Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Melihat Uniknya Tradisi Mantenan di Desa Banjarejo Grobogan



Reporter:    /  @ 10:03:14  /  27 September 2016

    Print       Email
Kedua mempelai menunggang kuda, yang kemudian diarak keliling desa. Tradisi seperti ini hingga sekarang masih terlihat di Desa Banjarejo Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kedua mempelai menunggang kuda, yang kemudian diarak keliling desa. Tradisi seperti ini hingga sekarang masih terlihat di Desa Banjarejo Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Selain kaya akan benda purbakala dan cagar budaya, ada satu tradisi unik yang ada di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Tradisi ini biasa dilakukan ketika ada orang yang menikah.

Sepasang pengantin diarak keliling kampung dengan diiringi banyak orang. Uniknya, kedua mempelai, berkeliling kampung dengan menunggang kuda. Kedua mempelai yang duduk di atas pelana berada di barisan paling depan. Sepasang sejoli ini terlihat seperti seorang raja dan permaisuri.Kemudian, di belakangnya, biasanya ada rombongan grup barongan yang mengiringi. Barisan paling belakang adalah kerabat kedua mempelai.

Saat ada tradisi seperti ini, suasana desa biasanya berubah semarak. Sebab, hampir semua warga sangat antusias menyambut kedatangan arak-arakan yang lewat di depan rumah.

“Adanya pasangan pengantin yang diarak keliling kampung kampung naik kuda memang merupakan tradisi di sini sejak dulu. Kalau ada tradisi seperti ini memang ramai sekali,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurut Taufik, beberapa waktu lalu, tradisi seperti ini masih marak terlihat. Namun, saat ini frekuensinya sudah semakin jarang. Setiap tahun, rata-rata masih bisa melihat lima kali pagelaran seperti itu.“Kalau di daerah Dumpil di sebelah utara Desa Banjarejo tradisi seperti ini lebih sering terlihat,” imbuhnya.

Adanya arak-arakan tradisional seperti itu merupakan salah satu bentuk pengumuman. Yakni, memberikan kabar pada masyarakat jika kedua pasangan itu sudah resmi menikah dan mengenalkan pasangannya. Terutama, bagi pasangan suami/istri yang bukan berasal dari kampung tersebut.

Di samping itu, melalui tradisi keliling kampung, kedua mempelai secara tidak langsung juga ingin meminta doa dari masayrakat sekitar. “Dari cerita orang tua, latar belakang arak-arakan kurang lebih seperti itu. Mengenai sejarah pastinya, saya kurang tahu persis. Sebab, ini sudah tradisi sejak nenek moyang,” cetus Taufik.

Sementara itu, Koordinator Komunitas Wisata Grobogan Iyant RE menyatakan, tradisi seperti itu harus diupayakan agar bisa terus terjaga. Sebab, tradisi itu termasuk unik dan merupakan warisan nenek moyang serta bisa menarik wisatawan untuk datang ke sana.“Saya berharap, tradisi itu jangan sampai hilang. Oleh sebab itu, harus kita pikirkan bersama untuk melestarikannya,” katanya.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →