Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

Jadi, Kita Mau Ngopi di Mana Malam Ini?



Reporter:    /  @ 10:05:28  /  10 September 2016

    Print       Email
merie-1

Siti Merie [email protected]

”RANGGA, apa yang kamu lakukan ke saya itu, JAHAT!”.

Ini adalah kalimat galau dan baper terhebat negeri di negeri ini, selama tahun 2016. Ingat adegan itu diucapkan siapa, kan? Bayangan wajah nesunya Cinta saat mengucapkan kalimat itu ke Rangga, memang bisa membuat gregetan mereka yang sudah menonton Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2. Sebuah film yang sudah tembus lebih dari tiga juta penonton sepanjang diputar di bioskop Indonesia.

Yang menarik perhatian saya adalah lokasi di mana Cinta mengucapkan kata-kata yang sudah disimpannya selama 14 tahun itu kepada Rangga. Ya, dialog itu dibangun di sebuah kedai kopi bernama Sellie Coffee. Dan sekali lagi, kekuatan film ternyata mampu membuat lokasi-lokasi ini menjadi nge-hits sekarang. Dua kedai kopi di film AADC2, yakni Sellie Coffee dan Klinik Kopi, menjadi salah satu lokasi yang dituju wisatawan saat datang ke Yogyakarta. Melengkapi sejumlah lokasi syuting lainnya, yang juga tidak kalah tenar sekarang.

Entah ikut-ikutan apa bagaimana, kebiasaan ngopi ini lantas melampaui khittahnya. Generasi muda saat ini, laki-laki dan perempuan, sudah tercandu pada kebiasaan satu ini. Bukan sekadar untuk menghilangkan kantuk semata, namun lebih dari itu. Katanya, kalau belum ngopi belum keren. Membuat banyak kedai kopi menjamur di mana-mana. Dengan konsep yang semakin unik, semakin menarik. Semakin banyak pula ditemukan barista-barista (tukang bikin kopi, red) yang ganteng, dengan sedikit dandanan ala-ala anak metal, sudah sanggup bikin perempuan betah nongkrong di kedai kopi. Dan semakin educated sang barista, maka akan semakin membuat mulut menganga saking kagumnya.

Gaya hidup itu juga terasa pada mereka yang ada di bawah Pegunungan Muria, yang membentang dari Kabupaten Jepara, Kudus, dan Pati. Anak-anak mudanya tidak melewatkan satu malamnya, tanpa berkunjung ke kedai kopi yang ada. Meski terkadang juga banyak modus di sini. Misalnya beli secangkir kopi, namun bisa selama mungkin numpang wifi. Satu dari sekian banyak fasilitas yang disediakan pemilik kedai, supaya pelanggannya betah berlama-lama, dengan harapan akan ada repeat order selama nongkrong di sana.

Fenomena ini ditangkap dengan jeli oleh pemerintah pusat. Kementerian Perindustrian bahwa menargetkan agar konsumsi kopi di dalam negeri ini meningkat. Pasalnya, sebagai negara penghasil kopi, produk yang dikonsumsi di Indonesia baru sekitar 35%, dan sisanya dijual ke negara lain atau diekspor. Berdasarkan data yang ada, aat ini konsumsi kopi masyarakat Indonesia rata-rata baru mencapai 1,2 kilogram (kg) per kapita per tahunnya. Padahal Indonesia itu adalah ”penjual” atau pengekspor kopi ke berbagai negara. Tapi orang-orang yang ngopi masih kalah jauh dibandingkan negara-negara yang hanya bisa ”membeli” atau pengimpor kopi. Misalnya Amerika Serikat dengan 4,3 kg, Jepang 3,4 kg, Austria 7,6 kg, Belgia 8,0 kg, Norwegia 10,6 kg, dan Finlandia 11,4 kg. Itu sebabnya, pemerintah berharap Anda sebagai warga negara bisa ngopi sebanyak-banyaknya dan sepuas-puasnya. Supaya membantu para produsen kopi yang ada di Nusantara ini. Keren, bukan?

Lebih keren lagi kalau kemudian kalian tahu bahwa di Semenanjung Muria ini, ada produksi kopi yang juga tidak kalah dengan tempat lainnya. Di Kabupaten Jepara, sebutannya adalah Kopi Tempur. Kemudian di Kabupaten Kudus, ada Kopi Colo, dan di Kabupaten Pati tentu saja ada Kopi Jolong. Masing-masing memiliki kekhasannya tersendiri. Namun saling melengkapi, karena berasal dari perut yang sama, yakni Pegunungan Muria. Coba sesekali tanya kepada barista di kedai kopi langganan Anda, adakah kopi dari Muria yang kebanyakan adalah kopi robusta.

Tapi, bagaimanapun upaya pemerintah pusat untuk bisa meningkatkan konsumsi kopi bagi warganya, tidak akan bisa tercapai jika tidak dibantu dengan pemerintah daerah. Sejauh ini upaya untuk memperkenalkan kopi di kawasan Muria ini misalnya, belum terlihat nyata. Pemerintah daerah masih melihat bahwa yang penting kebun kopinya masih ada dan berbuah. Namun, sudahkah kemudian diikuti dengan langkah nyata untuk mempromosikannya? Sebuah tindakan penting untuk bisa makin membuat banyak orang memilih ngopi dengan kopi Muria.

Satu yang bisa dijadikan contoh adalah saat Pemerintah Kabupaten Pasuruan, terutama bupatinya, membuat sebuah kedai kopi. Lokasinya di pusat kekuasaan, yakni di pendapa kabupaten. Satu hal yang barangkali belum dicoba pemerintah lainnya. Mendekatkan kopi kepada puncak kekuasaan, adalah satu hal yang unik dan kreatif. Harapannya tentu saja sederhana, siapapun yang sedang berkunjung ke pendapa, akan mampir ke sana. Apalagi, tamu-tamu yang setiap hari datang ke kawasan itu, juga tidak sedikit. Entah kenapa pak bupati ini bisa berpikir begitu. Mungkin karena beliau suka ngopi, maka semakin tergerak untuk mengenalkan kopi dari Pasuruan. Atau bisa saja kemudian, dalam bayangan saya, siapapun tamu yang menghadap sang bupati akan ditanya begini ”Anda sudah ngopi tadi?”. Sebuah pertanyaan yang tentu saja menohok. Dengan begitu, mau tidak mau, suka tidak suka, sang tamu akan melipir dulu ke kedai kopi tersebut.

Penting memang membuat produksi kopi terus meningkat. Namun jika tidak diikuti dengan promosi dan pemasaran yang tepat, maka hasilnya juga akan susah didapat. Saya teringat perkataan petani kopi di Colo, Muria, Kudus. Usai dipanen, kopi-kopi tersebut memang sudah banyak yang menunggu. Namun mereka tidak tahu kemana kopi-kopi produksi mereka akan dibawa. Seolah setelah panen, kontak mereka dengan kopi-kopi itu hilang begitu saja. Entah dinamakan dengan kopi apa produksi mereka itu kemudian. Yang jelas, jejak Kopi Colo itu bisa kemana-mana dan di mana-mana. Ini adalah kejadian klasik yang dialami para petani kopi di wilayah ini. Sedikit berbeda dengan Kopi Jolong, yang memang sudah memiliki nama tersendiri karena dikelola dengan baik di bawah perusahaan negara.

Kabar sedikit baik juga datang dari Kopi Tempur di Jepara. Menurut klaim petani sekali produsennya, kopi ini semakin banyak diburu para pecinta kopi. Itu sebabnya, peningkatan permintaan dari kafe-kafe yang ada di Jawa Tengah, juga terus meningkat. Apalagi dengan harga yang masih murah. Karena masih mentah saja, masih pada kisaran Rp 45 ribu per kilogramnya. Bayangkan saja kalau kemudian sudah diolah. Sehingga mau tidak mau, petani di Tempur, terus mempertahankan lahan kopi mereka agar tetap rimbun dan lestari. Sehingga kualitas kopi produksinya juga akan terjaga.

Saya teringat apa yang dikatakan salah seorang rekan barista saya, sekaligus pemilik kedai di Kudus. Bahwa memang Kopi Tempur banyak yang mencari. Terkadang saat dia kulakan, tidak bisa mendapatkan sesuai dengan jumlah yang dia inginkan. Namun salutnya saya, edukasi mengenai Kopi Tempur ini, terus saja dia lakukan. Kepada mereka yang belum pernah merasakan Kopi Tempur, sebelum menyajikannya, sang barista selalu memberikan cerita mengenai kopi ini. Bagaimana kopi-kopi ini ditumbuhkan dari pohon-pohonnya di ketinggian lebih dari seribu meter di atas permukaan laut, kemudian dirawat sedemikian rupa, dan dipanen dengan khidmatnya. Dan terakhir, suguhan secangkir Kopi Tempur, mengakhiri penjelasan itu sendiri.

Sebuah cerita itu penting. Harusnya para pemimpin wilayah Muria ini, juga memiliki segudang cerita tentang apa yang akan dibuatnya untuk mempromosikan kopi-kopi mereka. Sambil ngopi bersama tentunya. Karena Pepeng, pemilik Klinik Kopi yang muncul di AADC2, berkata, ”kopi tanpa narasi, hanyalah air berwarna hitam”. Jadi, kita mau ngopi di mana malam ini? (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →