Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

Mimpi, Ridwan Kamil, dan Gaya Orang Tua



Reporter:    /  @ 12:01:21  /  15 September 2016

    Print       Email
Siti Merie merqi194@yahoo.com

Siti Merie [email protected]

SUDAH membaca sebuah tulisan di kompasiana yang berjudul ”Kang Mus, Bupati Kudus yang Bermimpi Jadi Presiden”? Sebuah tulisan milik akun Haikam Albana, soal bagaimana seorang Bupati Kudus Musthofa mencoba ”merintis” jalannya untuk mengejar mimpi menjadi presiden.

Kalau isi tulisannya membuat Anda berdecak, entah kagum atau prihatin, tidak usahlah dibahas. Sebagaimana aturan kompasiana, bahwa karena media warga, maka setiap konten adalah dibuat oleh dan menjadi tanggung jawab dari penulisnya. Penulisnya sah-sah saja untuk menulis apapun yang ada di pikirannya terkait dengan mimpinya Kang Musthofa tadi.

Rasanya bukan hanya Kang Mushofa saja yang punya mimpi jadi presiden. Setiap orang juga punya. Bahkan mimpi juga bisa dijual. Tengok saja film Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan deretan film-film penuh motivasi lainnya. Semuanya dibangun di atas mimpi. Orang mimpinya pasti macam-macam. Dari yang benar-benar masih bisa dijangkau akal, sampai yang kemudian terlihat seperti mustahil didapatkan.

Dari tulisan Kang Haikam Albana (kita anggap saja dia laki-laki, red), memperlihatkan jika dia tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya Kang Mus benar-benar jadi presiden. Katanya, kira-kira negara ini akan seperti apa kalau itu terjadi. Dia saja tidak berani membayangkan, yang berarti memang dia sedikit berharap semoga mimpi Kang Mu situ tidak benar-benar jadi kenyataan. Kang Haikam Albana mungkin tidak ingin bermimpi memiliki presiden seperti Kang Mus.

Namun, dari tulisan tersebut, juga bisa terlihat bagaimana seseorang memimpikan pemimpinnya. Pemimpin yang tentu saja bukan sebagaimana tulisan Kang Haikam tadi. Melainkan pemimpin yang benar-benar bekerja untuk rakyatnya. Mengabdi kepada kepentingan rakyatnya, bukan pada kepentingan pribadinya sendiri. Dan ini adalah impian wajar hampir seluruh manusia di dunia. Tidak saja di Amerika Serikat yang juga rakyatnya sebentar lagi akan memilih presidennya, tetapi juga sampai ke skala yang lebih kecil, para pemimpin-pemimpin kecil yang di daerah, yang dipilih lewat pilkada.

Di wilayah eks Karesidenan Pati ini, akan ada dua wilayah yang melaksanakan pilkada serentak. Yakni Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pati. Sebelumnya, juga sudah berlangsung untuk Kabupaten Rembang, Blora, dan Grobogan. Dan menghasilkan pemimpin atau bupati yang sudah kita ketahui bersama. Entah apakah kemudian para pemimpin yang jadi itu sudah sesuai impian Anda atau tidak, wallahualam.

Tiba-tiba saja ingatan saya berpindah ke Kota Kembang Bandung. Di sana ada sosok pemimpin yang kepopulerannya melebihi artis Indonesia. Namanya Ridwan Kamil, yang saat ini jabatannya adalah walikota Bandung. Tidak ada pemberitaan di media, khususnya lagi media online, yang tidak berisi aktivitas kegiatan yang bersangkutan. Kalau saya jadi bupati, saya pasti iri, cenderung meri melihat bagaimana ”sayangnya” media pada seorang Ridwan Kamil. Lah wong, foto bareng Ariel Noah yang penyanyi itu saja, bisa memicu lembaga seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk berkomentar. Apalagi aksi-aksi lainnya yang memang lebih banyak ditujukan untuk kepentingan warganya.

Memang mungkin ada yang membandingkan luasan Kota Bandung yang tidak seberapa itu, dengan wilayah kabupaten-kabupaten di pesisir pantura sini. Mungkin ada yang nyinyir bilang bahwa menata kota dengan luasan yang hanya kurang lebih 167,7 kilometer persegi, akan lebih mudah daripada mengurus Kabupaten Jepara yang luasannya 27.263 kilometer persegi. Atau Kabupaten Pati yang punya luas 1.489 kilomenter persegi. Mungkin masih ada yang berpikir begitu.

Namun, yang membedakan Ridwan Kamil dengan pemimpin lainnya, adalah bagaimana inovasi-inovasi yang terus saja dia lakukan. Sekecil apapun itu, inovasi tersebut bertujuan untuk kepentingan warganya secara luas di masa yang akan datang. Bahkan, Ridwan Kamil tidak pernah lupa untuk melibatkan warganya sendiri, guna mencari inovasi dan gagasan-gagasan terbaru dari mereka. Sebagaimana yang pernah disampaikan pada saat menjadi mentor di sekolah pemimpin milik PDIP, bahwa jangan pernah meremehkan gagasan publik, dan libatkan masyarakat dalam membangun.

Ada lagi yang membuat Ridwan Kamil begitu diapresiasi warganya. Bagaimana yang bersangkutan seolah tidak berjarak dengan semua orang. Semua orang bisa berinteraksi dengannya, baik langsung maupun tidak langsung. Itu dibangun melalui media-media sosial yang dimilikinya. Bahkan, orang yang sedang patah hati sekalipun, bisa curhat di akun medsos Ridwan Kamil. Dan semua ditanggapi dengan baik. Setiap dia melontarkan status atau ciutan, ratusan ribu orang yang menanggapinya, dan puluhan kali membagikannya. Gayanya yang gaul abis (kata anak muda sekarang) itu, membuat semua orang merasa nyaman memiliki pemimpin yang seperti ini. Warga juga dimotivasi untuk bisa lebih maju lagi.

Gaya. Ya, persoalan gaya inilah yang masih kita lihat belum diperlihatkan benar oleh pemimpin-pemimpin di wilayah Pegunungan Muria ini. Rasanya, susah menemukan pemimpin yang bisa mengerti bahwa jaman seperti sekarang, membutuhkan pemimpin yang gaul dan antimainstream. Gaya-gaya yang diperlihatkan masih gaya ”orang tua”. Terlihat berwibawa dan disegani, dengan tampang muka yang datar-datar saja. Dalam pembangunan, prioritasnya juga masih sebatas fisik semata. Asal jalannya sudah bagus, cukuplah membuat warga tidak marah. Ibaratnya seperti itu. Padahal, kita perlu diberikan wajah-wajah segar yang kaya ide dan gagasan serta inovasi, supaya daerah yang dipimpin bisa lebih enak dipandang.

Ah, barangkali untuk memiliki pemimpin yang seperti Ridwan Kamil, atau bahkan seperti Walikota Surabaya Risma yang juga penuh inovasi, di wilayah Muria ini, masihlah sebatas mimpi. Yang entah kapan bisa terwujud dan terjadi. Karena menilik para pemimpin yang sudah jadi, dan calon-calon pemimpin yang akan maju nanti, gayanya juga masih gaya-gaya ”orang tua”. Rasanya menumbuhkan budaya ”meri” pada kesuksesan orang lain dan bertekad untuk membuat hal yang lebih, memang masih sulit diterapkan. Sesuatu yang ”menyegarkan” itu masih belum akan kelihatan.

Terakhir, saya kutipkan status dari akun Instagram milik Ridwan Kamil, bagaimana bisa sukses jadi pemenang di masa depan. Nomor enam menunjukkan bagaimana gaulnya pria satu ini. Ridwan menyebut, ”di #Supermentor14 . Jika ingin jadi pemenang masa depan, milikilah 6. nilai ini: 1. Innovative 2. Change Maker 3. Man of value 4. Strong will 5. Risk Taker. 6. Didoain Chelsea Islan. Insya Allah selamat sampai tujuan,”. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →