Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

Kenapa Harus Saiful Arifin?



   /  @ 10:00:00  /  12 September 2016

    Print       Email
kholis-e

Kholistiono [email protected]

BEBERAPA hari lalu, masyarakat Pati dihebohkan dengan adanya aksi teror berupa kotak, yang awalnya isinya diduga bom. Sontak, barang yang diletakkan di dua tempat, yakni di depan gedung DPRD Pati dan depan Rumah Dinas Sekda Pati, membuat pihak kepolisian “dipaksa” bertindak cepat dan cekatan.

Bahkan, gara-gara dua kotak yang isinya ternyata bangkai kepala binatang dan selebaran berisi kampanye hitam yang ditujukan kepada Saiful Arifin, salah satu bakal calon wakil bupati itu, membuat Tim Gegana dari Brimobda Jateng harus turun tangan ke Pati untuk memastikan isi dua kotak tersebut.

Tak cukup sampai di situ, pihak kepolisian juga harus menutup beberapa jalur yang menuju dua tempat tersebut hingga beberapa jam. Masyarakat pun dibuat cemas dengan aksi teror yang dilakukan oknum tak bertanggung jawab ini.

Aksi teror yang secara kasat mata dialamatkan kepada Saiful Arifin ini sebenarnya bukan kali pertama. Beberapa waktu sebelumnya,Saiful Arifin juga pernah beberapa kali mendapatkan serangan-serangan melalui poster yang berisi ujaran kebencian untuk menjatuhkan dirinya. Namun demikian, aksi teror berupa kotak yang awalnya diduga bom tersebut memang yang paling menghebohkan, karena, berimbas secara luas terhadap masyarakat. Masyarakat telah dibuat cemas.

Dari beberapa rentetan peristiwa teror terhadap Saiful Arifin tersebut, ada yang cukup menarik untuk didiskusikan. Kemudian muncul pertanyaan, kenapa harus Saiful Arifin yang secara bertubi-tubi mendapat serangan teror?

Diakui atau tidak, aksi-aksi ini tak lepas dari perhelatan pesta demokrasi berupa pemilihan kepala daerah (Pilkada) Pati 2017. Meski belum ditetapkan sebagai calon wakil bupati oleh KPU, namun, Saiful Arifin kini sudah memiliki kans kuat untuk mendampingi Haryanto yang merupakan petahana untuk bertarung pada pilkada nanti.

Beberapa partai pun secara terang-terangan sudah mengambil sikap untuk mengusung Haryanto-Saiful Arifin, sebagai Calon Bupati dan Wakil Bupati Pati. Di antaranya, Golkar, Hanura, PPP, PKS dan Gerindra. Terbaru, Partai Demokrat, secara resmi sudah melakukan penandatanganan kontrak politik bersama Haryanto-Arifin pada Pilkada Pati 2017.

Dalam percaturan politik, Saiful Arifin, sejauh ini bisa dikatakan sebagai pemenang di antara bakal calon wakil bupati lainnya. Apakah itu yang namanya sudah muncul di permukaan atau masih belum secara terang-terangan menampakkan diri.

Sengaja saya menyebut Saiful Arifin saat ini sudah menjadi pemenang. Alasannya, Saiful Arifin mampu merebut hati Haryanto ataupun partai untuk mendampingi Haryanto di Pilkada Pati. Disadari atau tidak, posisi nomor dua untuk Pilkada Pati kali ini justru menjadi magnet untuk diperebutkan bakal calon. Sebab, bakal calon nomor satu yang sudah muncul dan sangat diperhitungkan baru ada satu orang, yakni Haryanto. Bukan bermaksud untuk mengecilkan bakal calon lain, namun demikian, kekuatan Haryanto sebagai petahana memiliki daya tawar tinggi untuk Pilkada 2017. Terbukti, beberapa partai sudah merapat ke dirinya.

Rival terberat yang disebut-sebut bisa menjadi lawan dalam pertarungan politik pada pilkada ini adalah Budiono, yang kini menjabat sebagai Wakil Bupati Pati. Namun demikian, hingga kini pergerakan Budiono tidak seintens Haryanto, meski beberapa waktu lalu juga sudah mendaftarkan diri sebagai bakal calon di PDI Perjuangan.  Tapi publik tetap bertanya keseriusan dari Budiono, apakah memang bakal maju atau tidak di pilkada nanti. Sampai saat ini, partai pun belum ada mengambil sikap resmi untuk mengusung Budiono. Sebaliknya, sinyal positif sudah menghampiri Haryanto yang sudah siap diusung beberapa partai.

Praktis, jika berbicara saat ini, Pilkada Pati 2017 hanya terdapat satu calon bupati. Hal inilah yang kemudian, justru posisi calon wabup yang menjadi rebutan, bukan calon bupati. Melihat ini, pertarungan sengit sebenarnya ada di perebutan untuk mendampingi Haryanto.Di luar nama Saiful Arifin, tidak menutup kemungkinan ada bakal calon lain yang memiliki ketertarikan untuk bisa bersanding dengan Haryanto.

Lagi-lagi, lalu kenapa Saiful Arifin yang beberapa kali harus mendapatkan serangan teror? Analisa saya, hal ini bisa dimungkinkan adanya persaingan politik untuk merebutkan posisi jadi pendamping Haryanto. Dengan upaya serangan-serangan black campaign, sosok Saiful Arifin akan terceriderai secara moral, sehingga masyarakat tak simpati lagi. Apalagi, sosok pengusaha muda ini, termasuk baru dalam dunia politik. Meskipun di belakang layar, bisa dimungkinkan memiliki pengalaman politik yang luar biasa. Dengan begitu, diharapkan Haryanto atau partai bisa mempertimbangkan kembali untuk tidak menggandeng Arifin, karena pertimbangan moral atau lainnya.

Sayangnya, jika serangan black campaign tersebut dilakukan oleh oknum yang bermaksud menjatuhkan Saiful Arifin, nampaknya,  hal itu tak sepenuhnya berhasil. Sebab, Haryanto sudah hampir dipastikan berpasangan dengan Arifin di Pilkada 2017 nanti.

Lalu kemudian, dari rentetan black campaign ini, apakah publik sepenuhnya meyakini jika hal itu dilakukan oknum yang selama ini memiliki ketidaksenangan terhadap sosok Saiful Arifin. Ataukah justru hal ini hanya sebuah opera politik untuk membangun image Saiful Arifin sebagai sosok yang terdzolimi? Atau ini sebagai cara untuk mengenalkan sosok Arifin ke publik? Dalam pertarungan politik, tidak ada yang tidak mungkin.

Namun begitu, kita tidak bisa menjustifikasi secara ngawur terhadap persoalan ini, sebelum ada bukti otentik. Musti ada persepsi yang komperehensif untuk menyikapi sebuah persoalan.

Tetapi, dari peristiwa-peristiwa itu, siapapun aktornya, tentunya tidak bisa ditolelir jika memang sudah menyangkut ketidaknyamanan dan mengganggu ketenteraman masyarakat.

Setidaknya, ada yang perlu disikapi untuk mengantisipasi teror berupa ujaran kebencian atau lainnya agar pesta demokrasi ini tidak menjadikan Pati sebagai daerah yang damai menjadi terusik, akibat pertarungan politik yang tidak sehat. Kedewasaan kandidat dan masyarakat juga diperlukan dalam pelaksanaan pilkada, agar tidak memicu konflik.

Pilkada sebagai salah bentuk nyata perwujudan demokrasi dalam pemerintahan di daerah seyogyanya seharusnya mencerminkan proses kematangan berdemokrasi.

Diperlukan upaya dan langkah ekstra oleh aparat keamanan, agar tidak muncul kembali teror-teror, baik itu ujaran kebencian ataupun lainnya. Penegakan hukum (law inforcement) harus dilakukan, untuk menimbulkan efek jera. Kasus-kasus, ujaran kebencian atau teror lainnya harus diproses hukum secara adil.

Peran pembinaan, komunikasi, dan koordinasi antaraparat pemerintah dan antara pemerintah dengan tokoh-tokoh masyarakat, adat, agama, politisi, termasuk kalangan akademisi, selayaknya juga dapat terjalin dengan erat.

Kemudian, perlu meyakinkan para peserta pilkada, bahwa praktik ujaran kebencian kepada bakal calon hanya akan meninggalkan problem jangka panjang. Dalam banyak kasus, cara-cara itu tak membuat kandidat menang, meski sebagian kasus menunjukkan sebaliknya. Praktik itu justru akan menjadi beban sejarah yang tak ringan dalam masa pemerintahan nanti, jika yang disebutkan itu benar.

Selanjutnya, memperkuat pengawasan melalui lembaga-lembaga resmi, seperti badan pengawas pilkada, maupun masyarakat umum, seperti tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Tak kalah penting adalah mengedapankan politik toleransi. Gerakan dan kesadaran mengedepankan politik toleransi harus diperkokoh. Politik yang berkeadaban harus mengedepankan penghargaan atas perbedaan. Dengan begitu kita bisa berharap, kelak visi toleransi menjadi salah satu ukuran dan standar penilaian memilih kepala daerah. Harapannya, pelaksanaan Pilkada Pati 2017 bisa berjalan dengan lancar tanpa diwarnai konflik kepentingan, yang bisa menimbulkan ketidakamanan daerah. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →