Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

Rokok Seket Ewu, Buwoh, lan Wong Jeporo



Reporter:    /  @ 12:00:07  /  20 September 2016

    Print       Email
Siti Merie merqi194@yahoo.com

Siti Merie merqi194@yahoo.com

RASANYA masih relevan kalau sekarang kita membicarakan soal ontran-ontran kenaikan harga rokok yang mencapai Rp 50 ribu per bungkusya. Apalagi saat ini, di mana banyak sekali undangan untuk menghadiri hajatan. Seperti pernikahan dan khitanan, yang bertebaran di mana-mana. Entah teman yang menikah, teman yang nyunatke anaknya, semua tumplek jadi satu di bulan besar saat ini. Katanya, bulan yang disebut besar, adalah bulan yang cocok untuk melaksanakan kegiatan yang baik juga.

Kebiasaan mendatangi sebuah hajatan, disebut dengan ”nyumbang” atau ”kondangan”. Tapi, orang Jepara atau wong Jeporo, punya istilahnya sendiri. Yakni ”buwoh” yang artinya juga sama dengan menyumbang. Mau acara kondangannya di rumah atau di gedung sekalipun, tetap saja sebutannya ”buwoh”. Sampai sekarang saya juga tidak paham, sebenarnya dari kata apa sebutan itu muncul. Beda dengan kata ”nyumbang” dari kata menyumbang, atau kondangan dari kata (menurut saya) mengundang atau diundang. Tapi ”buwoh”, entahlah. Besok saya cari tahu lagi bagaimana ceritanya.

Jika Anda hidup di Indonesia, memang sebuah dilema tersendiri saat menghadapi bulan besar seperti sekarang. Teman saya pernah cerita, sampai hari ini, dia sudah punya 10 list lokasi kondangan yang harus didatangi. Semua berasal dari teman-temannya yang dengan senang hati mengundangnya supaya datang ke acara mereka. Istilah kerennya ”nderek mangayubagyo”. Kenapa bisa banyak, karena teman saya itu bekerja di lingkungan pendidikan. Jadi guru, yang memang sangat banyak sekali temannya. Apalagi, dia mengajar tidak hanya di satu sekolah, tapi ada dua atau tiga sekolah. Belum lagi undangan dari tetangganya, temannya di luar sekolah dan tetangga. Kalau satu tempat saja amplopannya uang kertas yang merah atau minimal biru itu, wajar saja kalau dia bilang ”bisa minus aku bulan ini”. Apalagi dia bilang, itu belum termasuk jatah kondangan suaminya. Saya hanya bisa tersenyum mendengarnya.

Saya yakin bukan hanya teman saya saja yang mengalami hal itu. Anda-anda juga pasti merasakannya. Atau bahkan lebih merasakan dampakya secara lebih, dibandingkan teman saya itu. Karena itu, sesama ”penikmat penderita” dilarang saling mendahului. Setidaknya ambil saja hikmahnya. Bahwa selama kita menghadiri undangan teman-teman kita tadi, berarti kita berhasil mengamankan jatah makan siang kita. Tidak perlu pusing kalau harus mencari makan. Dijamin enak lagi. Berkah yang harus disyukuri, kan. Karena suatu saat kita juga akan melakukan hal yang sama. Membuat pusing orang lain, karena kita mengundangnya ke hajatan kita. Nah, cukup fair kan. Jadi, telan saja semua galau dan pusing itu.

Tapi, persoalan ”buwoh” ini akan menjadi sedikit lain di Kabupaten Jepara. Sebuah daerah yang, kalau Anda belum tahu, belum terbiasa untuk nyumbang dalam bentuk nominal uang. Orang Jepara punya adatnya sendiri dalam menyumbang. Meski sedikit banyak sudah ada yang mulai menyumbang dalam bentuk uang, namun sebagian besar masih bertahan dengan kebiasaan lama. Ini yang membedakan Jepara dengan lainnya.

Di wilayah yang sebentar lagi bakal memilih pemimpin barunya itu, kebiasaan nyumbangnya memang unik. Karena sebagian besar hajatan dilaksanakan di rumah, maka menyumbangnya juga ala rumahan. Dalam artian, yang dibawa untuk buwoh adalah barang-barang yang identik dengan isi rumah. Misalnya beras, gula, mie instant, dan beberapa macam barang kebutuhan rumah tangga lainnya. Sehingga dari setiap rumah pelaku hajatan di Jepara, akan ada tumpukan karung-karung yang isinya barang-barang sumbangan tersebut. Dan setelahnya, atau setelah hajatan selesai, akan banyak bakul-bakul yang siap menampung barang-barang tersebut untuk dibeli. Tentunya dengan harga yang berbeda dari harga pasar.

Buwoh model di atas adalah buwoh yang dijalankan kaum ibu di jepara. Dan mungkin masih ada juga di daerah-daerah lain di sekitarnya yang melaksanakan kebiasaan ini. Terutama di wilayah pedesaan. Yang sangat berbeda barangkali adalah saat yang buwoh itu adalah kaum bapak-bapak atau laki-lakinya. Cerita di Jepara, sangat berbeda dengan daerah lainnya. Bahkan sangat khas, sehingga menjadikan perusahaan-perusahaan rokok yang ada di wilayah ini.

Model atau kebiasaan bapak-bapak di wilayah Jepara, buwoh-annya tentu saja beda. Yakni buwoh rokok. Tepatnya satu press rokok. Yang di dalamnya ada sepuluh bungkus rokok. Sudah menjadi kebiasaan dari para lelaki di Jepara, jika mereka menyumbang rokok kepada yang punya hajat. Entah bagaimana pula asal muasalnya, sampai kemudian bapak-bapak di Jepara itu, kalau menyumbang haruslah menenteng rokok. Paling sedikit memang satu press. Tapi kalau Anda dan yang punya hajat adalah orang dekat, maka bisa dua atau tiga press yang diberikan.

Nah, sekarang coba bayangkan jika seandainya pemerintah memutuskan kalau harga rokok itu Rp 50 ribu satu bungkusnya. Hitung saja harga satu press-nya. Jika satu press isinya 10 bungkus, maka harganya menjadi Rp 500 ribu. Itu kalau Anda hanya menyumbang satu press saja. Lah, kalau Anda teman dekat tadi, maka sedikitnya dua press akan diberikan. Artinya, Anda keluar uang Rp 1 juta untuk dua press rokok yang Anda sumbangkan. Apa tidak semakin minus kalau dalam bulan besar ini ada sepuluh kali undangan yang datang. Saya tidak mau menghitung kelipatannya. Lebih baik tidak usah saja.

Beruntung, nasib warga Jepara itu masih terselamatkan. Setidaknya sekarang ini, di mana harga rokok masih dalam kisaran yang bisa dijangkau. Meski hari demi hari, harganya juga naik, seiring dengan kenaikan cukai, namun lumayanlah karena untuk urusan nyumbang pada bulan besar tahun ini, sepertinya harga satu press rokok masihlah bisa diterima dengan akal. Sehingga urusan buwoh dan buwoh ini, kita tetap dalam koridor baik-baik saja.

Itu sekarang. Apa yang terjadi di masa mendatang, kita juga tidak tahu. Hanya saja, ancaman kenaikan harga rokok itu bukanlah ancaman belaka. Namun, suatu saat akan kita rasakan juga. Entah kapannya, namun ada baiknya kita bersiap-siap merencanakan mulai sekarang, apa yang harus kita lakukan jika suatu saat nanti, harga rokok benar-benar mencapai angka segitu.

Suatu saat nanti, rokok akan menjadi barang yang sangat eksklusif. Dengan harga yang ”eksklusif” pula. Orang-orang tentu saja akan disebut kaum ”eksklusif” jika mampu membelinya. Ini akan menjadi satu kebanggaan tersendiri jika bisa memberikan hadiah rokok kepada orang lain, yang pastinya akan memberikan tatapan berbinar-binar saat menerimanya. Dan sebagaimana tipikal warga Indonesia, semakin eksklusif sesuatu, maka dia akan semakin diburu. Tidak ada kata menyerah untuk bisa mendapatkan benda itu. Sehingga, saya yakin jika pabrik rokok juga akan tetap berdiri, untuk melayani orang-orang yang memang akan merindukan sesuatu yang antimainstream.

Lantas, bagaimana dengan tradisi atau budaya buwoh rokok saat ada hajatan? Saya yakin juga akan tetap berjalan sebagaimana biasanya. Hanya saja, kembali kepada eksklusivitas tadi, maka yang memberi akan mendapatkan gengsi yang tinggi karena bisa menghadiahkan sesuatu yang mahal kepada yang punya hajat. Dan ini adalah hal yang sangat disukai bangsa Indonesia. Bisa merasa bangga memberikan sesuatu yang tidak biasa, akan membawanya pada puncak kebanggaan diri yang luar biasa. Nah, kan. Tradisi ini tidak akan bisa berhenti begitu saja. Jadi, jangan khawatir akan keberlangsungan kehidupan rokok dan merokok di masa mendatangnya. Karena masih banyak orang yang akan ”membela” sebuah tradisi itu sendiri.

Namun, orang Indonesia adalah orang yang sangat bisa menyesuaikan diri. Dipaksa menderita bagaimanapun, dia akan tetap bertahan. Daya juang orang Indonesia itu luar biasa. Jika memang tidak terjangkau untuk buwoh dengan membawa rokok, maka masih ada cara-cara lain yang lantas dilakukan. Sehingga semua akan baik-baik, karena ada jalannya yang akan muncul sendiri dari usaha yang dilaksanakan.

Dan salah satu yang sudah dilaksanakan teman saya saat ini, adalah merokok dengan cara tingwe alias nglinting dewe. Bukan karena tidak bisa membeli rokok, namun dia mengatakan, cara ini akan membiasakannya nanti jika rokok benar-benar mahal. Yang jelas, katanya, saya belum ingin berhenti merokok. (*)

Komentar

komentar



    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Asyiknya Nge-Jazz Sambil Berkubang Lumpur

Selengkapnya →