Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

Mungkinkah Kereta Api Kembali ke Pati?



Reporter:    /  @ 11:44:51  /  13 September 2016

    Print       Email
Ali Muntoha   fadhilmuntoha@gmail.com

Ali Muntoha
[email protected]

JUWANA merupakan sebuah kecamatan di kawasan pesisir pantai yang ada di Kabupaten Pati. Daerah ini di zaman kolonial, menjadi penyangga ekonomi yang sangat kuat untuk daerah-daerah di sekitarnya. Pelabuhan Juwana, menjadi pelabuhan utama yang menjadi tempat bersandar kapal-kapal dagang besar.

Bahkan saking istimewanya daerah ini, perusahaan kereta api Belanda, menggunakan nama daerah ini untuk nama perusahaanya, yakni  Semarang Joana Stroomtram Maatschappij (SJS). Kata Joana ini yang kini menjadi Juwana.

Perusahaan operator kereta api ini merupakan perusahaan swasta, bukan milik pemerintah. Kalau zaman sekarang SJS ini seperti perusahaan otobus (PO), yang dimiliki swasta. Dan memang di era Belanda, pihak swasta memang diberi izin untuk mengelola jalur kereta api. Selain SJS kala itu juga ada Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS).

SJS mengelola jalur kereta api yang cukup panjang, mulai dari Semarang hingga Rembang, dengan stasiun utama di kawasan Jurnatan Semarang. Bahkan saking istimewanya Juwana, SJS juga membangun jalur kereta dari stasiun Juwana hingga ke pelabuhan.

Saat itu kereta yang digunakan bukanlah kereta cepat, melainkan kereta bergandar rendah dengan kecepatan maksimal 50 kilometer per jam. Pada pemerintahan Hindia Belanda, jalur KA tersebut tidak hanya mengangkut orang, tapi juga untuk mendukung peningkatan sektor ekonomi. Mulai dari komoditas pertanian, kayu jati, karung goni, ataupun gula. Apalagi kawasan Pati dan sekitarnya sejak dulu sudah dikenal sebagi produsen gula yang cukup besar.

Pada saat itu, pamor kereta api memang lagi top. Oleh karenananya, SJS setelah membangun jalur Semarang-Genuk-Demak-Kudus-Pati-Joana, pada 5 Mei 1895 perusahaan tersebut menambah jalur Kudus-Mayong-Pecangaan. Kemudian pada 1 Mei 1900, SJS menambah jalur kereta api hingga mencapai Rembang dan Lasem. Pada tahun itu juga, 10 November SJS membuka jalur baru lagi yang melayani rute Mayong-Welahan.

Pada zaman kemerdekaan, seiring menggeloranya semangat menasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda, maskai SJS pun akhirnya dilebur menjadi Djawatan Kereta Api (DKA), yang kini berubah menjadi PT Kereta Api Indonesia. Jalur Semarang-Rembang ini berada di wilayah Daerah Operasional (Daop) IV Semarang.

Lambat laun popularitas kereta api semakin memudar. Dengan gencarnya pembangunan infrastruktur jalan, dan masuknya mobil-mobil dari Jepang dan negara-negara lain, kereta api semakin ditinggalkan, hingga akhirnya jalur Semarang-Juwana-Rembang ini pun ditutup.

Namun belakangan ini muncul rencana dari pemerintah untuk kembali mengaktifkan (re-aktifasi) jalur-jalur kereta mati yang ada di Jawa Tengah, termasuk jalur yang dulu miliknya SJS. Rencana ini masuk dalam desain masterplan dokumen perkeretaapian Indonesia 2005-2030.

Di Jawa Tengah ada 455 kilometer jalur KA yang mangkrak dari Semarang hingga Bojonegoro. Disebut-sebut jika jalur ini kembali diaktifkan akan mampu membangkitkan kegiatan ekonomi masyarakat.

Memang bukanlah hal yang mudah untuk kembali mengaktifkan jalur kereta api ini. Karena nanti akan menemui berbagai tantangan, mulai dari persaingan dengan moda transportasi lain, hingga harus gusur-gusur bangunan. Bagaimana tidak, sebagian besar jalur-jalur rel itu kini telah hilang bahkan sudah beralih fungsi menjadi berbagai macam. Aset-aset milik PT KAI kini juga banyak yang sudah dikepung bangunan-bangunan penduduk.

Jejak jalur kereta api ini masih bisa kita jumpai di beberapa tempat. Di Kudus, bangunan yang dulu digunakan untuk stasiun, kini telah beralih fungsi menjadi Pasar Wergu. Ketika kereta masih beroperasi, stasiun Kudus merupakan stasiun percabangan. Kalau ke timur menuju Pati, ke barat menuju Demak, dan ke utara menuju Mayong.

Di Kabupaten Pati, jejak-jejak jalur kereta api juga masih banyak ditemui. Sebagian besar memang sudah beralih fungsi, dan banyak rel yang hilang. Entah dicuri untuk dijadikan rongsok atau faktor lainnya. Sisa-sisa rel masih bias ditemui di sepanjang jalan raya Pati-Kudus, termasuk beberapa bekas rambu sinyal.

Di Margorejo masih terdapat sinyal masuk, dan di samping gudang pupuk Pusri masih ada plang semboyan 35 dan beberapa sinyal lainnya. Di kawasan Puri, bangunan yang dulu menjadi stasiun telah banyak berubah fungsi, mulai dari warung-warung bahkan dulu juga ada tempat karaoke di kawasan itu. Lahan di kompleks itu hingga saat ini masih dikuasai PT KAI. Di Juwana atau Joana kala itu, adalah stasiun akhir di awal perusahaan SJS beroperasi. Stasiun ini tak jauh dari Alun-alun Juwana. Sisa-sisa bangunan stasiun masih bisa dilihat hingga saat ini.

Untuk menghidupkan kembali jalur ini memang bukanlah hal yang mudah, namun bukan tidak mungkin. Apalagi proyek reaktifasi jalur mati kini juga sudah mulai dilakukan yakni jalur Kedungjati-Tuntang. Pemerintah melalui Direktorat Perkeretaapian Kementerian Perhubungan bahkan sudah menargetkan, jalur kereta api di jalur pantura timur ini akan bisa mulai diaktifkan antara 2019-2020 mendatang.

Jika benar-benar bisa terelisasi, jalur kereta api mati yang dihidupkan kembali ini akan menjadi jawaban dari peliknya masalah angkutan barang di pantura. Potensinya juga sangat besar, karena selain untuk mengangkut penumpang, kereta api ini nantinya bisa mengurangi beban jalan dengan perpindahan angkutan berbasis jalan raya ke angkutan kereta api.

Apalagi idustri di kawasan Kudus, Pati dan Rembang semakin besar, mulai dari pabrik-pabrik gula, hingga yang terbaru bakal beroperasinya pabrik Semen Indonesia di Rembang, dan bakal dibangunnya pabrik semen di kawasan Pegunungan Kendeng Pati.

Dengan penggunaan angkutan kereta, maka masalah kemacetan jalan, kerusakan jalan akibat overtonase akan bisa dipecahkan. Sehingga proyek tahunan perbaikan jalan pantura yang menghabiskan dana triliunan rupiah, juga bisa ditekan dan dialihkan ke bidang lain yang lebih mendesak, seperti pendidikan dan kesehatan. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →