Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini
MENGUAK BISNIS ESEK-ESEK DI PATI

Begini Reaksi Warga Terkait Adanya “Rumah Mesum” di Pati



Reporter:    /  @ 16:00:16  /  5 Oktober 2016

    Print       Email
Kapolsek Margoyoso AKP Sugino bersama Camat Margoyoso Suhartono meminta pemilik rumah esek-esek di Desa Waturoyo berhenti beroperasi, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino bersama Camat Margoyoso Suhartono meminta pemilik rumah esek-esek di Desa Waturoyo berhenti beroperasi, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bisnis esek-esek di Kabupaten Pati ternyata tidak hanya ditemukan di sejumlah lokalisasi besar, seperti Lorong Indah (LI), Kampung Baru, dan Kompleks Pasar Hewan Wage. Di berbagai daerah, ada semacam rumah yang menyewakan jasa short time untuk digunakan sebagai kegiatan prostitusi.

Tak canggung-canggung, rumah-rumah tersebut berada di sekitar penduduk setempat. Tak jarang, keberadaannya dianggap meresahkan masyarakat. Namun label “penyakit masyarakat” tidak membuat pemilik rumah beralih profesi dan berhenti menyewakan rumahnya untuk aktivitas mesum.

Di Desa Waturoyo, Kecamatan Margoyoso, misalnya. Warga sebetulnya sangat resah dengan adanya rumah yang menyewakan jasa short time untuk mesum. Namun, mereka tidak berani karena pemilik rumah disebut-sebut premannya kampung.

“Warga sebetulnya jelas menolak, cuma masyarakat kadang sama orang seperti itu, ya bagaimana. Tidak berani. Yang dikhawatirkan kalau anak-anak tahu dengan adanya praktik semacam itu di lingkungannya sendiri, sehingga berdampak buruk,” ungkap Sriyatun, warga setempat, Selasa (04/10/2016).

Dia berharap, rumah-rumah mesum bisa ditertibkan secepatnya. Tidak hanya di desanya, tetapi juga sejumlah tempat lain di Kabupaten Pati. Ia khawatir, tempat semacam itu merusak moral anak-anak di sekitarnya.

Senada dengan Sriyatun, Kepala Desa Waturoyo, Sis Susilo juga sangat menentang adanya praktik esek-esek di desanya. Tak hanya soal moralitas, keberadaan tempat semacam itu yang biasanya dilengkapi minuman keras tak jarang menyebabkan gesekan dan konflik antarpemuda.

Padahal, pengunjung tempat-tempat tersebut biasanya dari luar desa, bahkan luar kecamatan. “Jelas saya tidak mendukung, karena sudah meresahkan. Takutnya, nanti lama-lama menjadi tempat prostitusi besar yang berpengaruh pada generasi muda,” ucap Susilo.

Namun, Mashuri Cahyadi, warga Kecamatan Margoyoso memberikan pendapat lain. Dia justru menilai, tempat-tempat seperti itu susah untuk diberhentikan. Karena itu, penertiban dengan membuat lokalisasi dianggap menjadi salah satu solusi.

“Rumah esek-esek ditertibkan saja, dilokalisir seperti di LI. Tapi sebagai peringatan, apakah mereka siap terkena dengan penyakit mematikan HIV/AIDS?” tandas Cahyadi.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →