Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini
MENGUAK TEMPAT ESEK-ESEK DI PATI

Ini Sederet Tempat “Jajan” Pria Hidung Belang di Pati



Reporter:    /  @ 17:28:10  /  3 Oktober 2016

    Print       Email
Polisi merazia rumah Mudrik, warga Desa Waturoyo, Kecamatan Margoyoso yang disewakan untuk aktivitas prostitusi, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Polisi merazia rumah Mudrik, warga Desa Waturoyo, Kecamatan Margoyoso yang disewakan untuk aktivitas prostitusi, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pati dikenal dengan tiga tempat prostitusinya yang berada di Kecamatan Margorejo, yaitu Lorong Indah (LI), Kampung Baru, dan Pasar Hewan Wage. Selain tempat prostitusi, ternyata masih banyak rumah yang dijadikan tempat untuk praktik esek-esek.

Hal itu terungkap publik ketika Jajaran Polsek Margoyoso merazia sejumlah tempat prostitusi terselubung di Kecamatan Margoyoso. Di antaranya, Desa Semerak, Waturoyo, Margoyoso, dan Margotuhu Kidul.

Ketiga lokasi itu ditertibkan polisi, karena menyediakan jasa short time untuk kegiatan mesum. Sementara itu, sejumlah warung kopi di Margotuhu Kidul hanya dijadikan tempat mangkal wanita penghibur, sebelum dibawa ke rumah mesum.

Selain di Margoyoso, informasi yang berhasil dihimpun, ada juga sederet tempat prostitusi yang ada di Pati. Di antaranya Desa Gabus dengan dua lokasi dan lima rumah, Desa Karangrejo Juwana, Desa Batursari di Batangan, Desa Sambiroto di Tayu, dan Desa Karanglegi di Trangkil.

Sejumlah tempat esek-esek yang sekarang sudah tutup, di antaranya Ngulaan, Sukoharjo di Wedarijaksa, Desa Karangwotan di Pucakwangi, Desa Pagendisan di Winong, dan Desa Kedalingan Tambakromo. “Sebagian besar tempat esek-esek yang sudah tutup, karena ditinggal pemilik rumah,” ujar sumber yang enggan disebut namanya.

Di Margoyoso, jasa menyewakan kamar untuk short time berkisar antara Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu. Dalam sehari, pemilik rumah bisa melayani pelanggan dari satu pasangan hingga empat pasangan atau bahkan lebih.

Ekonomi menjadi motif paling dominan yang menjadi penyebab rumah mereka disewakan untuk short time. Marsini, Mudrik dan Muhadi adalah satu di antara pemilik rumah yang menyewakan kamarnya karena kepentingan ekonomi.

Hal itu yang membuat Mudrik meminta ganti rugi senilai Rp 500 ribu bila pemerintah setempat ingin menutupnya. “Sebagian besar karena motif ekonomi. Tapi, hal itu bukan menjadi alasan. Sebab, Mudrik masih kuat untuk kerja, tapi milih bekerja yang justru meresahkan masyarakat,” kata Kapolsek Margoyoso AKP Sugino.

Dalam satu rumah, setidaknya ada satu hingga dua kamar yang disewakan. Satu kamar di antaranya dipakai pemilik rumah sendiri. Mereka yang ditertibkan, sebagian besar keluar dari kegiatan persewaan. Kecuali Mudrik yang semakin menantang saat ditentang.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →