Kecamatan Kayen tengah membangun jembatan darurat dari bambu yang menghubungkan Sumbersari-Jimbaran. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Desa Slungkep, Kecamatan Kayen, Pati membangun jembatan darurat dari bambu yang menghubungkan Desa Slungkep, Sumbersari, dan Jimbaran. Pembangunan jembatan darurat menjadi akses sementara, selama pembangunan jembatan beton dikerjakan selama lima bulan ke depan.

“Jembatan darurat sangat diperlukan, karena menjadi akses utama warga sebagai jalur ekonomi dan kehidupan sehari-hari. Tanpa jembatan darurat, warga harus melewati Kayen dengan jarak sekitar 6 kilometer. Dengan jembatan darurat, warga bisa memotong jalur lebih dari 4 kilometer,” ujar Krisno, warga setempat yang menggagas jembatan darurat, Kamis (06/10/2016).

Jembatan darurat sepanjang 15 meter dan lebar 1,75 meter tersebut dibuat dari bambu, dibangun secara gotong royong. Penduduk setempat menyebutnya “gugur gunung”. Dana untuk membuat jembatan darurat diambil dari swadaya masyarakat.

“Yang punya bambu, bawa bambu. Yang punya ban bekas digunakan untuk mengikat jembatan dan yang punya uang iuran membeli kawat. Hasilnya luar biasa, jembatan darurat sudah bisa diakses warga dengan jalan kaki, sepeda motor, dan kendaraan roda tiga,” kata Krisno.

Budi Setiono, warga setempat yang merupakan anggota polisi di Kudus mengaku senang bisa menyelesaikan jembatan darurat bersama-sama secara gotong royong. Sebab, jembatan darurat tersebut tak hanya dimanfaatkan warga untuk mengakses jalan yang menghubungkan Sumbersari-Slungkep-Jimbaran, tetapi juga memiliki makna kebersamaan saat melakukan pembangunan.

“Proses pembangunan jembatan darurat dengan gotong royong bisa memupuk kebersamaan antarwarga. Setelah jadi jembatan, bisa dimanfaatkan warga sebagai akses jalan. Jembatan bambu sederhana ini memiliki banyak filosofi sekaligus, mulai dari infrastruktur, kemanfaatan, kerukunan, dan semangat kebersamaan masyarakat,” imbuh Budi.

Ada dua jembatan darurat yang dibangun warga secara gotong royong. Kedua jembatan darurat tersebut berjarak sekitar seratus meter. Sejumlah batu sungai dimanfaatkan sebagai talut sekitar jembatan, sedangkan material dua jembatan menghabiskan sekitar 120 bambu.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →