Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

September dan Memori Kelam Persijap



Reporter:    /  @ 10:18:25  /  9 September 2016

    Print       Email
Supriyadi terassupriyadi@gmail.com

Supriyadi
[email protected]

NAMA besar Persijap Jepara  memang sudah membumbung tinggi di dunia sepak bola Tanah Air. Tim kebanggaan wong Jepara itu sudah menapakkan prestasi apik di galeri sepak bola sejak promosi ke Liga Super Indonesia (ISL) tahun 2007 lalu.

Di tahun 2008, Persijap semakin diperhitungkan. Tim berjuluk Laskar Kalinyamat itu berhasil menduduki peringkat enam Liga Super Indonesia dan meraih peringkat empat besar di Copa Indonesia.

Tak hanya itu, Persijap bahkan menjadi satu-satunya wakil Jawa Tengah di ISL setelah PSIS Semarang didepak dari Liga Super Indonesia. Tim Mahesa Jenar (sebutan PSIS) itu, degradasi setelah menjadi juru kunci klasmen akhir Grup Barat ISL.

Hanya, apa hubungannya September dengan Persijap? Secara herarki, bulan September dengan Persijap memang tak ada hubungannya. Persijap sendiri lahir pada 11 April 1954. Tentu ini bukan tentang kelahiran. Jadi ada apa dengan bulan September dengan Persijap? Mari kita lihat.

Bagi para pencinta sepak bola, terutama Barisan Suporter Persijap Sejati (Banaspati) dan Jepara Tifosi Mania (Jetman) tentu masih ingat betul kapan Persijap melakukan laga terakhir di  ISL.

Kala itu, Persijap dibantai habis-habisan dan dipermalukan di kandang sendiri dengan delapan gol tanpa balas. Arema Cronous yang menjadi algojo seakan menunjukkan perbedaan kelas dan membuat suara ribuan suporter terbungkam.

Nyanyian kemenangan yang biasa dikumandangkan di Stadion Gelora Bumi Kartini pun langsung musnah. Hampir semua pemain, terutama sang kapten Evaldo Silva tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Itu terlihat jelas dari matanya yang berkaca-kaca. Terutama, saat ia dan pemain persijap mengucapkan salam kepada suporter dengan berbaris di hadapan ribuan suporter.

Ya, suasana haru itu terjadi pada September 2014 lalu. Tepatnya pada tanggal 5 atau empat hari sebelum Hari Olahraga Nasional (Haornas).

Kala itu, Persijap memang dirundung masalah luar dalam selama liga. Dari segi finansial, manajemen sudah tertatih-tatih. Ditambah lagi, delapan pemain hengkang meninggalkan Laskar Kalinyamat.

Sementara Arema Cronous yang menjadi lawan sedang dalam kondisi prima. Selain menjadi pemuncak klasemen Wilayah Barat, mereka juga didukung keuangan dan pemain berkelas. Atas dasar itu, para suporter pun bisa memaklumi. Mereka pun tetap menyemangati Persijap untuk tetap berlaga, walaupun di Divisi Utama.

Persijap akhirnya melakoni laga di kasta kedua sepak bola Tanah  Air dengan legawa. Ditahun pertama, Persijap langsung diperhitungkan oleh kontestan Divisi Utama. Maklum saja, nama besar Persijap memang sudah tak diragukan lagi. Mereka pun bermain apik, dan berhasil masuk lima besar.

Hanya, di akhir perjalanan, Badan Liga ada gejolak. Mulai dari sepak bola gajah hingga kurangnya transparansi anggaran oleh penyelenggara membuat FIFA turun tangan. Selain itu, ada gap dari PSSI dan Kemenpora. Akhirnya Liga bubar. Mau tidak mau liga terhenti. Itupun terjadi pada bulan September.

Setelah kompetisi mandek, angin segar muncul dari kompetisi Indonesia Soccer League (ISC) di awal tahun 2016. Kompetisi ini sengaja dibuat hampir mirip dengan sistem ISL. Yakni terdiri dari dua kasta, ISC seri B dan ISC. Untuk ISC Seri B, para kontestan yang bermain di Divisi Utama. Sedangkan ISC berisi tim yang berada di ISL.

Mereka pun menganut sistem promosi. Mereka yang berhasil menjadi juara berhak masuk ke ISC. Sementara yang berada di dasar klasemen ISC harus turun ke ISC seri B (degradasi). Tapi degradasi tak berlaku di ISC seri B.

Persijap berlaga di ISC seri B di Grup IV bersama PSIS, Persipur Purwodadi, PPSM Magelang,PSIM Jogja, PSIR dan beberapa tim lain langsung tancap gas. Para pemain muda Persijap sudah disiapkan.

Namun, Dewi Fortuna tak berpihak pada Persijap. Laskar Kalinyamat gagal melaju ke babak 18 Besar ISC seri B secara dramatis setelah PSIM Yogyakarta menang WO dari PPSM Sakti Magelang. Padahal kala itu Persijap tengah menunggu hasil laga. Ini lantaran Persijap bersaing ketat dengan PSIM. Jika PSIM kalah, Persijap bisa melaju ke Babak 18 Besar.

Entah kebetulan atau tidak, momen menjengkelkan itu terjadi pada bulan September. Hanya kali ini bukan tanggal 5 September (saat Persijap didepak dari ISL), melainkan pada 6 September.

Padahal, Persijap mulai membuat sekema baru. Mereka baru saja mulai mengatur finansial untuk laga lanjutan. Buktinya, CEO Persijap M Said Basalamah menyerahkan 60 persen saham Persijap ke Esti Puji Lestari yang merupakan penyokong Persijap untuk menambah kepercayaan.

Di sisi lain, kegagalan Persijap ke Babak 18 Besar membuat M Said Basalamah berfikir realistis. Ia pun berdalih ada hikmah dibalik kegagalan tersebut. Salah satunya dengan menyiapkan tim untuk menyongsong perhelatan Divisi Utama dari Liga Indonesia. Apalagi, Kemenpora dan PSIS dikabarkan sudah islah dan siap menggulirkan liga kembali.

Semoga saja Persijap bisa lolos dan kembali promosi ke ISL lagi ya pak. Dan tidak tidak terhenti di bulan September. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →