Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

Merasakan Sensasi Naik Odong-odong Jepara-Kudus, Mimpi Kami Atas Transportasi Umum



Reporter:    /  @ 11:18:46  /  1 Oktober 2016

    Print       Email
Siti Merie merqi194@yahoo.com

Siti Merie [email protected]

KEINGINAN untuk pulang setelah sekian lama berada di perantauan, adalah naluri ilmiah para perantau di manapun berada. Dan itu berlaku juga bagi saya. Meski jaraknya hanya Kudus-Jepara, dan kalau pulang pun waktunya lebih banyak tersita untuk ngumpul dengan sahabat ngopi saya, tapi pulang ke rumah akan selalu saya rindukan.

Jarak yang hanya ”sejengkalan” saja itu, bisa ditempuh dengan waktu kurang lebih setengah jam saja dengan naik motor. Baik dengan ngebut ataupun dengan pelan-pelan, yang jelas ini hubungannya sama spek motor saya. Ya, maklum. Motor Shogun merah itu, tidak akan bisa menyamai kecepakan NMAX, atau bahkan PCX-lah. Tapi lumayan masih bisa diajak ngebut juga, kok.

Terkadang, motor tua itu tidak sempat saya bawa pulang kampung. Biasanya sih, karena pulangnya sudah nebeng kendaraan orang lain. Sehingga mau tidak mau, saat balik dari Jepara sampai Kudus, pilihannya hanya dua. Diantarkan kembali naik mobil sehingga tidak merasakan panas ataupun hujan, atau naik angkutan umum.

Beberapa kali juga, saya coba merasakan saja naik angkutan umum. Hanya ada satu jenis kendaraan umum yang melayani rute Jepara-Kudus. Yakni bus mini yang memiliki satu pintu, dengan bentuk kotak warna-warni, dengan nama PO (perusahaan otobus) yang tertera di badan busnya. Kalau sekarang yang saya lihat, lebih banyak kata-kata dan gambar ”motivasi” yang tertempel di badan bus, ketimbang nama PO-nya sendiri. Ala-ala truk-truk pantura yang juga banyak sekali kata ”motivasinya”.

Naik bus mini juga tidak susah. Tinggal cegat saja di pinggir jalan utama, tidak lama akan muncul juga. Kalau persoalan ngetem di mana-mana, maklumi saja. Kita bukan bicara soal bus trans yang sedang ngetren belakangan ini, yang berhentinya juga di halte-halte yang sudah ditentukan. Ini bus mini jurusan antarkabupaten, yang sangat sederhana sekali prinsip ”hidupnya”. Jalan, angkut penumpang, antar saja sampai tujuan. Itu saja.

Satu hal yang pasti adalah Anda tidak bisa memilih bus mini mana yang akan Anda naiki. Apalagi jika Anda sok-sok elit hendak naik bus yang bagus, dan nyaman. Lupakan saja. Bus mini jurusan Jepara-Kudus itu, bukanlah bus yang Anda inginkan sebagaimana bus-bus trans yang ada. Lupakan saja dan terima apa adanya situasi yang ada.

Bukan saja dari sisi bodi yang memang sudah begitu tidak sedap dipandang, begitu masuk ke dalamnya, Anda akan menemukan hal-hal yang lebih menakjubkan lannya. Kursi penumpang yang sudah sangat tepos, warna pembungkus kursi yang sepertinya tidak pernah dicuci selama dua puluh tahun, pintu yang sudah keropos, deretan bangku yang kadang ada yang dihilangkan, demi menambah tempat berdiri penumpang atau bisa mengangkut lebih banyak penumpang, bau yang cukup menyengat dari berbagai sudut, dan situasi lainnya yang jauh dari bayangan impian sebuah angkutan umum yang nyaman. Kadang-kadang masih ada sopir yang memutarkan lagu. Entah untuk menghibur siapa, karena lagu-lagunya jelas adalah pilihan sang sopir sendiri. Yang cukup juga membuat pusing adalah, kecepatan bus itu sendiri, yang dibuat se-slow mungkin. Alias pelan sekali, dengan mesin yang terus berbunyi. Padahal, saya bisa berharap sampai tujuan sesegera mungkin.

Saya lantas iseng memfoto bus mini tersebut. Saya kirimkan ke beberapa rekan saya. Jawabannya mengejutkan. Ada yang bilang ”kamu naik odhong-odhong apa itu, to”, ada juga yang mengatakan ”awas, tetanus”, dan ada juga yang bertanya ”naik bus begitu, bayarnya berapa”. Rata-rata tidak percaya kalau masih ada bus ”buruk rupa” yang beroperasi. Dan mereka semua adalah warga Kota Ukir sendiri. Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan, bahwa rekan-rekan saya tadi, memang sudah lama sekali tidak naik bus mini. Dan saat saya tanya, mereka menjawab jujur, bahwa lebih enak naik travel atau naik kendaraan pribadi, sekelas motor, daripada naik bus mini.

Pengalaman saya ini, rupanya juga dialami rekan saya lainnya. Kali ini, jurusan yang ditempuh adalah Jepara-Semarang. Kelas busnya sudah naik. Tidak lagi satu pintu, tapi sudah dua pintu. Atau kalau orang Jepara menyebutnya bus tanggung. Tidak besar, tidak juga kecil. Nanggung mungkin dulu membuatnya. Dan lagi-lagi, peristiwa yang saya alami, dialami rekan saya itu. Naik bus tanggung ternyata juga memiliki ”fasilitas” yang tidak jauh beda dari bus mini. Sama jeleknya. Bahkan lebih parah, karena dia mendapati bahwa atap bus yang sudah keropos, terus menerus rontok di sepanjang perjalanan yang dilalui.

”Inilah kenapa saya memilih naik travel kalau mau ke Semarang”. Begitu protes rekan saya itu, usai naik bus tanggung tadi. Karena pernyataannya tadi, saya baru tahu kalau kemudian banyak sekali travel bermunculan di Jepara, untuk rute yang saya bilang cukup dekat. Yakni Jepara-Semarang, yang rata-rata memakan waktu dua jam naik bus. Tapi dengan naik travel, maka bisa mempersingkat jarak tempuh itu. Bahkan, diantarkan sampai tujuan. Tidak seperti naik bus umum, yang masih harus menyambung lagi dengan kendaraan umum lainnya. Memang dari sisi ongkosnya, jauh lebih besar dari naik bus tanggung yang ”hanya” Rp 13-15 ribu. Kalau travel, biayanya Rp 40 ribu. Beda lagi kalau jurusannya Jepara-Kudus, maka ongkosnya Rp 10 ribu (cukup mahal untuk sebuah layanan umum yang tidak karuan).

Yang lebih menakjubkan lagi, bus-bus aneka jurusan itu, ternyata sudah beroperasi selama berpuluh-puluh tahun. Setidaknya dari yang saya saksikan sejak kecil sampai segede ini, rasanya tidak ada perubahan sama sekali dari bus-bus yang ada itu. Semuanya masih sama. Padahal, di tetangga sebelah, kondisi transportasi umumnya, lebih bagus lagi situasinya. Bahkan dengan membayar Rp 10 ribu, Anda sudah nyaman melakukan perjalanan dengan bus yang berpendingin ruangan.

Saya berpikir, bagaimana hal ini bisa dibiarkan begitu saja oleh pemilik kewenangan. Apakah tidak pernah ada pemeriksaan soal kelayakan, yang tujuannya untuk membuat nyaman penumpang. Apa karena para penentu kebijakan itu, tidak pernah naik bus seperti itu, sehingga mereka tidak pernah merasakan pengapnya menjadi penumpang, dan lantas berpikir untuk meremajakan angkutan yang sudah belasan bahkan puluhan tahun ”gentayangan” di jalan begitu. Bukan saja Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara yang bertanggung jawab, melainkan juga organisasi yang mengurus masalah angkutan. Kemana saja mereka?

Kalau kemudian bus-bus itu banyak ngetem yang membuat waktu terbuang dengan tidak efektif, pantas saja membuat penumpang melayang. Kalau dengan makin menurunnya penumpang lantas menjadi keluhan, kenapa penumpang yang disalahkan. Penumpang adalah orang yang berhak memilih mereka mau naik apa. Bisa kita saksikan bahwa sebenarnya penumpang-penumpang yang naik bus itu, adalah penumpang reguler. Yakni pekerja atau buruh dan anak sekolah, yang berangkat dan pulang dengan jam yang tetap. Apalagi anak sekolah sekarang, yang memilih naik motor supaya bisa cepat sampai sekolahnya masing-masing.

Layaklah kalau kemudian bus-bus itu ditinggalkan. Dan kalau itu jadi keluhan, harusnya dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing. Betapa mereka sudah lama terlelap dalam kenyamanan situasi yang ada. Asal sudah menyetor sesuai targetnya, sudahlah. Tidak usah dioyo, toh hasilnya sama saja. Sebuah pemikiran yang tentu saja tidak seharusnya ada.

Lantas, apa inovasi pemerintah untuk bisa ”memenangkan” hati rakyatnya, akan sebuah transportasi umum yang layak dan baik. Tidak adakah yang berpikir untuk membuat transportasi umum se-modern mungkin. Misalnya, angkutan umum terpadu, dari ujung-ujung perbatasan wilayah itu, yang akan mampu menampung warganya yang masih membutuhkan transportasi umum untuk bepergian.

Teman saya punya mimpi akan sebuah transportasi railway yang akan menghubungkan semua kecamatan yang ada. Jalan-jalan dilebarkan untuk membangun jalurnya, dengan trotoar yang disesuaikan dengan situasi yang ada. Railway itu akan dibangun di bahu jalan, dan akan berhenti di halte-halte yang sudah ditentukan. Yang jelas, railway akan memudahkan masyarakat untuk ”nyegat” di pinggir jalan. Sekaligus mendisiplinkan rakyat, untuk bisa tertib saat naik angkutan.

Dan saat mimpi itu disampaikan, kami semua optimistis bahwa itu bisa dilakukan. Hanya saja, pemimpin mana yang sanggup membuat ide itu menjadi nyata. Kami terbentur kepada orang-orang yang tidak memiliki inovasi, untuk memajukan wilayahnya. Orang-orang yang hanya punya obsesi, yang tenggelam karena terlalu lama dibahas sehingga jadi basi. Jadi, jawabannya adalah kapan-kapan sajalah. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →