Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini

Naikkan Cukai, Pemerintah Miskinkan Buruh Rokok



Reporter:    /  @ 14:00:01  /  2 Oktober 2016

    Print       Email
kudus-rokok-e

Buruh rokok dari kalangan industri hasil tembakau (IHT) skala kecil, belum bisa menikmati apa yang seharusnya didapatkan dari kenaikan cukai, yang diberlakukan pemerintah setiap tahun. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI telah mengumumkan kenaikan tarif cukai dan harga jual eceran (HJE) rokok untuk tahun 2017.

Untuk jenis Sigaret Kretek Putih (SPM) sebesar 13,46%, sedangkan untuk Sigaret Kretek Tangan (SKT) golongan III B 0%. Selain kenaikan tarif, juga kenaikan harga jual eceran (HJE) dengan rata-rata sebesar 12,26%.

Dengan menaikkan hargai cukai ini, pemerintah sendiri kemudian memiliki target lain, dari sektor penerimaan cukai rokok. Yakni harus meningkat sebesar Rp 149,8 triliun.

Koordinator Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) Kudus Slamet ”Mamik” Mahmudi mengatakan, kenaikan tarif cukai dan HJE menjadi tren tahunan pemerintah.

”Ambisi mengurangi tingkat konsumsi dan produksi tembakau begitu kuat. Secara bertahap, pemerintah terus memahalkan harga rokok. Dengah harapan rokok dijauhi masyarakat, dan secara otomatis produksi rokok menurun,” terangnya, Minggu (2/10/2016).

Apapun perlakuan pemerintah terhadap industri hasil tembakau (IHT) tidak menjadi persoalan ketika nasib buruh diperhatikan. Mamik mengatakan, target penerimaan negara dari cukai rokok yang terus meningkat, tidak sebanding dengan peningkatan kesejahteraan para buruh dan petani tembakau.

”Kami melihat bahwa selama ini, IHT dan stakholder-nya, hanya menjadi sapi perah dalam rangka memenuhi target pemasukan negara,” tegasnya.

Penerimaan negara yang begitu besar dari cukai rokok, menurut Mamik,  semestinya berdampak pada kelangsungan stakeholder IHT. Upaya mengerdilkan IHT, seharusnya tidak diberlakukan pula terhadap para buruh dan petani tembakau.

”Imej negatif rokok yang dibangun pemerintah mengikutsertakan buruh dan petani tembakau, menjadi komunitas yang cenderung diabaikan,” katanya.

Mamik menambahkan, pemerintah selalu berpikir dampak rokok bagi kesehatan semata. Sehingga penerapan tarif cukai dan HJE tinggi, hanya melulu dikaitkan untuk penanggulangan dampak negatif tembakau.

”Namun malah mengesampingkan dampak penutupan IHT yang memiskinkan buruh dan petani tembakau. Pemerintah seolah tidak peduli dengan nasib rakyat kecil,” imbuhnya.

Editor: Merie

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →