Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

Calon Tunggal Pilkada Pati, Hasil Kegagalan Partai Politik



Reporter:    /  @ 09:30:22  /  23 September 2016

    Print       Email
Ali Muntoha muntohafadhil@gmail.com

Ali Muntoha
[email protected]

GENDERANG Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Pati tahun 2017 sudah lama ditabuh. Namun tampaknya suara genderang itu tak begitu nyaring dan keras, hingga mampu menggerakkan elite-elite partai politik (parpol) untuk menyiapkan calon-calon potensial yang bisa ditawarkan sebagai calon pemimpin Kabupaten Pati.

Tampaknya telinga parpol-parpol hanya mendengar suara mendayu-dayu, hingga mereka malas dan santai dalam mempersiapkan kontestasi di pilkada. Partai-partai politik seolah tak tergerak untuk berlomba menjadi yang terbaik dalam mempersiapkan kader dan calon pemimpin andalan, sehingga mereka hanya terbawa suasana, grudak-gruduk mengikuti langkah sang petahana.

Sudah bisa dipastikan Pilkada Pati 2017 mendatang hanya akan ada satu pasangan calon atau calon tunggal yakni Haryanto-Saiful Arifin. Hampir seluruh parpol yang mempunyai wakil di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati semuanya mendukung pasangan calon ini. Mulai parpol gurem hingga parpol besar, mulai dari parpol Islam hingga parpol nasionalis, mereka seperti paduan suara yang serentak menyuarakan dukungan ke Haryanto-Arifin.

Munculnya calon tunggal ini menjadi indikasi bahwa partai politik telah gagal melakukan kaderisasi dan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat. Parpol tak mampu memberikan pilihan calon pemimpin. Ibaratnya, ketika seseorang masuk ke sebuah warung makan, di situ si pembeli mau tidak mau harus menikmati menu yang itu saja. Sehingga pilihannya hanya dua, menikmati atau keluar warung, memilih mencoblos atau tidak sama sekali.

Jika opsi yang kedua ini nanti yang banyak muncul maka sudah sangat jelas, partai politik yang ada di Pati tak mampu menarik minat masyarakat karena mereka tak mampu memberikan apa yang diinginkan rakyat. Sekali lagi, partai politik gagal dalam menjadi contoh penggerak demokrasi dan lembaga pendidikan politik.

Fungsi kaderisasi partai politik untuk menyiapkan calon pemimpin juga mandek, karena dari pasangan calon tunggal yang muncul tak ada yang berasal dari kader partai. Haryanto meniti karir sejak awal dari lingkungan birokrat, hingga mampu menduduki jabatan sekretaris daerah (sekda) sebelum terpilih jadi bupati. Saiful Arifin berasal dari lingkungan pengusaha. Tak perlu diragukan seberapa kaya dan terkenalnya dia di lingkungan pengusaha. Ia juga pemilik Safin Hotel yang berdiri tegak menjulang di Jalan Pangeran Diponegoro Pati. Keduanya bukan pemimpin yang disiapkan parpol, mereka muncul dari bawah dan dididik alam untuk memimimpin.

Ketika enam partai politik yakni Demokrat, Gerindra, Golkar, PPP, Hanura, dan PKS secara bulat mendukung Haryanto-Arifin, ada harapan dari tiga partai tersisa untuk memberikan perlawanan. Yakni PDI Perjuangan, PKB dan Nasdem. Apalagi PDI Perjuangan dan PKB juga mempunyai kader yang sebenarnya sangat layak untuk dijagokan.

Sebut saja Wakil Bupati Pati Budiono. Ketua Dewan Syuro DPC PKB Pati ini sebenarnya tidak diragukan lagi kualitas kepemimpinannya, pengaruhnya di masyarakat Pati juga besar. Dalam Pilkada Pati 2011-2012 lalu, Budiono bahkan mampu memberikan kontribusi luar biasa terhadap Haryanto hingga mampu memimpin perolehan suara. Pada Pilkada Pati tahap pertama tahun 2011 Haryanto-Budiono berhasil meraup suara 204.606, jauh lebih banyak dari lima pasangan calon lain. Suara pasangan ini lebih tinggi dari pasangan Sunarwi-Tedjo Pramono dari PDI Perjuangan yang memperoleh 159.268 suara.

Ketika pemungutan suara diulang pada 2012, karena terjadi gejolak di PDI Perjuangan, dan pasangan Sunarwi-Tedjo diganti dengan Imam Suroso-Sujoko, suara yang diperoleh Haryanto-Budiono pun tak tertandingi. Haryanto-Budiono mampu meraup suara 256.705, sementara Imam Suroso-Sujoko hanya mendapatkan 229.277 suara.

Banyak pihak yang berharap PDI Perjuangan dan PKB bakal berduet dengan mengusung Budiono, terlebih Budiono juga telah resmi mendaftar di penjaringan yang dilakukan DPC PDI Perjuangan Pati. Namun ternyata PKB justru bermanuver dengan lebih dulu memberikan dukungan kepada Haryanto-Arifin.

Selain Budiono, ada juga nama Sudewo yang juga dinilai mampu menjadi calon pemimpin potensial. Mantan anggota DPR RI ini juga mendaftar di penjaringan yang dibuka PDI Perjuangan. Ia memang bukan kader internal partai berlambang banteng moncong putih, ia menjadi anggota DPR RI menggunakan kendaraan Demokrat. Namun kemampuan dan kemauannya untuk menjadi pemimpin juga cukup bisa diperhitungkan.

Namun lagi-lagi harapan adanya perlawanan dari partai lain pupus, setelah PDI Perjuangan juga ikut-ikutan mendukung Haryanto-Arifin. Semua partai politik beralasan memberikan rekomendasi, karena melihat hasil survei yang menunjukkan popularitas dan elektabilitas Haryanto yang paling tinggi bila dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain. Dari sini bisa dilihat jika partai politik memaknai pilkada hanya sebatas menang dan kalah. Bukan adu gagasan dan ide untuk membuat Pati jauh lebih baik. Parpol hanya berpikir pragmatis, padahal jutaan jiwa warga Pati mempertaruhkan masa depan mereka di hajat politik ini.

Kualitas Haryanto-Arifin memang tak bisa dipandang sebelah mata. Selama memimpin Pati, Haryanto mampu membuktikan Bumi Mina Tani mampu bersaing dengan daerah-daerah lain. Selama lima tahun memimpin, perkembangan pembangunan di Pati juga melesat, berbagai macam penghargaan juga berhasil diraih. Salah satu yang paling membanggakan yakni diboyongnya Piala Adipura Kencana di masa kepemimpinan Haryanto. Begitu juga Saiful Arifin mempunyai kemampuan untuk membesarkan Pati. Ia punya pengaruh yang cukup besar yang diharapkan bisa menarik para investor besar menanamkan investasi di Pati, sehingga daerah ini bisa berkembang lebih cepat.

Namun tak berarti Pilkada Pati kali ini bakal mudah untuk pasangan ini. Meski hanya muncul calon tunggal, tak berarti Haryanto-Arifin ini bakal mudah untuk meraih kemenangan. Karena sesuai UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pentepan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota, calon tunggal harus bisa meraih 50 persen lebih dari suara sah, untuk bisa ditetapkan sebagai calon terpilih.

Kerja tim sukses dan parpol-parol pengusung harus lebih maksimal, untuk menyakinkan pemilih bahwa jago mereka ini benar-benar capable dan layak untuk menjadi bupati dan wakil bupati. Pasangan ini memang diuntungkan dengan mekanisme pencoblosan untuk calon tunggal. Karena dalam surat suara nantinya hanya akan ada dua kolom, di mana satu kolom berisi foto pasangan calon dan satu kolom lain kosong atau tak ada gambar. Dengan model surat suara seperti ini menguntungkan bagi calon, terutama untuk pemilih lanjut usia, buta huruf, atau pemilih pemula.

Namun yang jadi masalah adalah kualitas dari pesta demokrasi itu nantinya. Karena dengan hanya munculnya satu pasangan calon ini, angka golput akan semakin tinggi. Di sini kerja KPU juga sangat besar, karena KPU Pati sendiri ditarget angka partisipasi pemilih harus mencapai 75 persen dari jumlah pemilih yang terdaftar.

KPU harus semakin gencar melakukan sosialisasi, sehingga calon pemilih ini tak hanya sekadar tahu calonnya siapa, tapi juga mau datang ke TPS untuk memberikan suara. Ini juga menjadi PR bagi tim sukses Haryanto-Arifin. Tim sukses tak bisa hanya bersantai-santai karena tak ada lawan, mereka juga harus bekerja ekstra keras untuk mencapai peroleh suara lebih dari 50 persen.

Karena jika sampai tidak tercapai, maka Haryanto-Arifin akan dinyatakan tidak terpilih, dan pemilihan pilkada akan diulang pada tahun berikutnya. Hal ini tentu saja merugikan, tak hanya dari sisi anggaran karena harus menghambur-hamburkan dana puluhan miliar rupiah untuk kembali menggelar pilkada, tapi juga kerugian bagi warga Pati dan pemerintahan karena terjadi kekosongan jabatan bupati definitif.

Semoga saja ini tidak terjadi, dan Pilkada Pati yang akan digelar 15 Feberuari 2017 mendatang benar-benar menghasilkan pemimpin yang mumpuni dan amanah. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →